SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 31 Agustus 2014
Pencarian Arsip

Lippo, Salim, Sinar Mas, MNC, Grup Usaha Agresif Ekspansi
Selasa, 14 Mei 2013 | 12:10

Lippo Group [google] Lippo Group [google]

[JAKARTA] Di tengah krisis perekonomian global yang belum pulih, empat kelompok usaha, yakni Salim Grup, Lippo, MNC Grup, dan Sinarmas, tercatat paling gencar ekspansi tahun ini. Ekspansi dilakukan baik melalui akuisisi terhadap perusahaan-perusahaan lokal maupun luar negeri, hingga mencari pendanaan di pasar modal.  

Grup Salim menjadi kelompok usaha paling ekspansif tahun ini. Kelompok usaha yang didirikan oleh Soedono Salim ini mengakuisisi tiga perusahaan senilai Rp 13,5 triliun dan menjual saham tiga perusahaan sebesar Rp 6,7 triliun.  

Pada awal tahun, grup Salim melalui PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) langsung menggebrak dengan mengakuisisi dua perusahaan luar negeri, yakni perusahaan perkebunan gula di Brasil senilai US$ 71,7 juta dan perusahaan produsen sayur-mayur dari Tiongkok, Minzhong Food Corporation, senilai Sin$ 89,67 juta.            

Di dalam negeri, Salim juga membeli 52,35% saham produsen mobil nasional kedua terbesar, PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS), senilai Rp 7,8 triliun pada 2 Mei 2013, dari Pieter Tanuri.  Akuisisi ini diikuti oleh kewajiban penawaran tender atas saham IMAS yang dimiliki publik, dengan perkiraan transaksi sebesar Rp 5 triliun. Salim juga menjual 31,5% saham miliknya pada PT Nippon Indosari Tbk, 38,5% saham PT Fast Food Indonesia Tbk, dan 40% saham Indomarco kepada Pieter Tanuri senilai Rp 6,7 triliun, yang ditargetkan tuntas bulan depan.            

Posisi kedua ditempati oleh Lippo. Meski hanya sedikit mencari dana dari pasar modal, yakni sekitar Rp 2 triliun dari IPO Bank Nobu, grup usaha ini ternyata gencar mengembangkan sayap bisnisnya. Total proyek yang tengah digarap atau sudah siap dikembangkan mencapai Rp 27,5 triliun selama periode 2013-2018.            

Proyek tersebut terdiri atas pengembangan kawasan Central Business District (CBD), bekerja sama dengan pengembang ternama, Sentul City, senilai Rp 8 triliun. CBD ini akan mencakup pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia seluas 250 ribu meter persegi, apartemen, perkantoran modern, rumah sakit, hotel, hingga sekolah internasional di atas lahan seluas 20 hektare (ha).              

Di Padang, Lippo Grup telah melakukan ground breaking proyek senilai Rp 1,3 triliun, berupa kawasan terintegrasi, baik mal, hotel, dan rumah sakit. Di kota ini, kelompok usaha yang didirikan oleh Mochtar Riady ini akan membangun Bandar Minangkabau di lahan reklamasi seluas 700 hektare dengan biaya pembangunan Rp 5-10 triliun.            

Di Jakarta, Lippo tengah membangun Holland Village senilai Rp 5 triliun. Kelompok usaha ini juga akan membangun 13 mal di seluruh Indonesia dengan biaya investasi US$ 450 juta hingga 2015.            

Sementara itu, pengusaha nasional Harry Tanoesoedibjo, melalui MNC Group, justru gencar memperkuat permodalan perusahaan-perusahaan miliknya, di tengah derasnya aliran modal asing ke pasar modal dalam negeri. Total dana yang segera dihimpun dari lima perusahaan miliknya mencapai sekitar Rp 10 triliun.            

Dana sebesar itu dihimpun Harry Tanoe melalui non-HMETD (hak memesan efek terlebih dahulu) atau penawaran langsung kepada investor strategis. Adapun perusahaan-perusahaan tersebut adalah PT Bhakti Investama Tbk (BHIT), PT Global Mediacom Tbk (BMTR), PT MNC Kapital Tbk (BCAP), PT MNC Land Tbk (KPIG), dan PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY).            

Terakhir, Sinarmas Group, mengakuisisi properti di London senilai US$ 161 juta, IPO PT Pembangunan Deltamas US$ 300 juta, dan non-HMETD PT Bumi Serpong Damai. Pada 2010-2011, kelompok usaha milik Eka Tjipta ini sebetulnya sempat agresif melakukan serangkaian akuisisi dan mencari dana di pasar modal. [ID/H-12]              




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»