‘Indonesia Connectivity’ Terwujud pada 2025
Selasa, 21 Februari 2012 | 11:16
Hatta Rajasa [Dok. SP] [JAKARTA]
Pemerintah optimistis keterhubungan antarwilayah Indonesia atau
konektivitas Indonesia (Indonesia
connectivity) terwujud pada 2025. Saat itu, seluruh wilayah
Nusantara terhubung melalui jalan lintas provinsi, tol, jembatan, jalur
kereta api (KA), penyeberangan,
pelayaran, dan jalur penerbangan.
“Kami yakin
seluruh wilayah Indonesia
terkoneksi pada 2025. Itu memang target
pemerintah,” ujar Menko Perekonomian
Hatta Rajasa di Jakarta, baru-baru ini.
Menurut Hatta, untuk mewujudkan konektivitas
Indonesia, pemerintah fokus mengembangkan kawasan timur Indonesia (KTI) melalui
implementasi Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
(MP3EI). Kebijakan itu untuk membuka
seluas-luasnya akses dan potensi ekonomi KTI agar
tercipta kesetaraan pembangunan.
“Fokus
utamanya adalah meningkatkan
ketersediaan infrastruktur, khususnya di
koridor V dan koridor VI yang mencakup
Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan
sebagian wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB),”
papar dia.
Pemerintah, kata
Hatta, telah menggiatkan pembangunan
berbagai proyek infrastruktur di KTI, mulai jalan raya, pelabuhan, bandara,
hingga sarana pendukung lainnya.
Pemerintah telah menugaskan PT Pelindo (Persero) memodernisasi dan membangun sejumlah
pelabuhan di KTI, selain di
kawasan barat Indonesia.
Dia menegaskan,
pemerintah sangat serius menggarap pembangunan infrastruktur di
KTI. Dana sisa anggaran lebih (SAL) tahun lalu sebesar Rp
30 triliun akan digunakan untuk
membiayai proyek
MP3EI dan mempercepat konektivitas Indonesia.
Hatta
mengungkapkan, selain membangun
konektivitas di KTI, pemerintah
berencana
memodernisasi fungsi pelabuhan yang selama ini mengalami
stagnasi akibat berbagai
keterbatasan. Pelabuhan-pelabuhan yang memerlukan peningkatan kapasitas dan
modernisasi antara lain Pelabuhan
Tanjung Priok, Tanjung Mas, Tanjung Perak, Dumai, dan Belawan.
Pemerintah,
menurut Menko Perekonomian, juga akan
menambah jumlah pelabuhan yang dikelola unit pelaksana teknis (UPT)
di bawah Kementerian Perhubungan (Kemenhub). “Itu sudah kami identifikasi semua,” tutur Hatta.
Secara terpisah,
Ketua Komisi V DPR Yasti Soepredjo Mokoagow
mengapresiasi upaya
pemerintah membangun infrastruktur
berbasis MP3EI di KTI. “DPR akan terus
mendukung, apalagi pembiayaannya tidak menggunakan APBN. Pemerintah kan menggandeng investor swasta,” kata
dia.
Yasti meminta
pemerintah mengubah paradigma
pembangunan. Selama ini, pemerintah
membangun infrastruktur berdasarkan permintaan (demand) atau kebutuhan
penduduk. Akibatnya, aktivitas
pembangunan terfokus di wilayah tertentu.
Dia mengemukakan, seharusnya tidak ada dikotomi timur dan barat,
sebab skala prioritas kebutuhan kedua
wilayah itu jauh berbeda. Di Pulau Jawa, misalnya, jalur KA menjadi
prioritas. Sebaliknya, di KTI, jalur KA bukan kebutuhan mendesak, karena yang
diperlukan adalah ketersediaan pelabuhan dan bandara.
Dirjen Bina Marga Kementerian
Pekerjaan Umum (PU) Djoko Murjanto mengungkapkan, Indonesia dipastikan siap menghadapi konektivitas antarnegara-negara
Asean (Asean connectivity) yang
diberlakukan pada 2015.
“Saat ini, Indonesia connectivity sudah terwujud, meski
belum secara fisik. Kalau
sekarang digembar-gemborkan, itu hanya untuk menguatkan konektivitas yang sudah
ada,” ujar dia.
Djoko
menjelaskan, menciptakan konektivitas
antarpulau tak harus secara fisik
melalui pembangunan jembatan atau jalan antarpulau. Bisa pula secara nonfisik
melalui moda transportasi laut, seperti kapal penyeberangan atau feri, dan moda transportasi udara seperti pesawat.
Sedangkan di dalam pulau bisa melalui moda transportasi jalan dan
KA.
Pemerintah, menurut Djoko, berencana menciptakan
konektivitas fisik antara Pulau Jawa dan Sumatera dengan membangun proyek
Jembatan Selat Sunda (JSS) yang ditargetkan bisa dibangun mulai 2014 dan
beroperasi pada 2024. Namun, bukan berarti nantinya seluruh pulau akan dihubungkan secara fisik dengan
jembatan yang sama.
Dia
menambahkan, untuk menguatkan konektivitas, Kementerian PU fokus
pada pembangunan jalan di dalam wilayah atau pulau, baik jalan tol
maupun nontol. Penguatan konektivitas juga dilakukan Kemenhub melalui pembangunan bandara, pelabuhan laut, pelabuhan
penyeberangan, dan jalur rel KA.
Menurut Wakil
Menteri Perhubungan Bambang Susantono, pemerintah menjamin konektivitas
Indonesia menjadi prioritas ketimbang konektivitas Asean, meski implementasi proyek-proyek infrastruktur
yang menjadi tulang punggung kedua konektivitas itu bisa dijalankan secara
paralel.
Menurut Bambang,
dalam implementasinya, konektivitas
Asean akan diparalelkan dengan
konektivitas Indonesia. Implementasi proyek Roll-on/Roll off (Roro) Network dan Short Sea Shipping dalam konektivitas
Asean
akan dibarengi implementasi
proyek sektor maritim di Tanah Air dalam kerangka konektivitas Indonesia.
Program sektor maritim di antaranya implementasi
asas cabotage, peningkatan efisiensi
di pelayaran, peningkatan industri
galangan kapal, serta pengembangan 25
pelabuhan internasional dan tujuh pelabuhan curah khusus. [ID/H-12]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
