SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 3 September 2014
Pencarian Arsip

Industri Khawatir Produksi Kakao Stagnan
Selasa, 11 Desember 2012 | 14:00

Dirjen Perkebunan, Gamal Nasir [SP/Surya Lesmana] Dirjen Perkebunan, Gamal Nasir [SP/Surya Lesmana]

[KENDARI] Para stakeholder menghendaki pemerintah untuk melanjutkan Gerakan Nasional (Gernas) Kakao pada masa mendatang. Gernas dinilai sebagai salah satu program berkesinambungan dalam mencapai sasaran pemerintah sehingga Indonesia menjadi produsen biji kakao terbesar di dunia pada 2020.  

Saat ini Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia dalam produsen kakao, setelah dua negara Afrika, Pantai Gading dan Ghana, dengan memasarkan 18 % dari kakao dunia. Dengan kenaikan permintaan internasional yang setiap tahunnya meningkat sebesar 2-4% , dibutuhkan sekitar 3,5 juta ton untuk memenuhi kebutuhan pasar global.

Hal itu terungkap dalam rangkaian kegiatan Kementerian Pertanian (Kemtan) bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada peringatan Hari Perkebunan ke-55, Minggu (9/12) hingga puncak kegiatan pada Senin (10/12).

Peringatan digelar di Sulawesi karena menjadi koridor ekonomi pengembangan kakao. Kakao, kelapa sawit, dan karet menyumbang devisa dari sektor perkebunan mencapai US$ 3,3 miliar yang mampu bersaing dengan pemasukan dari minyak dan gas (migas) untuk negara.

Menurut Sindra Wijaya yang juga Dirut PT Bumi Tangerang Mesindotama yang memasok bubuk coklat dari olahan kakao ke Nestle, pelaku industri khawatir pada 2014 nanti kakao Indonesia tak mampu memenuhi permintaan pasar global. Produksi hanya bisa dipakai untuk pasar lokal.  

"Apalagi diketahui ada sejumlah petani yang tak lagi menanam dan merawat kakao, melainkan diganti dengan kelapa sawit," ungkapnya.

Untuk itu, Sindra meminta perlu Gernas Kakao perlu dilanjutkan dengan sasaran program pemberdayaan serta penyuluhan untuk peningkatan produktivitas kakao. Ia juga menilai peluang Indonesia untuk meningkatkan produksi kakao sangat besar dibandingkan Pantai Gading dan Ghana yang memiliki keterbatasan lahan, dan konflik serta keamanan di negara Afrika tersebut.

Dukungan untuk dilanjutkannya Gernas Kakao juga diutarakan Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (Apkai) Zamroni yang menekankan kelanjutan pada penyuluhan, SDM dan perbaikan bibit. Menurut Suharno, petani dari kelompok tani Cinta Tani, Desa Binoa, Konawe Selatan, Kendari, sebelum adanya Gernas, pihaknya hanya mampu menghasilkan 500 kilogram (kg) per hektare (ha), namun kini setelah ada gerakan nasional ini, produksinya meningkat mencapai 2.000 kg per ha.

Pihak Kemtan pada peringatan Hari Perkebunan yang dipusatkan di Kendari, diwakili Dirjen Perkebunan, Gamal Nasir. Menurut dia, Gernas kakao dimulai pada 2009 hingga 2011 dengan sasaran lima provinsi sebagai sentra pengembangan kakao. Karena dianggap belum memenuhi target mencapai 1,6 juta hektare pengembangan kakao, program Gernas dilanjutkan pada 2012 dengan dana mencapai 500 miliar.

Salah satu hasil yang dicapai untuk Provinsi Sultra dalam program Gernas kakao tahun ini adalah  diresmikannya Substasiun penelitian kakao di Konawe selatan, yang tujuannya untuk mengembangkan tanaman kakao unggul yang adaptif dengan kondisi agroklimat Sulawesi. Kemudian memperoleh teknologi pengendali organisme pengganggu tumbuhan, serta teknologi rekayasan alat dan mesin.

Terkait kelanjutan Gernas, Gamal tak bisa memberi jaminan karena saat ini hanyalah kelanjutan dan menyelesaikan program Gernas Kakao 2009-2011. "Setelah 2012,  Gernas Kakao masih dilanjutkan pada 2013 dengan dana Rp 300 miliar. Selebihnya masih kita lihat nanti karena bergantung pada kemampuan APBN," ungkapnya.

Hari perkebunan nasional diperingati setiap 10 Desember karena pada tanggal yang sama di tahun 1957 terjadi pengambilalihan perkebunan ekskolonial Belanda oleh pihak nasional. [L-9]

   




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»