Pemerintah Dorong BUMN Buka Lahan Kedelai
Senin, 30 Juli 2012 | 10:57
Menko Kesra Agung Laksono menyerahkan bantuan [SP/Dina Manafe] [JAKARTA]
Pemerintah harus mendorong perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk
membuka lahan kedelai. Dengan produksi lebih besar di dalam negeri,Indonesia
tidak perlu bergantung kepada kedelai impor.
Hal
tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko
Kesra) Agung Laksono di sela-sela kunjungan kerja dalam rangka Safari Ramadhan
ke Bekasi dan Cirebon hingga Minggu (29/10). Agung mengatakan hal ini
menanggapi aksi mogok sejumlah pengrajin tahu dan tempe karena mahalnya kacang
kedelai sebagai bahan baku.
Agung
menambahkan, pemerintah mendorong adanya kemampuan swasembada untuk
meningkatkan kapasitas produksi kedelai di dalam negeri. Produksi dalam negeri
hanya mencukupi 800.000 ton dari total kebutuhan nasional 2,5 juta ton.
Sisanya atau sekitar 1,7 juta ton masih diimpor yang sebagian besar atau 70%
dari Amerika, sisanya dari Tiongkok dan India.
Akibat musim kemarau yang hebat
di Amerika dan Amerika Selatan menyebabkan kelangkaan kedelai, sehingga
harganya pun melonjak.
“Jika
produksinya dinaikan dua kali lipat saja, kita tidak perlu bergantung lagi
kepada impor,” kata Agung yang ditemani putranya Dave Laksono, Kepala BKKBN
Sugiri Syarief, Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin, staf
ahli Menko Kesra Leo Nababan dan sejumlah deputi di Kemenko Kesra.
Agung
mengatakan, meskipun Indonesia beriklim tropis, terdapat sejumlah daerah yang
berpotensi untuk swasembada kedelai, di antaranya Grobogan,Jawa
Tengah. Hasilnya tidak akan mengecewakan dari produksi Amerika yang
beriklim sub tropis.
Kementerian
Pertanian sudah ditugaskan untuk mengidentifikasi lahan di daerah mana saja
yang berpotensi ditanami kedelai. Akan tetapi karena ini sifatnya rintisan,
maka sebaiknya BUMN terlebih dahulu berinvestasi untuk membuka lahan.
Selain
mendorong BUMN meningkatkan produksi, pemerintah juga mendorong Bulog untuk
menambah komiditinya. Sebagai penyangga pangan, Bulog ke depan tidak hanya
mengurus beras tetapi juga kedelai untuk mengantisipasi kelangkaan.
Agung
menambahkan, Safari Ramadhan bertujuan untuk meninjau langsung
perkembangan pembangunan di daerah, berdialog dengan masyarakat secara langsung
mengenai masalah ataupun kendala yang dihadapi.
Dalam kunjungannya ke Bekasi,
menurut Agung, masalah yang dihadapi daerah itu adalah kekhawatiran masyarakat
mengenai lahan abadi untuk pertanian seluas 50.000 hektare yang akan dijadikan
lahan perumahan.
Ia
meminta pemeritah Kabupaten Bekasi agar tetap mempertahankan lahan pertanian
tersebut dan lahan lainnya yang masih kosong untuk pertanian. Menurutnya,
Bekasi sebagai kawasan industri perlu dikembangkan untuk memberikan
kesejahteraan bagi para pekerjanya, namun tidak melupakan kepentingan
pertanian.
“Untuk
industri dan perumahan ada lahannya sendiri, dan untuk pertanian juga ada
lahannya sendiri. Jangan sampai lahan pertanian dialihkan untuk perumahan
ataupun industri,” kata Agung mengingatkan.
Disamping
berdialog, Menko Kesra juga menyerahkan bantuan kepada masyarakat maupun
pemerintah daerah yang berasal dari berbagai kementerian/lembag. Di antaranya,
untuk Bekasi Agung memberikan bantuan pendidikan,
kursi roda, tongkat putih untuk tuna netra, paket buku dan parcel untuk
mesjid.
Saat melanjutkan perjalanan ke Cirebon, Menko Kesra
meninjau RSUD Arjawinangun, puskesmas, pasar tradisional dan sekolah dasar.
Agung juga menyerahkan bantuan secara simbolik kepada Pemkab Cirebon
berupa makanan pendamping ASI sebanyak 1 ton, bantuan beasiswa dari Kementerian
Agama sebesar Rp 9,1 juta, bantuan pendidikan dasar Rp 47,8 juta, bantuan
pendidikan menengah 204 juta lebih, dana untuk RS Arjawinangun sebesar Rp 8
juta. Juga Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) sebesar Rp 4,8 juta,Jampersal 4
juta,Jamkesmas dasar dan rujukan Rp 18 juta lebih, dan obat senilai Rp 7,7
juta.[D-13]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
