Pemerintah Indonesia Dorong Rotan Jadi Ikon Dunia
Senin, 7 Mei 2012 | 15:26
Rotan [google] [JAKARTA]
Pemerintah
Indonesia berkomitmen mendorong produk rotan, yang merupakan ciri khas
Indonesia, menjadi ikon dunia. Pada 21-26 April 2012, pemerintah
Indonesia, yang terdiri
dari Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan, bersama
asosiasi dan dunia usaha berpartisipasi dalam pameran furniture
International Home Furnishing Center (IHFC) di North Carolina, Amerika Serikat.
Atase
Perdagangan di Washington D.C, Ni Made Ayu Marthini, dalam siaran
persnya, Senin (7/5), mengatakan, pameran furniture IHFC tahun ini
berusia 102 tahun. Pameran
ini merupakan salah satu pameran furniture dan desain interior terbesar
di dunia yang diadakan dua kali setahun, yaitu pada musim semi (April)
dan musim gugur (Oktober).
Ia menegaskan, pameran
IHFC merupakan ajang yang baik bagi promosi produk rotan Indonesia.
Untuk itu, pemerintah Indonesia telah menyewa ruang pamer permanen
seluas 800 m2 di Gedung IHFC lantai 7, selama 5 tahun berturut-turut
sejak tahun 2011 hingga 2015 ke depan.
Made Marthini mengagatakan, furniture merupakan salah satu produk ekspor andalan Indonesia ke AS. Indonesia merupakan
top 10 pengekspor furniture di AS dengan nilai sebesar US$ 567,37 juta.
Khusus
untuk produk rotan, Indonesia merupakan negara pengekspor terbesar ke
AS dengan nilai ekspor sebesar US$ 11,02 juta pada 2011, meningkat dari
US$ 9,89 juta pada
2010.
“Angka ini masih sangat kecil dibandingkan
dengan potensi yang ada dan bahan baku rotan yang dimiliki Indonesia.
Untuk itu, kami akan terus mendorong agar ekspor produk rotan ke AS
terus meningkat,”
jelas Made Marthini.
Dalam pameran furniture IHFC kali ini, pemerintah Indonesia menghadirkan
Indonesia Rattan Furniture Pavilion, yang ditempati oleh 12
perusahaan Indonesia, yang terdiri dari 11 perusahaan furniture rotan
dan 1 perusahaan cat untuk furniture rotan.
Kesebelas
perusahaan furniture rotan tersebut, kata dia, diharuskan mengganti
minimum 50% barang-barang yang dipajang
di setiap musim pameran tiba. Hal ini bertujuan agar memberi kesan
bahwa produk yang dipamerkan sangat beragam. Kemudian perusahaan yang
turut serta juga berganti setiap tahun atau setiap tiga kali pameran
berlangsung.
Adapun
perusahan-perusahaan peserta pameran IHFC 2012 adalah CV. Aksen, CV.
Indoxenia, PT. Sinar Sri Rezeki Utomo, PT. Kernel Indonesia
Potential, PT. Aida Rattan Industry, PT. Erlangga B.N.H, PT. Tanamas
Industry Comunitas, PT. Bines Raya, Surya Abadi Furniture, PT. Romi
Violeta, Yamakwa Rattan Industry, serta PT. Propan Raya I.C.C.
Kemudian,
dari 11 perusahaan furnitur rotan tersebut, beberapa
diantaranya telah melakukan ekspor ke AS, antara lain PT. Tanamas
Industri Comunitas; PT. Surya Abadi Furniture; PT. Kernel Indonesia
Potential; PT. Aida Rattan Industry; dan PT Bines Raya. PT. Tanamas
Industri Comunitas bahkan telah melakukan penjualan regular
ke department store terkenal di AS, yaitu Target dan Company.
Sedangkan PT. Bines Raya telah menjadi pemasok (supplier) untuk beberapa hotel yang memfokuskan diri pada desain moderen. Sementara itu, PT. Kernel Indonesia Potential,
70% ekspornya ke AS adalah untuk memasok toko wholesale “Goods to Go”.
Selain
perusahaan-perusahaan yang berada di Paviliun Indonesia, terdapat tiga
perusahaan Indonesia lainnya yang turut berpartisipasi
pada IHFC. Ketiga perusahaan tersebut adalah PT. Indosurya Mahakam yang
berasal dari Cirebon dan memiliki ruang pamer permanen selama lima
tahun di gedung IHFC; Jewels of Java yang merupakan distributor
furniture Indonesia di AS; serta JEFFAN Internasional,
sebuah wholesale store yang berkantor di Tennessee.
Jewels of
Java dan JEFFAN Internasional merupakan perusahaan AS yang pemiliknya
adalah orang Indonesia.
Made Marthini mengatakan, partisipasi melalui
display permanen selama lima tahun sangat baik dan perlu ditiru dalam rangka promosi produk Indonesia di luar negeri.
“Pameran permanen seperti ini akan membantu branding
karena produk furniture rotan Indonesia akan secara trus menerus hadir di High Point, North Carolina,”
imbuhnya.
Bahkan beberapa perusahaan telah mendapatkan
trial order dari pameran sebelumnya di bulan April dan Oktober 2011. Dalam rangka menarik
buyers, Paviliun Indonesia mengadakan pertemuan bagi para buyers pada
22 April 2012. Acara yang dihadiri oleh 100 orang ini dibuka oleh
Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian
dan Atase Perdagangan Washington D.C.
“Kami menekankan keunikan rotan sebagai bahan furnitur yang ramah lingkungan, secara
struktur kuat, menarik dan lentur. Selain itu, kami mengajak para buyers
untuk menjadikan rotan semakin terkenal dan dicari, karena Indonesia siap menjadi pusat rotan dunia,”
seru Made Marthini.
Menurut Made Marthini, tren furniture tahun 2013 di AS, antara lain
Americana, dimana warna untuk kain mebel mengarah pada warna bendera Amerika dan
Old West, seperti denim biru (klasik), merah hati (warna musim gugur) dan
rustic brown. Tren lainnya disebut Bright Colors dimana warna-warna terang akan menjadi tren (kecuali warna neon).
Untuk tren
upholstery adalah bright reds, light, crystal blues and high impact yellows.
Kemudian, muted palette of 20th century art deco (Art Deco) kelihatannya akan kembali menjadi tren 2012, termasuk untuk peralatan rumah tangga.
Furnitur
rotan pernah mengalami masa jaya di AS sekitar tahun 1970-1980, namun
sempat mengalami penurunan order hingga saat ini.
Salah satu kunci
penting yang perlu dilakukan
adalah memperkenalkan kembali rotan kepada konsumen seperti apa yang
dipromosikan oleh Perusahaan AS Braxton Culler di majalah
Furniture Today di edisi pertama Pameran IHFC pada 21 April 2012.
Para desainer perlu diajak dan diperkenalkan akan keunikan rotan sehingga dapat menciptakan produk yang
stylish dan unik, sehingga pada akhirnya dapat menumbuhkan permintaan terhadap produk tersebut.
“Ke depan, perlu dipikirkan kerja sama dengan para desainer terkenal untuk membuat rotan kembali menjadi trendi,”
ujar Made Marthini.
Di
Amerika Serikat, saat ini terdapat 56 juta jiwa penduduk yang berada
pada segmen umur 18-31 tahun. Dari sebuah survey yang dilakukan
Furniture Today, 95% menyatakan furniture adalah bagian dari gaya
hidup masyarakat muda AS. Keputusan belanja bukan ditentukan oleh harga
ataupun kualitas, melainkan desain.
“Ini merupakan captive market
yang perlu diisi oleh industri rotan Indonesia. Desain yang baik dan
menarik merupakan keharusan untuk dapat berperan di pasar ini,”
tegas Made Marthini.
Lebih
lanjut, Made Marthini menekankan pentingnya kerja sama semua pihak
untuk mendukung produk rotan menjadi ikon dunia, termasuk menjadikan
produk rotan tuan rumah
di negara sendiri. [E-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
BBM Naik, Batal Beli Mobil Baru, Warga Incar yang Bekas
Dahlan Iskan jadi Dosen di Universitas Beijing
Menjadi Negara Maju, RI Mesti Kembangkan Inovasi Teknologi
KEN Pelajari Cara Korsel Lolos dari Middle-Income Trap
Belajar dari Korea, KEN Dorong Pendirian Pasar Tani
BRI Jaring Nasabah Baru di IBEX
