Jelang Puasa dan Lebaran, Pengusaha Makanan dan Minuman Mulai Genjot Produksi
Rabu, 4 Juli 2012 | 15:30
Ilustrasi parcel Lebaran [google] [JAKARTA] Sejumlah pengusaha makanan dan minuman di Indonesia mulai
menggenjot produksinya menjelang bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri 1433
Hijriah.
"Saat ini memang terjadi peningkatan produksi yang bisa dikatakan sebagai
ritual menjelang puasa dan Lebaran. Industri pasti akan meningkatkan
kapasitasnya produksinya," kata Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha
Makanan dan Minuman Indonesia Franky Sibarani saat dihubungi ANTARA di Jakarta,
Rabu.
Menurut dia, peningkatan produksi bisa mencapai antara 20 hingga 30 persen
dengan tujuan untuk mengejar persediaan di sentra distribusi wilayah karena
permintaan konsumen yang meningkat.
Selain itu, Franky menjelaskan terdapat kekhawatiran distribusi pasokan produk
yang terhenti jika dikirim saat puasa atau menjelang Lebaran karena pengutamaan
kendaraan lebih kepada pemudik daripada produk industri.
"Kami juga perlu mengantisipasi distribusi yang relatif pada dua pekan
sebelum Lebaran pasti sudah akan terjadi kepadatan atau antrean karena
peningkatan volume kendaraan ke daerah," jelas Franky.
Hal serupa, menurut Franky, juga terjadi di pelabuhan penyeberangan karena
lokasi industri banyak di wilayah Jabodetabek, maka pengiriman untuk wilayah
Sumatera harus ditingkatkan akibat antrean pelabuhan Merak menuju Bakauheuni
yang dipastikan memanjang.
Dia menjelaskan kendaraan yang diutamakan untuk diseberangkan adalah kendaraan
pemudik, kemudian urutan kedua adalah kendaraan pengangkut Bahan Bakar Minyak
(BBM) dan kebutuhan Sembako serta selanjutnya adalah sayuran dan produk lain.
"Oleh karena itulah industri meningkatkan produksi lebih tinggi dan
pendistribusian yang lebih awal," paparnya.
Kendati permintaan meningkat, Franky menegaskan tidak ada kenaikan di bulan
puasa atau menjelang Lebaran.
Dia mengatakan harga produk industri makanan dan minuman tidak akan melonjak
karena momentum bulan puasa, melainkan lebih bergantung kepada bahan baku dan
bahan kemasan.
"Namun, dalam satu bulan terakhir ini tidak ada tanda kenaikan bahan baku
dan kemasan itu," kata Franky. [Ant/L-9]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
