Laba Bersih BII Naik 45% Jadi Rp 669 M
Kamis, 23 Februari 2012 | 11:55
[JAKARTA]
PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) mencatat laba bersih konsolidasi
sebesar Rp669 miliar pada periode yang berakhir 31 Desember 2011. Jumlah
tersebut naik 45 % dibanding Rp461 miliar pada periode sebelumnya. Laba sebelum
pajak BII mencapai Rp985 miliar, naik 25%
dibanding periode sebelumnya. Kinerja yang membaik terutama
didorong oleh pertumbuhan yang solid pada bisnis inti BII, perbaikan kualitas
aset, dan perbaikan di seluruh operasionalnya.
Pjs
Presiden Direktur BII, Rahardja Alimhamzah, berpendapat kinerja BII yang
membaik memperlihatkan kerja keras BII dalam meraih kembali momentum
pertumbuhan telah
menghasilkan
kenaikan laba. “Saya yakin bahwa rencana pertumbuhan berkelanjutan di seluruh
segmen bisnis lebih jauh akan meningkatkan kinerja kami sejalan dengan
meningkatnya pangsa pasar dengan tetap memastikan kualitas aset yang baik,”
ujarnya dalam rilis yang diterima SP,
baru-baru ini.
BII
terus membukukan pertumbuhan kredit yang kuat sepanjang 2011. BII mencatat
pertumbuhan kredit konsolidasi sebesar 25% dari Rp53,6 triliun pada Desember
2010 menjadi Rp67,2 triliun pada Desember 2011.
“Kredit
Korporasi memberikan kontribusi pertumbuhan terbesar, yakni 42% dari Rp12,2
triliun pada Desember 2010 menjadi Rp17,3 triliun pada Desember 2011, diikuti
oleh UKM dan Komersial sebesar 27% dan
Konsumer sebesar 15% dibanding periode
yang sama 2010,” terang Alimhamzah.
Kredit
Konsumer memberikan kontribusi 38 % dari total kredit, sedangkan UKM dan
Komersial sebesar 36% dan Korporasi 26%
.
Sedangkan
total aset BII pada 31 Desember 2011 meningkat 26% menjadi Rp94,9 triliun dari Rp75,2 triliun pada tahun sebelumnya.
Total simpanan nasabah juga mengalami peningkatan 17% dari Rp59,9 triliun
menjadi Rp70,3 triliun. Tabungan dan giro mencatat pertumbuhan lebih tinggi
dibanding deposito.
“Jika
deposito hanya meningkat 13% dari
Rp35,8 triliun menjadi Rp40,3 triliun, tabungan tumbuh 28% menjadi Rp17,6 triliun dari sebelumnya
Rp13,8 triliun. Sedangkan giro bertumbuh 21% menjadi Rp12,4 triliun dari Rp10,3
triliun pada tahun sebelumnya,” papar Alimhamzah.
Sementara,
Loan to deposit ratio (LDR) konsolidasi tetap berada pada tingkat yang
diharapkan, yakni sebesar 95,1%. “LDR untuk bank saja, tanpa anak
perusahaan, tetap terkelola dengan baik pada tingkat 88,9%. LDR konsolidasi BII
dengan memperhitungkan obligasi, pinjaman jangka panjang dan simpanan nasabah,
berada pada tingkat 81,2% ,” tutur Alimhamzah.
Pendapatan
operasional lainnya juga mengalami peningkatan sebesar 12% dari Rp2.077 miliar menjadi Rp2.328 miliar
pada periode yang sama tahun lalu. Menurut Alimhamzah, total
fee
based income BII terutama berasal dari kenaikan fee dari transaksi perbankan
korporasi,
treasury,
kartu kredit, trade finance, remittance dan jasa lainnya. Alimhamzah
menambahkan, total overhead cost BII meningkat 18% dari Rp3.699 miliar menjadi
Rp4.353 miliar.
Peningkatan
ini, lanjut Alimhamzah, mencerminkan ekspansi jaringan BII yang agresif dan
investasi di bidang human capital dan infrastruktur teknologi informasi (TI)
sepanjang tahun.
Rasio
Kecukupan Modal (CAR) dengan memperhitungkan risiko kredit, pasar dan
operasional berada pada tingkat 11,83%
per Desember 2011 dengan Tier 1 Capital sebesar Rp7,2 triliun dan Tier 2
Capital sebesar Rp2,2 triliun. [YHD/M-6]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
