Laporan Khusus SP
Insentif Pangan dan Gejolak Pedesaan
Senin, 13 Februari 2012 | 13:18
Sebuah kolam renang dan tempat wisata yang dialihfungsikan dari lahan sawah di Pekalongan, Jawa Tengah, adalah bukti pemerintah sulit mengendalikan konversi lahan. Petani pun semakin tersingkir dari lahan miliknya karena tekanan kemiskinan.
Berbagai upaya dilakukan agar posisi sebagai importir pangan
bisa menjadi pemasok pangan dunia. Potensi dan peluang itu ada, tapi hanya
menjadi slogan ketika tidak ada keberpihakan yang jelas dari kebijakan dan para
pimpinan pemerintahan. Berikut laporan wartawan SP Heri Soba.
Pekan lalu, digelar Jakarta Food Security Summit (JFSS)
2012, dengan menghadirkan ratusan pelaku industri pertanian, pemerintah,
perbankan dan pihak terkait lainnya. Banyak isu dan wacana terkait pangan,
mulai dari peningkatan produksi, pengurangan konsumsi beras dan peningkatan
makanan lokal, pembiayaan pertanian, hingga insentif untuk food estate.
Acara bertema Indonesia Feed The World (Indonesia Pemasok
Pangan Dunia) tersebut boleh dibilang masih jauh dari kenyataan Indonesia
sebagai pengimpor pangan saat ini. Potensi dan peluang itu sangat terbuka,
tetapi sangat ditentukan oleh banyak faktor dan syarat. Ironi sebagai pemasok
pangan dunia tersebut tidaklah, apalagi Indonesia masih jauh dari Vietnam,
Thailand, bahkan Malaysia sekalipun.
Belum lagi jika membandingkan China, Jepang, Korea Selatan,
atau negara-negara maju lainnya. Sebaliknya, negara-negara tersebut cenderung
menjadikan Indonesia sebagai pasar produk pertanian mereka. Buktinya, bisa
dilihat dari sejumlah kasus proteksi dan subsidi berlebihan terhadap petani dan
produk pangan masing-masing negara eksportir pangan.
Sejumlah pimpinan Kamar Dagang dan Industri (Kadin)
Indonesia selaku penyelenggara JFSS tersebut dalam sejumlah kesempatan beberapa
kali menguraikan perlunya membangun pertanian dengan mencontoh pola inti-plasma
dalam perkebunan kelapa sawit. Bisa dimaklumi, sebagai pelaku sektor perkebunan
skala besar, pola kelapa sawit adalah contoh yang bisa dikatakan “sukses”.
Sekalipun, tidak semua pola tersebut berhasil dengan baik.
Demikian juga peran dan posisi petani tidak selamanya
berdaulat dalam arti yang seluas-luasnya karena prinsip perkebunan, termasuk food estate, sebenarnya bentuk lain dari
kelanjutan mentalitas zaman kolonial alias cultuurstelsel
baru.
Food estate yang
marak dikembangkan belakangan ini di Kalimantan dan Papua pun semakin digenjot
dengan sejumlah skim insentif khusus dan fasilitas tax holiday 10 tahun dalam
mewujudkan swasembada dan kemandirian pangan.
Selain desakan wacana mendukung food estate tersebut, Kadin juga memberi
insentif pembiayaan usaha agribisnis skala kecil menengah melalui Palapa Fund
senilai Rp 200 miliar.
Inisiatif pihak swasta tersebut adalah melanjutkan program
pemerintah untuk menopang pertanian Indonesia seperti subsidi bunga, subsidi
input dan sarana produksi. Sayangnya, masih ada persoalan dalam kepastian hukum
kepemilikan lahan dan jaminan harga.
Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) Gita
Wirjawan dan Menteri Perindustrian MS Hidayat menyatakan, guna menggenjot
produksi pangan secara signifikan, usaha skala besar pertanian (food estate) perlu mendapat insentif
khusus. Insentif tersebut tidak hanya menyangkut kegiatan budidaya, tapi juga
pembangunan infrastruktur pendukung, seperti jalan, pelabuhan, listrik, dan
sebagainya.
“Investor food estate akan
diusulkan mendapat tax holiday sehingga
mereka bebas pajak korporasi. Insentif akan diberikan bila investor membangun
infrastruktur, seperti pelabuhan dan jaringan listrik. Dalam jangka waktu 10
tahun, misalnya, fasilitas itu jadi aset negara," ujar Hidayat dalam acara
itu.
Beberapa grup besar mulai merintis food estate seperti Sinarmas, Medco, Rajawali, dan Wilmar. Menurut
Gita, BUMN juga akan dilibatkan dalam pembangunan food estate. Saat ini, sejumlah negara seperti Amerika Serikat,
Tiongkok, dan negara-negara Uni Eropa sudah memberikan insentif untuk sektor food estate, termasuk insentif kepada
para petani. Paling tidak, food estate juga
menjadi solusi sementara bagi Menteri Pertanian Suswono agar tidak dipusingkan
lagi dengan impor beras yang hampir menembus 2 juta ton/tahun saat ini.
Dukungan kepada pengusaha, khususnya perkebunan, sejak
beberapa dekade silam memang besar. Ironisnya, petani sebagai pelaku utama
justru belum mendapat prioritas. Saat ini lebih dari 23 juta keluarga yang
bekerja di sektor pertanian dan mayoritasnya miskin. Petani selaku produsen
harus mendapat insentif berupa jaminan nonharga dan pembiayaan.
Selain itu, karena usaha petani umumnya skala kecil, maka
perlu pengorganisasian agar memiliki kekuatan besar dan skala usaha yang layak.
Saat ini kebanyakan petani memiliki lahan sempit, rata-rata 0,3 hektare
(ha). Parahnya lagi, pengorganisasian
yang seharusnya menopang petani justru hanya menjadi alat politik. Lihat saja
Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) pecah karena berebut kekuasaan.
Mudah-mudahan dualisme itu menjadi persaingan memberikan
yang terbaik bagi petani. Padahal, HKTI seharusnya berdiri di barisan terdepan
ketika isu reforma agraria yang dilontarkan puluhan organisasi petani yang
lebih berbasis di tingkat petani.
Insentif yang dibutuhkan petani adalah input dan sarana
produksi, dengan harga yang terjangkau. Saat ini sarana produksi yang disubsidi
banyak diselewengkan sehingga petani tetap membeli dengan harga mahal.
Pemerintah perlu memberikan subsidi bunga kepada sektor pertanian sehingga
perbankan tidak rugi ketika memberikan bunga rendah kepada petani. Masih banyak
persoalan dalam membenahi pertanian, seperti penyediaan infrastruktur, energi,
dan kepastian hukum terutama kepemilikan tanah.
Bisa dimaklumi jika Bank Indonesia (BI) pun terus mendorong
industri perbankan untuk membiayai sektor pertanian. Demikian juga penyaluran
Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga diharapkan mengucur ke sektor pertanian, selain
sektor jasa.
"Hingga saat ini sebagian KUR tersalurkan kepada sektor
jasa. Untuk itu, ke depannya kita ingin mendorong ke sektor pertanian,"
ujar Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawaty, pekan lalu.
Dukungan-dukungan yang diberikan diatas adalah bagian dari
upaya menopang industri pertanian skala besar. Dalam sejumlah kesempatan, Kadin
senantiasa mencontohkan keberhasilan Brasil dalam menerapkan skema pembiayaan
sehingga menjadikan produsen besar dunia untuk kedelai, tebu, dan peternakan.
Di Indonesia, kisah sukses serupa terjadi pada komoditas kelapa sawit dengan
pola inti-plasma sebagai kemitraan petani dan perusahaan. Sekitar 40% kebun
sawit adalah perkebunan rakyat dan kini sawit menjadi primadona.
Melihat produksi sawit nasional dan prospek industri turunan
minyak kelapa sawit (CPO) maka sulit terbantahkan bahwa ada kontribusi bagi
devisa perekonomian nasional. Banyak konglonmerat, atau setidaknya miliarder
justru dari investasi kelapa sawit. Belakangan, investasi sawit semakin bergairah
dengan pemain-pemain baru. Ada yang “mensinyalir” sebagian investasi baru
tersebut adalah praktik pencucian uang para koruptor yang berkolaborasi dengan
pimpinan pemerintahan daerah dan pengusaha-pengusaha baru.
Memang pola inti-plasma menjadi salah satu alternatif yang
juga disarankan dalam membangun peternakan di Indonesia Timur sehingga bisa
menyaingi produsen sapi Australia dan Selandia Baru. Walaupun, belum menjawab
persoalan mendasar bagi kesejahteraan para petani itu sendiri. Booming kelapa sawit dua dekade silam,
termasuk perluasan pola inti-plasma dalam dengan transmigrasi seperti
Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Transmigrasi, ternyata tidak selamanya sukses.
Ada sejumlah pelaku bisnis sengaja mengikuti pola itu hanya
sekadar mendapatkan pinjaman lunak yang kemudian dialihkan untuk investasi
lainnya. Persoalan lahan dan pengelolaan kelapa sawit ditinggalkan begitu saja.
Pada saat bersamaan, petani dan masyarakat lokal seakan tergusur dari pola
inti-plasma sehingga menimbulkan ketegangan baru. Persoalan agraria pun muncul
ke permukaan, tidak hanya dalam investasi perkebunan, tetapi lebih luas karena
petani semakin tergusur atas lahannya sendiri.
Kasus pembantaian Mesuji, Lampung, dengan puluhan korban
beberapa tahun silam adalah satu dari ratusan contoh atas bencana dari
ketidakpastian lahan bagi petani. Masih banyak kasus serupa di Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua yang bakal meledak dan tinggal menunggu
waktu karena rakyat kecil dan petani berusaha untuk mempertahankan diri. Tidak
heran jika sosiolog pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Arya Hadi Darmawan
akhirnya menuangkan aspirasinya terkait paradoks petani dan pengusaha,
kemiskinan dan kapitalisme, ironi pedesaan dan kehilangan lahan, hanya untuk
menjelaskan perlawanan dan anarkisme dari kaum tertindas belakangan ini.
Benarkah keluhan seorang Arya Hadi yang sehari-hari juga
menjadi peneliti Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB ini,
sebenarnya suara batin rakyat jelata? Fenomena kekerasan di sejumlah desa
belakangan ini tidak bisa dipahami dalam konteks investasi ataupun percepatan
investasi pertanian sebagaimana dipelajari Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono
ketika meraih gelar doktor dari IPB dan dipertanyakan oleh Arya Hadi.
“Gejolak ini berakar kuat pada krisis pedesaan yang
bertali-temali dengan krisis penguasaan sumber-sumber penghidupan (tanah, air,
hutan, dsb). Sayangnya, waktu terlalu cepat dan anda tidak sempat berkenalan
dengan sosiologi pedesaan,” demikian kutipan surat terbuka Arya Hadi kepada SBY
yang beredar luas pada pertengahan Januari lalu.
Krisis pedesaan itu sebenarnya
bertali-temali dengan krisis kependudukan dan krisis ekologi yang menambah
warna krisis pedesaan semakin kelam. Dalam suasana krisis yang kelam tersebut,
rakyat menghadapi jalan buntu untuk memastikan jaminan hak-hak hidupnya. Jalan
buntu yang lebih membuat frustrasi adalah tak ada jalan kemana harus mengadu
karena negara [dengan seluruh perangkat] menjadi terlalu asing bagi mereka dan
lebih suka mendengar bukan suara orang-orang desa, melainkan suara lain dari
pihak yang selama ini berseberangan dengan orang-orang desa (suara pemodal yang
berselingkuh dengan para rent-seeker negeri
ini).
Sejauh ini tidak ada tanggapan sedikitpun dari SBY soal
surat terbuka Arya Hadi. Bahkan, para “dayang-dayang” SBY di lingkaran istana
malah menginterogasi Arya Hadi sehingga untuk beberapa lama tidak mau bersuara
menjelaskan lebih dalam soal surat terbukanya. Padahal, SBY mungkin malah
senang karena ada usul saran atas disertasinya ketika meraih gelar doktor di
IPB dengan berjudul "Pembangunan Pertanian dan Pedesaan sebagai Upaya
Mengatasi Kemiskinan dan Pengangguran, Analisis Kebijakan Ekonomi, Politik, dan
Fiskal".
Saat itu, disertasi doktor pada September 2004 tersebut menjadi
bagian dari kampanye pemilihan presiden (pilpres) SBY untuk mencari solusi atas
persoalan pangan dan kemiskinan.
Menurut salah satu dosen pembimbing doktoral SBY, yang juga
guru besar IPB Bunasor Sanim, pemikiran-pemikiran SBY soal bangsa dan khususnya
pertanian sudah bagus. Persoalannya adalah lingkaran para pembantunya yang
kurang mendukung. Namun, Bunasor tidak menanggapi secara khusus terkait
sejumlah fenomena dan gejolak pedesaan yang belakangan ini semakin kuat.
Bunasor, Anny Ratnawaty, Joyo Winoto yang kini menjabat Kepala Badan Pertanahan
Nasional (BPN) beserta sejumlah doktor IPB yang terlibat dalam disertasi
doktoral SBY seharusnya menggali kembali pemikiran sang presiden agar tidak
menjadi slogan semata dan kemudian terkubur bersama waktu. ***
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Hari Ini, Presiden Tunjuk Chatib Basri jadi Menkeu
Pemerintah Serius Pikirkan TKI Kalau Ada Maunya Saja
Masuk Rekor Muri, Penjualan Avanza Tembus 1,1 Juta Unit
6,5 Gram Emas Per Tahun Hilang Akibat Bayar Tunai
SBY Lakukan Fit & Proper Test ke Calon Menkeu
