Kerja Sama Investasi Sapi RI-Australia Perlu Konsistensi Kebijakan
Rabu, 4 Juli 2012 | 10:42
Hubungan Indonesia-Australia [google] [JAKARTA] Kerja sama investasi sapi Indonesia-Australia
harus ditindaklanjuti dengan konsistensi kebijakan dan dukungan infrastruktur
di daerah basis peternakan, khususnya Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama ini,
berbagai rancangan kerja sama regional tidak fokus sehingga gagasan tersebut
tidak pernah terwujud.
Menurut Ketua Bersama Forum Pengusaha Nusa Tenggara
Timur-Northern Territory, Ferdi Tanoni kepada SP di Jakarta, Rabu (4/7), berbagai
rancangan dan inisiatif kerja sama tersebut sebenarnya sudah dirintis sejak
satu dekade silam. Namun, minim dukungan kebijakan dan tindak lanjut untuk
berbagai program, seperti peternakan dan perikanan.
Untuk itu, kerja sama NTT dan Northern Territory (Australia
Utara) perlu diaktifkan dan lebih diarahkan untuk saling melengkapi
(komplementer). Tindak lanjut tersebut harus dimotori pemerintah daerah (pemda)
dengan dukungan infrastruktur dan kebijakan lainnya. “Jika tidak ada dukungan
yang nyata maka kesepakatan ini hanya akan mengulang kembali apa yang pernah
dirintis satu dekade lalu,” kata Tanoni yang menjadi salah satu perintis kerja
sama regional tersebut.
Sementara itu, Ketua Bidang Komite Tetap Agribisnis dan
Peternakan Kadin Indonesia Juan Permata Adoe menilai, investor asing terutama
Australia sekarang ini sudah mulai masuk ke Indonesia. Tahun ini saja, ada
dua-tiga investor Australia yang masuk di industri penggemukan sapi antara lain
di Lampung dan Jawa Barat.
Dikatakan, konsep yang ditawarkan Pemerintah Indonesia
kepada investor Australia cukup bagus, yaitu menjadikan Indonesia sebagai basis
peternakan sapi untuk memasok pasar ekspor dunia. Itu cukup realistis mengingat
biaya produksi di Indonesia lebih murah dibandingkan di Australia.
“Harga pakan di sini lebih murah dibandingkan di Australia
dan tenaga kerja murah juga melimpah,” ujar dia.
Yang menjadi kendala dan menjadi kekhawatiran investor asing
di sektor peternakan sapi di Indonesia adalah kebijakan pemerintah yang tidak
konsisten. “Kendala investasi di sektor pertanian dan peternakan umumnya
trigger-nya adalah konsistensi kebijakan. Saat ini aturannya boleh, nanti bisa
dilarang” tutur dia.
Kemarin, Indonesia dan Australia sepakat memperluas kerja
sama di bidang peternakan sapi. Ke depan, Indonesia tidak lagi hanya mengimpor
sapi, tapi mendorong investor negeri Kanguru itu membuka peternakan di
Indonesia."Kami mau pengusaha Australia investasi ternak sapi di Indonesia
yang tentunya membawa manfaat riil," ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) dalam pernyataan pers bersama PM Julia Gillard usai pertemuan konsultasi
tahunan kedua Pemerintah RI-Australia.
Pertemuan digelar di Gedung Parlemen,
Darwin, Australia, Selasa (3/7).
Presiden SBY menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia
telah memunculkan lebih banyak kelas menengah baru. Kondisi itu membuat
konsumsi daging sapi melonjak belakangan ini."Selama ini kami membeli sapi
dari Australia, itu single track. Tetapi kini disadari dengan terjadinya
lonjakan permintaan dan daya beli, Indonesia mengusulkan dual track, yaitu agar
Australia berinvestasi peternakan sapi di Indonesia," ujar SBY.
Menurut Presiden, dalam beberapa tahun terakhir volume
perdagangan dua negara naik hingga 29%. Namun masih banyak peluang bisnis yang
bisa dioptimalkan, di antaranya adalah untuk melayani permintaan daging sapi.
"Kami menilai masih ada peluang untuk mencapai target volume perdagangan
hingga US$ 15 miliar pada 2015," kata SBY seperti dikutip Antara.
Sementara itu, Perdana Menteri Australia Julia Gillard dalam
kesempatan yang sama mengatakan, dirinya sepakat untuk terus mengembangkan
kerja sama di bidang ekonomi.Menurut Gillard, Australia akan mendukung
Indonesia dalam memenuhi keamanan pangan baik melalui ekspor maupun melalui
investasi sektor industri.Juan menambahkan, untuk investasi peternakan sapi
sebenarnya tidak perlu lahan yang luas.
Apalagi jika sudah dilakukan dalam skala industri yang
dikelola secara intensif. Sebenarnya, investor dalam negeri mampu mengembangkan
industri peternakan sendiri, jika suku bunga bank yang jauh lebih tinggi
dibandingkan negara lain bisa diturunkan.
“Kami juga masih membutuhkan insentif dari pemerintah untuk
pengadaan bibit,” tuturnya.
Juan menilai, berdasarkan data pemerintah, total jumlah sapi
di Indonesia saat ini sekitar 16 juta ekor. Setiap tahun, sapi yang dipotong
untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sekitar 3 juta ekor. “Secara rumusan
memang kebutuhan daging masih bisa dipenuhi dari dalam negeri. Tapi faktanya
kan sering terjadi kelangkaan, karena kita masih menghadapi kendala logistik
dan konektivitas,” tutur dia.
Terlebih lagi, menurut Juan, jumlah sapi yang begitu banyak
itu dikuasai masyarakat atau peternak rakyat, sehingga tidak bisa ditentukan
berapa sapi yang tersedia di pasar. “Mereka menjual kalau butuh. Padahal, untuk
kebutuhan industri, pasokan daging harus kontinu,” tutur dia.
Sebab itu, menurut Juan, pengembangan sapi dalam negeri ke
depan harus berskala industri, sehingga bisa menjamin pasokan ke industri
pengolahan daging. Namun, investor peternakan juga harus menggandeng peternak
rakyat melalui pola inti-plasma. “Kalau tidak melibatkan peternak rakyat,
percuma,” ucap dia. [ID/H-12]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
