Kemnakertrans Gandeng NU dan Ormas Dampingi Keluarga TKI
Selasa, 22 Mei 2012 | 10:29
Muhaimin Iskandar [google] [JAKARTA] Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
menggandeng Nadhlatul Ulama (NU) dan sejumlah organisasi kemasyarakatan untuk
mendampingi keluarga TKI yang ditinggal pergi jauh oleh para Tenaga Kerja
Indonesia (TKI) ke berbagai negara sehingga keluarganya merasa tenang, tenteram
dan tidak khawatir.
Demikian dikatakan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, dalam siaran persnya yang diterima
SP Senin (21/5). Hal ini diungkapkan Muhaimin saat melakukan sosialisasi slogan TKI
"Jangan Berangkat Sebelum Siap" dengan keluarga TKI di Pondok
Pesantren Nurul Hidayah, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Jawa
Timur, Senin (21/5).
Anggota organisasi kemasyarakatan itu, kata dia, akan diminta untuk melakukan penyuluhan, bantuan
advokasi dan pendampingan agar para TKI,keluarga TKI maupun TKI purna
bisa segera mendapatkan solusi atas masalah tengah yang dihadapi.
“Organsisasi kemasyarakatan ini juga akan dilibatkan dalam pelatihan wirausaha kepada keluarga TKI dan TKI purna,
dengan harapan dapat membuka lapangan kerja baru bagi keluarga TKI maupun
lingkungannya,” kata Muhaimin.
Muhaimin mengatakan, secara nasional, pemerintah
akan melakukan pengembangan pelatihan kewirausahaan di 38 kabupaten/kota
kantong TKI utama dari 159 kab/kota pengirim TKI di seluruh Indonesia. Hal ini
dilakukan sebagai upaya mengurangi pengiriman TKI sektor informal ke luar
negeri, dan menciptakan peluang kerja di desa-desa.
“Nantinya mereka diharapkan tidak berniat lagi
bekerja ke luar negeri karena telah menemukan lapangan pekerjaan yang baru
yaitu melakukan wirausaha mandiri di kantong-kantong TKI tersebut, “kata
Muhaimin.
Muhaimin mengatakan, para calon TKI juga disarankan untuk beralih
ke pekerjaan di sektor formal yang antara lain dicirikan memiliki gaji memadai,
memiliki hari libur, mendapatkan jaminan sosial dan berbagai hak dan kewajiban
itu harus didasarkan atas kontrak kerja yang detil, jelas dan komprehensif.
Muhaimin mengatakan, memang masih ada permasalahan terkait
dengan TKI namun pemerintah akan terus melakukan pembenahan dalam sistem
penempatan dan perlindungan TKI baik sebelum atau sesudah pemberangkatan.
"Saya juga menghimbau agar tidak berangkat tanpa persiapan.
Ada empat siap yang harus dilakukan yaitu siap fisik dan mental, siap bahasa
dan keterampilan, siap dokumen dan siap pengetahuan negara tujuan,"
katanya.
Kesiapan fisik dan mental disebut Menakertrans mutlak dibutuhkan
karena pemerintah tidak akan mengijinkan pencari kerja yang sakit bekerja
diluar negeri dimana pemerintah negara tujuan juga pasti akan menoak calon TKI
yang memiliki riwayat sakit, apalagi penyakit menular.
Sedangkan kesiapan bahasa dan keterampilan dibutuhkan karena banyak
kejadian kekerasan disebabkan karena TKI tidak paham apa yang disampaikan
majikannya. "Keterampilan kerja juga harus disiapkan sebaik-baiknya dan
harus berijazah atau bersertifikasi," ujar Muhaimin.
Kesiapan dokumen dibutuhkan karena selain merupakan tindakan
kriminal, akan menyulitkan diri sendiri jika tertimpa masalah. Sedangkan
kesiapan pengetahuan mengenai negara tujuan dijelaskan Menakertrans bahwa
sebelum berangkat, calon TKI harus belajar seluk beluk negara tujuan seperti
budaya, hukum maupun nomor-nomor telpon penting terutama perwakilan RI seperti
KBRI atau KJRI.
"Kalau pengetahuan ini dimiliki, perlindungan akan lebih
mudah dilakukan," ujar Muhaimin.
Dijelaskan Muhaimin , Pemerintah juga sedang menyusun roadmap
penempatan TKI yang antara lain menargetkan di tahun 2017 untuk menghentikan
pengiriman dan penempatan TKI penata laksana rumah tangga hingga ke titik nol
dan hanya mengirimkan yang bekerja di sektor formal.
"Sudah
ada peningkatan jumlah TKI formal dibandingkan sebelumnya. Kalau dulu 70 persen
TKI bekerja di sektor informal, sekarang 45 persen bekerja di sektor formal.
Suatu hari nanti TKI harus semuanya formal," kata Muhaimin.
Saat ini ada sekitar 6,5 juta TKI yang bekerja di berbagai negara
antara lain di Malaysia sebanyak 2 juta orang, Saudi Arabia 1,5 juta dan di
negara-negara lain seperti Hongkong, Korea atau Jepang sebanyak 3 juta.
Sedangkan uang yang dikirimkan dari para TKI ke keluarga mereka di tanah air
disebut Muhaimin mencapai Rp 60 triliun pada tahun 2011 lalu.
Lebih lanjut Muhaimin Iskandar mengatakan jumlah TKI yang
bermasalah sangat kecil dibandingkan dengan yang berhasil yaitu hanya sekitar
1-2 persen dari total 6,5 juta TKI yang saat ini berada di berbagai negara.
"Dari yang berangkat jadi TKI, cuma 1-2 persen yang bermasalah,
jangan sampai yang tidak bermasalah jadi 'korban'. Banyak juga TKI yang
berhasil," kata Muhaimin. [E-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Dahlan Iskan jadi Dosen di Universitas Beijing
Menjadi Negara Maju, RI Mesti Kembangkan Inovasi Teknologi
Samsung Diminta Jadikan Indonesia Basis Produksi
KEN Minta Industri Korea Tampung Lebih Banyak Tenaga Kerja Indonesia
Belajar dari Korea, KEN Dorong Pendirian Pasar Tani
BRI Jaring Nasabah Baru di IBEX
Perbanas Desak Pemerintah Soal Kepastian Harga BBM
