Pembajakan Massal Trimegah, APEI Segera Rumuskan Kode Etik
Rabu, 26 Oktober 2011 | 17:26
Logo baru Trimegah Securities (Foto: SP/Lona Olavia) [JAKARTA] Pekan depan, Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia
(APEI) akan membahas secara komprehensif terkait pembajakan karyawan secara
massif PT Trimegah Securities oleh UOB Kay Hian Securities. Bahkan, Ketua Umum
APEI Lili Widjaja menyatakan, pihaknya sudah siap merumuskan kode etik
bajak-membajak ini dengan para pemangku kepentingan, termasuk dengan Badan
Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).
”Mereka sudah sampaikan keluhan kepada kami dan Bapepam-LK. Kita bisa coba buat
kode etik, rumuskan,” katanya usai RUPSLB BEI di Jakarta, Rabu (26/10).
Menurutnya, penerapan kode etik penting untuk menjaga industri sekuritas tetap
tumbuh, tanpa mengorbankan segelintir broker. Di sisi lain, Lili tak menampik
bahwa skema pembajakan lazim terjadi. Namun tidak demikian dengan kasus UOB,
sehingga hal ini menjadi perhatian asosiasi. ”Bajak membajak itu sering dan di
mana ada kebutuhan man power. Tapi ini eksesif (berlebihan) dan ini barang kali yang jadi keluhan,”
ujar dia.
Sementara itu, Direktur Utama Danareksa Sekuritas Marciano H Herman dan
Direktur Utama Kresna Sekurindo Michael Steven mengungkapkan, pembajakan di
perusahaan sekuritas memang lazim tapi harus dalam konteks persaingan sehat.
“Jangan sampai mematikan lawan, itu yang berbahaya,,” kata Marciano.
Menurutnya, industri pasar modal Indonesia masih kecil dan dibutuhkan perlindungan
dari pemerintah untuk pemain lokal. Karena itu, perusahaan sekuritas
mengharapkan adanya intervensi keberpihakan pemerintah dalam bentuk apapun
termasuk SDM. Pasalnya, peraturan baru V.D.11 tentang pedoman pelaksanaan fungsi-fungsi
manajer investasi yang mencakup pengembangan SDM pada setiap perusahaan efek
belumlah
cukup.
”Ada baiknya perusahaan efek diwajibkan untuk menciptakan profesional-profesional,”
katanya.
Hal senada juga dilontarkan Michael Steven. Pasalnya, makin ke depan maka
industri pasar modal dituntut untuk semakin dewasa. ”Industri semakin dewasa,
punya kode etik, sosialisasi dan pelaku industri harus berpikir itu, baik
pelaku lokal dan oleh pemain luar negeri. Kita masih belum benar dan industri
belum dewasa, tak punya aturan jelas
dan integrasi,” tandasnya.
Kendati demikian, pelaku bursa menurutnya harus diberi kesempatan untuk berkembang.
Namun, Kresna yang sudah memiliki training center begitupun dengan Trimegah
mengharapkan regulator dan anggota bursa bisa duduk bersama dalam membahas hal
ini. ”Dalam industri pasar modal, selesaikan secara musyawarah mufakat,”
ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Utama BEI Ito Warsito menyayangkan terjadinya pembajakan
besar-besaran pada karyawan Trimegah. Diakuinya, ketersediaan sumber daya
manusia (SDM) di pasar modal memang menjadi perhatian BEI. Oleh karena itu, BEI
mendukung peningkatan ujian yang dilakukan oleh Standar Profesi Pasar Modal
Indonesia.
”Terkait pembajakan, ini hal yang menyedihkan tapi umumnya normal di industri
lain, di perbankan juga seperti itu. Namun, ini adalah fenomena kebutuhan karier
dan industri yang berkembang. Jadi, butuh SDM yang handal,” ungkapnya.
Sebelumnya, manajemen Trimegah telah melayangkan surat protes terbuka terkait
pembajakan karyawannya. Sejak Juni lalu, UOB telah membajak karyawannya di
empat cabang yaitu Solo, Semarang, Bali dan Palembang. [O-2]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
BBM Naik, Batal Beli Mobil Baru, Warga Incar yang Bekas
Dahlan Iskan jadi Dosen di Universitas Beijing
KEN Pelajari Cara Korsel Lolos dari Middle-Income Trap
Menjadi Negara Maju, RI Mesti Kembangkan Inovasi Teknologi
Belajar dari Korea, KEN Dorong Pendirian Pasar Tani
Perbanas Desak Pemerintah Soal Kepastian Harga BBM
