Pengusaha Enggan Bangun Industri Hilir karena Energi Terbatas
Rabu, 6 Juni 2012 | 10:37
Tambang Batubara [google] [JAKARTA] Pengusaha Indonesia sebenarnya sudah siap dan
berkeinginan membangun industri hilir di Indonesia. Tetapi yang selalu menjadi
permasalahan adalah kekurangan energi baik energi primer seperti bahan bakar
minyak (BBM), gas dan batubara, dan juga energi sekunder seperti listrik.
Demikian dikatakan Ketua Komite Tetap Kadin Indonesia, bidang
Sepatu dan Tekstil, Ade Sudrajat, dan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang
Perdagangan, Distribusi dan Logistik, Natsir Mansyur, secara terpisah kepada
Rabu (6/6) pagi.
Mereka mengatakan seperti itu sehubungan dengan pernyataan
pengusaha Indonesia, Chairul Tanjung, bahwa sudah saatnya Indonesia membangun
industri hilir.
Ade mengatakan, keberadaan BP Migas sampai saat ini membuat
ketersediaan energi memadai tetapi justru menjadi masalah. “Di sana banyak
mafia,” kata dia.
Petronas, kata dia, awalnya belajar sama Pertamina soal energi.
Kini Petronas berkembang pesat tetapi Pertamina justru terus mengklaim rugi.
“Kenapa ya ? Yak karena di sana sarang mafia. Oleh karena itu pemerintah
seharusnya tegas,” kata dia.
Sudah energi sekunder (listrik) seperti itu, tegas Ade, energi
primer seperti gas, batubara malah bukan digunakan untuk kebutuhan dalam negeri
malah banyak diekspor. “Saya bingung dengan pemerintah ini,” kata dia.
Ade sepakat sudah saatnya Indonesia membangun industri hilir di
semua bidang seperti pertanian, perkebunan, perikanan dan tambang. Hal lain
yang penting untuk mendukung pembangunan industri hilir, kata Ade, adalah
pembangunan infrastruktur.
Sedangkan Natsir mengatakan, belum dibangunnya industri hilir di
Indonesia karena tidak adanya niat baik pemerintah. Sebagai contoh, kata dia,
belum lama ini sebanyak 150 perusahaan mengajukan permohonan ke Kementerian
ESDM untuk membangun industri pengolahan hasil tambang (semester) Namun, yang
terjadi malah pemerintah ragu dan curiga terhadap 150 perusahaan ini.
“Ya, kalau begini, niat baik pengusaha jadi kendur,” kata dia.
Ia mengatakan, rencananya 150 perusahaan yang dimaksud akan
membangun industri hilir pertambangan di sejumlah daerah di Indonesia.
Ade Sudrajat, ketika ditanya mengenai banyaknya barang impor di
Indonesia, mengatakan, orang Indonesia terutama pemerintahnya seperti orang
kaya baru (OKB). Tidak ada beras impor. Tidak ada kentang impor, dan
sebagainya.
Seharusnya, kata dia, berdayakan semua yang ada di dalam negeri,
seeprti beras tidak tak perlu impor. Biji besi juga demikian. “Kita kelola saja
sendiri, kita tanam sendiri,” kata dia. [E-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
