Indonesia Termasuk Negara Progresif Pamerkan Konstruksi
Selasa, 24 April 2012 | 15:00
Ilustrasi pameran konstruksi [google] [JAKARTA] Indonesia
termasuk dalam negara yang paling progresif dalam penyelenggaraan pameran
konstruksi di dunia, sehingga menjadi pasar konstruksi yang besar dan
diperhitungkan di dunia.
Demikian dikatakan
Kepala Badan Pembinaan Konstruksi, Kementerian Pekerjaan Umum, Bambang
Goeritno Soekamto, di Jakarta, Selasa (24/4). Bambang mengatakan seperti itu
dalam rangka ConBuild Mining Indonesia 2012 dan Renewables Indonesia 2012 yakni
forum pameran dagang untuk mendiskusikan berbagai tren, teknologi serta potensi
dan proyeksi industri konstruksi, gedung, pertambangan Indonesia dan Renewables
Indonesia yang dilaksanakan di Jakarta, 2 - 5 Mei 2012.
Bambang mengatakan,
Indonesia menjadi progresif dalam pameran seperti itu karena Indonesia
merupakan negara yang memiliki wilayah sangat luas, kondisi geografis dan
bentang alam yang bervariasi.
Selain itu, jumlah
penduduknya termasuk kelompok negara berpenduduk tertinggi di dunia, tingkat
pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan tingkat pertumbuhan wilayah perkotaan yang
tinggi.
Dengan kondisi
tersebut, produk konstruksi di Indonesia sangat bervariasi dari tingkat yang
hanya memerlukan teknologi sederhana sampai dengan teknologi ultra tinggi.
Selain itu,
Indonesia sering memegang peranan penting dalam berbagai kegiatan hubungan
antar bangsa dan negara di dunia, karena Indonesia merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari kehidupan dunia dan kewajiban berkontribusi dalam mewujudkan
dunia yang lebih baik di masa yang akan datang.
Salah satu upaya
strategis yang dilakukan pemerintah Indonesia adalah berperan aktif dalam
pengembangan liberalisasi perdagangan barang dan jasa dalam berbagai fora di
dunia.
Bambang mengatakan, liberalisasi
perdagangan pada hakekatnya untuk meningkatkan kapasitas perdagangan global
yang lebih lebih efisien tanpa mengabaikan kepentingan nasional masing-masing
negara yang ikut serta dalam komitmen.
Pasar barang dan
jasa di setiap negara anggota secara bertahap menjadi lebih terbuka disesuaikan
dengan perkembangan kapasitas masing-masing negara.
Upaya peningkatan
kapasitas perekonomian memerlukan suntikan investasi baik dari dalam maupun
luar negeri.
Secara bertahap
Indonesia melengkapi berbagai sarana dan prasarana untuk menarik para pemilik
modal berinvestasi di Indonesia.
Percepatan dalam
penyediaan berbagai infrastruktur untuk mendukung kegiatan perekonomian menjadi
prioritas program pembangunan di Indonesia.
Namun demikian,
percepatan pembangunan infrastruktur tersebut apabila dengan peningkatan volume
pekerjaan yang besar, harus dilakukan dengan hati-hati.
Percepatan
pembangunan infrastruktur harus didukung dengan kesiapan sumber daya
konstruksi, termasuk material dan peralatan konstruksi.
Bambang menegaskan,
kegiatan pameran internasional itu merupakan bagian dari liberalisasi
perdagangan dunia. Pemeran ini menyediakan beragam solusi teknologi dan
sekaligus sebagai wadah best practice bagi pertemuan antara supplier-buyer
dalam sektor konstruksi dan gedung yang akan membantu mendorong percepatan
pembangunan infrastruktur Indonesia.
Menurut Bambang,
percepatan pembangunan infrastruktur Indonesia telah ditetapkan melalui program
Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang
didasarkan pada pendekatan "koridor ekonomi".
Kebutuhan dana
pembangunan infrastruktur untuk mendukung MP3EI adalah sebesar Rp 1.923
triliun. Kebutuhan tersebut diperhitungkan berdasarkan asumsi, bahwa untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari 5,5 - 5,6 persen pada tahun 2010 menjadi
7,0 - 7,7 persen pada tahun 2014 diperlukan dana pembangunan infrastrastruktur
2010 - 2014 diestimasikan sebesar Rp 1.923 triliun yang akan dipenuhi dari APBN
sebesar Rp 560 triliun atau 29 persen, APBD sebesar Rp 355 triliun atau 18
persen, BUMN dan BUMD sebesar Rp 341 triliun atau 18 persen, serta dari swasta
sebesar Rp 345 triliun atau 18 persen.
Dalam hal ini masih
terdapat kekurangan pendanaan sebesar Rp 324 triliun atau 17 persen.
Selaras dengan
program tersebut, alokasi dana pembangunan infrastruktur yang disalurkan
melalui Kementerian Pekerjaan Umum juga meningkat secara signifikan dari tahun
ke tahun.
Pada tahun 2012,
kata dia, alokasi anggaran pembangunan infrastruktur pekerjaan umum ditetapkan
sebesar Rp 62,56 triliun. Dalam tahun 2012, Kementerian Pekerjaan Umum mendapat
alokasi anggaran sebesar pembangunan sebesar Rp 12,62 triliun, sehingga APBNP
Kementerian PU meningkat menjadi Rp 75,146 triliun atau naik sebesar 29, 65
persen dibandingkan anggaran tahun 2011 sebesar Rp 57,96 triliun. [E-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Samsung Diminta Jadikan Indonesia Basis Produksi
Dahlan Iskan jadi Dosen di Universitas Beijing
KEN Minta Industri Korea Tampung Lebih Banyak Tenaga Kerja Indonesia
Belajar dari Korea, KEN Dorong Pendirian Pasar Tani
BRI Jaring Nasabah Baru di IBEX
Pesta Diskon E-Commerce Indonesia
Wapres: Dukungan Perbankan Percepat Kenaikan Harga BBM
