Laba Bersih Astra Naik 33%
Jumat, 29 Juli 2011 | 8:08
[JAKARTA] PT Astra International Tbk (ASII) dan anak perusahaannya, sepanjang 6 bulan pertama tahun 2011 membukukan pendapatan Rp 76,26 triliun atau naik 24% dibandingkan periode yang sama tahun 2010 sebesar Rp 61,51 triliun. Laba usaha juga meningkat 27%, yaitu dari Rp 6,67 triliun menjadi Rp 8,44 triliun. Pada semester I, Astra membukukan laba bersih Rp 8,59 triliun atau naik 33% dari Rp 6,44 triliun dan laba bersih per saham juga meningkat 33% dari Rp 1.591 menjadi Rp 2.121.
Menurut Presiden Direktur ASII Prijono Sugiarto, kondisi perekonomian Indonesia yang baik, termasuk inflasi yang stabil, kenaikan harga komoditas dan ketersediaan pembiayaan konsumen pada tingkat bunga menarik membantu Grup Astra mencapai hasil terbaik.
“Sepanjang semester I tahun 2011, kinerja Grup Astra menunjukkan performa yang baik pada semua lini bisnisnya. Meskipun terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami Jepang telah mengakibatkan adanya gangguan supply pada bisnis otomotif, namun demikian Grup Astra yakin bahwa situasi di Jepang tidak akan berdampak pada pencapaian akhir tahun 2011. Prospek permintaan terhadap produk dan jasa Astra di Indonesia diharapkan tetap tinggi,” ungkapnya dalam siaran persnya ke SP, Kamis (28/7).
Untuk divisi otomotif Astra, labanya tumbuh sebesar 18% menjadi Rp 3,9 triliun.
Share of results dari perusahaan asosiasi dan jointly controlled entities di bidang otomotif mencapai Rp 2,4 triliun atau naik 17%.
Adapun, total penjualan mobil nasional sepanjang semester I tahun 2011, meningkat 13% menjadi 418.000 unit. Penjualan mobil Grup Astra mengalami kenaikan 10% menjadi 230.000 unit, mewakili pangsa pasar sebesar 55%. Sementara itu, penjualan sepeda motor nasional sepanjang semester I tahun 2011 naik 13% menjadi 4,1 juta unit. Penjualan sepeda motor PT Astra Honda Motor (AHM) mengalami pertumbuhan 26% menjadi 2,1 juta unit dan berhasil meningkatkan pangsa pasar dari 46% menjadi 51%.
Divisi jasa keuangan yang terdiri dari PT Federal International Finance (FIF), PT Astra Sedaya Finance (ASF) dan PT Toyota Astra Financial Services (TAFS) juga mengalami peningkatan sebesar 37% menjadi Rp 1,7 triliun. PT Asuransi Astra Buana membukukan peningkatan laba seiring dengan peningkatan premi ritel dan komersial. PT Bank Permata Tbk, yang 44,5% sahamnya dimiliki oleh Astra juga membukukan laba bersih sebesar Rp 695 miliar atau naik 33%.
Sementara, divisi alat berat dan pertambangan Astra juga mengalami peningkatan 34% menjadi Rp 1,5 triliun. PT United Tractors Tbk membukukan laba Rp 2,5 triliun, naik 35%. PT Pamapersada Nusantara (“PAMA”), yang merupakan anak usaha UT di bidang kontraktor penambangan batu bara, mencatat peningkatan produksi 6% menjadi 39,9 juta ton dan peningkatan overburden removal 16% menjadi 365 juta bcm, ditengah cuaca yang tidak menentu dan melemahnya dolar Amerika. Melalui tambang sendiri, Grup UT menjual 2,2 juta ton batu bara selama semester I tahun 2011.
Sedangkan, divisi agribisnis meningkat 100% menjadi Rp 1 triliun dengan capaian laba PT Astra Agro Lestari Tbk Rp 1,3 triliun atau naik dua kali lipat. sementara harga rata-rata CPO pada semester I di tahun 2011 lebih tinggi 22% dan produksi palm oil mengalami peningkatan 26% menjadi 594.000 ton.
Kontribusi laba bersih divisi infrastruktur dan logistik pun meningkat 96% menjadi Rp 351 miliar, terutama karena pemulihan atas penyisihan beban pajak penghasilan tahun sebelumnya dan peningkatan volume perdagangan. PT Marga Mandalasakti, operator jalan tol yang 79,3% sahamnya dimiliki oleh Astra, membukukan kenaikan volume trafik sebesar 10% menjadi 16 juta kendaraan, sementara PT Serasi Auto Raya, yang 100% sahamnya dimiliki oleh Astra, mengalami peningkatan keuntungan usaha yang didukung oleh kenaikan jumlah kendaraan sewa.
Sejalan dengan itu, divisi teknologi informasi juga meningkat 20% menjadi Rp 41 miliar. PT Astra Graphia Tbk sebagai agen tunggal peralatan Fuji Xerox di Indonesia membukukan laba Rp 53 miliar, naik 20%. Namun, PT Astra Otoparts Tbk (AOP), yang 95,7% sahamnya dimiliki oleh Astra, mengalami sedikit penurunan laba bersih sebesar 16% menjadi Rp 480 miliar karena adanya peningkatan biaya. [O-2]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
BBM Naik, Batal Beli Mobil Baru, Warga Incar yang Bekas
Dahlan Iskan jadi Dosen di Universitas Beijing
KEN Pelajari Cara Korsel Lolos dari Middle-Income Trap
Menjadi Negara Maju, RI Mesti Kembangkan Inovasi Teknologi
Belajar dari Korea, KEN Dorong Pendirian Pasar Tani
Perbanas Desak Pemerintah Soal Kepastian Harga BBM
