Pemerintah Sepakat Turunkan BM Kedelai
Jumat, 27 Juli 2012 | 5:00
Harga kedelai naik memicu perajin tempe dan tahu di Jabodetabek melakukan aksi mogok [SP/Adi Marsiela] [JAKARTA]
Pemerintah sepakat untuk menurunkan bea masuk impor kedelai dari
5% menjadi 0% hingga bulan Desember 2012. Hal itu dilakukan untuk
meredam kenaikan harga kedelai di dalam negeri.
“Kebijakan
ini sifatnya jangka pendek dan sementara, dan ini harus diupayakan
dengan penyesuaian konsumsi, mengingat kenaikan harga internasional yang
sudah cukup tinggi,”
kata Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, Kamis (26/7).
Ia
mengatakan seperti itu untuk memberikan tanggapan mengenai dampak
kenaikan harga kedelai yang signifikan di tingkat internasional.
“Kenaikan tersebut sangat mempengaruhi harga
kedelai dalam negeri karena 70% kebutuhan kedelai dalam negeri dipenuhi
dari kedelai impor,”
katanya.
Adapun
kenaikan harga internasional, kata dia, disebabkan karena anomali cuaca
yang terjadi di Amerika Serikat dan Amerika Selatan (Brasil dan
Argentina). Anomali cuaca
ini tidak hanya berdampak terhadap pasokan tetapi juga harga.
Ia
mengatakan, selain menurunkan bea masuk, langkah jangka pendek lainnya
yang diambil pemerintah adalah memfasilitasi Koperasi Tahu Tempe
Indonesia (Kopti) untuk dapat
melakukan importasi sendiri, termasuk juga kemungkinan kerjasama dengan
Bulog.
Sementara
itu untuk jangka panjang, Gita menilai Pemerintah harus menetapkan
peningkatan produksi sebagai prioritas utama dalam rangka menjaga
stabilitas pasokan dan
harga di tingkat para perajin tahu-tempe.
Gita
menjelaskan, upaya pemenuhan kebutuhan kedelai di dalam negeri sudah
diantisipasi Pemerintah melalui peningkatan produksi kedelai, namun
masih terkendala faktor
lahan yang berkompetisi dengan jagung, tebu, beras dan konversi lahan
untuk kebutuhan lainnya.
Disamping itu, terdapat kendala iklim dimana
Indonesia beriklim tropis, sementara kedelai dapat tumbuh baik di daerah
beriklim sub-tropis.
Upaya
tersebut terlihat dalam kurun lima tahun terakhir dimana, berdasarkan
data statistik Kementerian Pertanian, terdapat kecenderungan peningkatan
terhadap rata-rata
produksi kedelai sebesar 4,38%, produktivitas 1,04% dan luas lahan
untuk tanam kedelai 3,1%. “Namun memang, peningkatan produksi dan
produktivitas tersebut belum dapat mengalahkan tingkat,” kata dia.
Berdasarkan
data BPS, tahun 2011 produksi kedelai lokal hanya sebesar 851.286 ton
atau 29% dari total kebutuhan, sehingga Indonesia harus mengimpor
kedelai sebanyak
2.087.986 ton untuk memenuhi 71% kebutuhan kedelai dalam negeri.
Pada
2012, total kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,2 juta ton. Jumlah
tersebut akan diserap untuk pangan/pengrajin sebesar 83,7% (1.849.843
ton); Industri Kecap,
Tauco, dan lainnya sebesar 14,7% (325.220 ton); benih sebesar 1,2%
(25.843 ton); dan untuk pakan 0,4% (8.319 ton).
Harga
kedelai internasional pada Minggu III Juli 2012 sudah mencapai USD
622/ton atau Rp. 8.345/kg untuk harga paritas impornya di dalam negeri.
Harga ini jauh lebih
tinggi jika dibandingkan harga tertinggi pada 2011, yaitu bulan
Februari yang berkisar USD 513/ton atau harga paritas impornya di dalam
negeri sekitar Rp. 6.536/kg.
Impor
kedelai terbesar Indonesia tahun 2011 berasal dari Amerika Serikat
dengan jumlah 1.847.900 ton, Malaysia 120.074 ton, Argentina 73.037 ton,
Uruguay 16.825 ton
dan Brasil 13.550 ton. Hingga saat ini, AS merupakan produsen terbesar
kedelai di dunia dimana kedelai AS diserap oleh China sebanyak 61,5%,
Meksiko 8,74%, Jepang 5,24% dan Indonesia sebesar 5,11%. [E-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
BBM Naik, Batal Beli Mobil Baru, Warga Incar yang Bekas
Dahlan Iskan jadi Dosen di Universitas Beijing
Menjadi Negara Maju, RI Mesti Kembangkan Inovasi Teknologi
KEN Pelajari Cara Korsel Lolos dari Middle-Income Trap
Belajar dari Korea, KEN Dorong Pendirian Pasar Tani
Perbanas Desak Pemerintah Soal Kepastian Harga BBM
