Kedelai, Potret Ketakberdayaan Negara
Senin, 30 Juli 2012 | 13:17
Harga kedelai naik memicu perajin tempe dan tahu di Jabodetabek melakukan aksi mogok [SP/Adi Marsiela] Dalam empat tahun
belakangan ini tercatat tiga kali terjadi lonjakan harga kedelai. Setiap krisis
tersebut, solusi jangka pendek menjadi senjata penenang. Persoalan mendasar untuk
mewujudkan swasembada kedelai tidak pernah diwujudkan dan selalu menjadi slogan
para elit negeri ini. Berikut ulasan wartawan SP Heri S Soba.
Tekad dan janji pemerintah agar 2014 bisa tercapai
swasembada kedelai bakal menjadi slogan dan isapan jempol belaka. Sebagaimana
beras, jagung, gula, garam, ikan, serta buah-buahan tropis lainnya, kedelai pun
bernasib sama dengan sejumlah janji tanpa solusi. Hampir setiap tahun persoalan
yang sama terus berulang. Untuk krisis kedelai, tercatat pada Januari 2008 dan
Februari 2011 juga pernah terjadi lonjakan harga akibat pasokan yang menipis.
Ketidakberdayaan negara atas pasar menjadi persoalan mendasar yang berdampak
pada ketergantungan impor dan fluktuasi harga.
Melonjaknya
harga kedelai akibat pasokan yang terbatas menjadi bukti bahwa berbagai program
dan upaya yang dirancang beberapa tahun lalu tidak efektif. Lonjakan harga
kedelai yang berakibat pada meningkatnya biaya produksi tahu dan tempe tersebut
sebenarnya sudah berulang kali terjadi. Selama lonjakan itu pula, belum pernah
ada solusi tepat dalam produksi dan tata niaga untuk mengatasi lonjakan harga
kedelai.
Ketergantungan
Indonesia pada kedelai impor sangat tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat
Statistik (BPS) 2011, produksi kedelai lokal hanya 851.286 ton atau 29 persen
dari total
Indonesia harus mengimpor kedelai 2.087.986 ton untuk
memenuhi 71 persen kebutuhan kedelai dalam negeri. Pada 2012, total
kebutuhan kedelai nasional 2,2 juta ton. Jumlah tersebut akan diserap untuk
pangan atau perajin 83,7 persen; industri kecap, tauco, dan lainnya 14,7
persen; benih 1,2 persen; dan untuk pakan 0,4 persen. Impor kedelai terbesar
Indonesia dari Amerika Serikat dengan jumlah 1.847.900 ton pada 2011.
Kemudian,
impor dari Malaysia 120.074 ton, Argentina 73.037 ton, Uruguay 16.825 ton, dan
Brasil 13.550 ton.
Anomali
cuaca di Amerika Serikat dan Amerika Selatan menyebabkan pasokan kedelai pun
turun dan harganya melonjak. Harga kedelai internasional pada minggu ke-3 Juli
2012 mencapai 622 dolar AS per ton atau Rp 8.345 per kilogram (kg) untuk harga
impor di dalam negeri.
Harga ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan
harga tertinggi pada 2011, yaitu bulan Februari sekitar 513 dolar AS per ton
atau harga paritas impor di dalam negeri sekitar Rp 6.536 per kg.
Dengan
harga kedelai impor yang menembus Rp 8.000 per kg menyebabkan para perajin
tempe dan tahu terancam gulung tikar karena daya beli konsumen yang terbatas.
Harga kedelai tersebut meningkat dari rata-rata Rp 5.500-Rp 6.500 per kg.
Di tengah gejolak harga kedelai, perlu dipahami bahwa ada
dua persoalan dalam pasokan kedelai, yakni produksi dan distribusi.
Untuk
produksi, sekalipun banyak janji ada jutaan hektare (ha) lahan terlantar,
Indonesia selalu kesulitan dalam ekspansi lahan sampai pada tingkat
pemanfaatan.
Dalam rencana kerja Kementerian Pertanian, untuk mencapai
swasembada kedelai pada 2014, maka produksi harus mencapai 2,7 juta ton. Namun,
upaya swasembada ini masih terkendala masalah lahan. "Swasembada kedelai
memerlukan tambahan lahan minimal 500 ribu ha," kata Menteri Pertanian
Suswono.
Ioronisnya, rencana tambahan
lahan yang pernah digagas dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) pun tak pernah
terwujud.
Selain perluasan lahan, pemerintah juga menargetkan peningkatan
produksi kedelai dengan sistem tumpang sari dengan potensi lahan setara 200
ribu ha. Selain perluasan lahan, Kementerian Pertanian juga mengupayakan
peningkatan produktivitas dari 1,3 ton per ha menjadi 1,54 ton per ha,
pemberian bantuan benih unggul, meningkatkan penggunaan pupuk, dan pengendalian
organisme pengganggu tanaman.
Jika melihat kenyataannya, hampir semua
rencana tersebut tidak berjalan optimal. Bahkan, ada beberapa rancangan program
tidak pernah terealisasi dan hanya menjadi bahan kampanye rutin untuk menghibur
para calon pemilih. Ironisnya lagi, rakyat Indonesia seakan “buta” atas
manipulasi tersebut dan tidak pernah memberikan sanksi terhadap keasalahan yang
dilakukan para pemimpin negara ini.
Saat ini, jika berbicara soal kedelai pada tingkat petani, maka minat budidaya
sangat rendah. Petani lebih memilih padi dan jagung dibandingkan kedelai yang
minim insentif dan sulit dalam pemasarannya. Sebenarnya, faktor harga jual yang
rendah pun menyebabkan petani enggan untuk menanam kedelai. Untuk itu, ketika
harga kedelai melonjak justru lebih banyak disuarakan oleh para konsumen dan
produsen tahu serta tempe.
Sebaliknya, petani justru berharap pada harga yang
layak dibandingkan dengan rata-rata Rp 5.000 per kg di tingkat petani saat ini.
Berbagai
faktor yang kurang menunjang peningkatan produksi tersebut adalah akibat dari
dibukanya keran impor kedelai sejak satu dekade silam. Indonesia pernah
swasembada kedelai pada 1992 dengan proteksi. Tetapi setelah krisis moneter
1998, Dana Moneter Internasional (IMF) mendikte Indonesia agar tidak memberikan
proteksi kepada kedelai.
Dengan konsumsi kedelai dalam negeri yang mencapai 1,9
juta ton per tahun, hal itu menjadi peluang bisnis yang sangat menguntungkan.
Dalam letter of intent (LoI) IMF, proteksi impor yang selama ini dipegang Badan
Urusan Logistik (Bulog) harus dihapuskan sehingga impor bisa masuk.
Awalnya, kemampuan impor kedelai Indonesia tidak terlalu
besar karena kapasitas finansialnya terbatas, sedangkan produksi kedelai di
negara-negara produsen berlimpah.
Sejak awal pintu impor dibuka, banyak
fasilitas kredit ekspor yang diperoleh eksportir negara-negara produsen yang
bekerja sama para importir lokal. Negara-negara tersebut memberi pinjaman tanpa
bunga kepada Indonesia untuk impor kedelai, sehingga kemudian bisa dipasarkan
di dalam negeri.
"Seharusnya
kita curiga kenapa bisa pinjam tanpa bunga.
Padahal bunga deposito saat itu
mencapai 50-60% dan paling rendah 30%. Akibatnya, saat ini 70% kebutuhan
kedelai dalam negeri dipenuhi dari impor. Kalau pemerintah dan pengusaha sudah
akrab, apapun bisa terjadi," kata Guru Besar Universitas Gadjah Mada
Mochammad Maksum dalam rapat dengar pendapat umum dengan Komisi IV DPR di
Jakarta, pada pertengahan Februari 2012 lalu.
Sejumlah importir yang tadinya menikmati berbagai fasilitas kredit ekspor itu
pun semakin lama berkembang dengan akumulasi modal yang terus bertambah. Secara
bersamaan, kebijakan pemerintah tidak pernah dirancang untuk kepentingan jangka
panjang sehingga menjadi kesempatan bagi para importir. Setiap ganti rezim
dengan ganti menteri akan diikuti dengan program yang berganti-ganti.
“Kondisinya
akan semakin parah ketika program-program kementerian lebih berorientasi untuk
kepentingan konstituen dan partai politik pendukungnya. Jangan heran jika
Indonesia sulit mewujudkan kedaulatan pangan. Kalaupun tidak ada korupsi,
program-program pembangunan pertanian diarahkan untuk kepentingan tertentu,”
kata Direktur Eksekutif Institute for Sustainable Agriculture and Rural
Livelihood (Elsppat) Daniel Mangoting.
Dengan berbagai kondisi di atas, tidak heran jika lahirlah sejumlah miliarder
hanya dengan impor kedelai. Segelintir importir tersebut menjadi sedemikian
kuat sehingga sulit untuk dikendalikan karena menguasai sekitar 60% pasokan
kedelai. Belakangan, para importir itu dicurigai sebagai kartel di belakang
gejolak harga kedelai akhir-akhir ini.
Importir kedelai yang tedaftar di
Kementerian Perdagangan tercatat lebih dari 70 perusahaan. Namun, hanya
nama-nama tertentu yang menjadi penentu pasok dalam skala besar. Informasi yang
diperoleh SP menyebutkan sejumlah importir besar tersebut, seperti PT
Cargill Indonesia, PT Gerbang Cahaya Utama, PT Sekawan Makmur Bersama, PT
Teluk Intan, PT Sungai Budi dan PT Gunung Sewu. Upaya SP mengkonfirmasi
para importir tersebut belum bisa dilakukan sehingga tidak ada penjelasan yang
lebih rinci. Kedelai yang diimpor dari Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina
tercatat antara 200 ribu ton hingga 500 ribu ton untuk setiap perusahaan.
Dugaan kartel tersebut sebenarnya masih harus dicari bukti obyektifnya. Namun,
jika seorang Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono saja sudah mengatakan,
“jangan ada praktik kartel dalam kedelai impor”, itu berarti menunjukkan adanya
indikasi kartel tersebut. SBY meminta media bersama-sama lembaga swadaya
masyarakat membantu pemerintah melakukan pengawasan atas bisnis kedelai.
"Apabila
kartel melakukan kejahatan, hukum harus ditegakkan. Saya berharap struktur
perdagangan kedelai, terutama impor kedelai, bisa lebih baik. Jangan ada yang
mendominasi impor kedelai," kata SBY seusai sidang kabinet bidang ekonomi,
Jumat (27/7).
Kartel juga dirasakan para perajin tahu dan tempe yang meminta pemerintah
menghapus dugaan praktik itu dalam impor kedelai. Pemerintah dituntut mengawasi
importir kedelai agar mau bersikap transparan. Namun, mampukah negara melawan
kartel? Bisakah seorang SBY yang dikenal sangat propasar untuk melakukan
intervensi negara dalam perdagangan dan produksi kedelai?
Sejauh ini harus
diakui bahwa hampir tidak ada kebijakan pemerintah yang menyentuh persoalan
tata niaga kedelai yang pada praktiknya hanya dikuasai segelintir orang.
Menurunkan dan menaikkan bea masuk (BM) hanyalah cara jangka pendek untuk
mensiasati situasi darurat. Setelah itu, pemerintah kembali berkutat pada
program peningkatan produksi.
Praktik kartel yang sudah
diketahui banyak kalangan elit bangsa ini, termasuk DPR pun, nyaris tidak mampu
dicarikan solusinya. Pola yang mirip ada pada impor beras, gula, garam, dan
produk impor lainnya.
Sebenarnya, Indonesia mampu memproduksi sendiri berbagai komoditas pertanian
yang terlanjur diimpor. Persoalannya terletak pada kemauan para pemimpin bangsa
ini dalam bekerja sama untuk mencapai tujuan tersebut. Data Badan Pusat
Statistik (BPS) selama bulan Januari-Juni 2011 menunjukkan bahwa impor pangan
Indonesia mencapai 11,33 juta ton dengan nilai sekitar Rp 45 triliun. Komoditas
impor itu bervariasi, seperti beras, jagung, kedelai, dan terigu. Angka
tersebut menunjukkan betapa negara yang tergolong miskin anggaran ini, terpaksa
menguras segala sumber daya untuk membayar komoditas impor yang seharusnya bisa
diproduksi sendiri.
Anggaplah cukup Rp 4,5 triliun dari dana tersebut digunakan
untuk memberikan subsidi dan berbagai program kepada petani kedelai hingga
pascapanen, maka kedelai unggul di Grobogan, Jawa Tengah, yang mempunyai
produktivitas hingga 4 ton per ha bisa menggantikan impor. Faktor produksi lahan,
benih, tenaga kerja, hingga pasar ada di negeri ini, sayangnya para pemimpin
bangsa ini belum ada yang mempunyai visi dan tekad membela kepentingan bangsa
dan rakyat. Lonjakan harga kedelai adalah salah satu bukti betapa bangsa
ini akan terus bergantung pada produk impor yang menyengsarakan rakyatnya,
tetapi para pemimpin dan elit negeri ini tenggelam dalam kesenangan sesaat
selama berkuasa.
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
