ICP Cenderung Turun, Harga BBM Bersubsidi Tak Akan Naik
Rabu, 11 April 2012 | 11:23
Ilustrasi ICP [antara] [JAKARTA] Harga
bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi kemungkinan tidak dinaikkan tahun ini.
Pasalnya, harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP)
cenderung
melemah mulai 27 Maret lalu dan kemungkinan bergerak flat hingga beberapa bulan mendatang. Pergerakan ICP sangat
dipengaruhi harga minyak mentah dunia. Jika ketegangan geopolitik di Selat
Hormuz mereda atau berakhir, harga minyak dunia akan turun dan ICP pun mengikutinya.
Namun, hal sebaliknya bisa terjadi.
“Dalam jangka
pendek atau satu hingga tiga bulan ke depan, jika gejolak di Selat Hormuz
mereda, besar kemungkinan harga minyak dunia dan ICP cenderung flat atau sedikit melemah. Jika ini
terjadi terjadi, pemerintah tak punya alasan menaikkan harga BBM bersubsidi,”
kata pengamat migas Kurtubi di Jakarta, Selasa (10/4).
Apalagi, lanjut
dia, dalam waktu dekat negara-negara Barat memasuki musim panas sehingga
permintaan minyak mentah turun. Namun, memasuki musim dingin
(Oktober-Desember), harga minyak
cenderung naik. Jika gejolak di Selat Hormuz mereda dan ICP turun, lanjut
Kurtubi, persyaratan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi tidak terpenuhi.
Pasalnya, harga ICP saat ini belum naik sampai 15% dari patokan harga minyak
internasional yang diasumsikan dalam APBN Perubahan 2012 sebesar US$ 105 per
barel.
Sementara itu,
pasal 7 ayat 6a UU APBN Perubahan 2012 menyatakan, “Dalam hal harga
rata-rata minyak Indonesia (ICP) dalam kurun waktu berjalan mengalami kenaikan
atau penurunan rata-rata sebesar 15% dalam enam bulan terakhir dari harga
minyak internasional yang diasumsikan dalam APBN Perubahan Tahun Anggaran 2012,
maka pemerintah berwenang melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi dan
kebijakan pendukungnya.”
Kurtubi
memperkirakan, sampai akhir tahun ini, rata-rata ICP bergerak pada kisaran US$
110-135 per barel. Sedangkan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi, rata-rata ICP dalam enam bulan terakhir
harus mencapai US$ 120,75 per barel.
Ia menjelaskan,
faktor geopolitik berpengaruh hingga 60% pada harga minyak dunia. Sedangkan 40%
dipengaruhi faktor fundamental, seperti musim dan permintaan.
Sinyal bakal
meredanya ketegangan di sekitar Selat Hormuz terlihat dari kesediaan Iran
melakukan negosiasi nuklir dengan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus
Jerman, yang direncanakan pada 14 April mendatang di Istanbul.
Kurtubi
menegaskan, meski DPR memberi kewenangan pada pemerintah menaikkan harga BBM
bersubsidi, hal itu tidak bisa dilakukan jika persyaratan tidak terpenuhi. Jadi
perlu diketahui masyarakat, terutama pekerja/buruh akan demo besar-besaran pada
1 Mei nanti untuk menolak kenaikan BBM bersubsidi.
Menurut dia,
pemerintah perlu mempublikasi rata-rata ICP tiap bulan dan menyertakan
publikasi harga minyak Platts (Singapura) dan RIM Intellegence Co (Jepang) yang
menjadi patokan ICP. Cara penghitungan juga perlu dipublikasikan, termasuk
alasan pemerintah mengacu pada harga minyak Platts dan RIM. Pemerintah pernah
mengacu pada tiga sumber harga minyak untuk menghitung ICP, tapi kini cuma dua
sumber.
Sebelumnya,
Dirjen Migas Kementerian Energi
dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Evita Legowo membantah rekayasa penghitungan
ICP untuk menjustifikasi kenaikan harga
BBM bersubsidi.
Menurut
dia, pemerintah tidak bisa sembarangan
mematok ICP setiap bulan. ICP dihitung
berdasarkan harga 50 jenis minyak yang diproduksi dari lapangan migas di
seluruh Indonesia. Dari 50 jenis tersebut, delapan di antaranya menjadi acuan
perhitungan (benchmark), yakni jenis
Sumatera Light Crude (SLC), Arjuna, Attaka, Cinta, Duri, Widuri, Belida, dan
Senipah Condensate. Formula perhitungannya adalah 50% dari patokan harga minyak
RIM ditambah 50% Platts. Formula perhitungan ICP tersebut dievaluasi
setiap enam bulan. Itu sebabnya, ada
kemungkinan formula ICP berubah per enam bulan.
Menurut Evita,
rata-rata ICP dalam enam bulan terakhir belum mencapai 15% di atas patokan
harga minyak internasional yang diasumsikan dalam APBN Perubahan 2012 sebesar
US$ 105 per barel. Sejak Oktober 2011 hingga saat ini, rata-rata ICP adalah US$
116 per barel atau 11% lebih tinggi dari asumsi tersebut.
Wakil Menteri (Wamen) ESDM Widjajono Partowidagdo menilai,
kenaikan harga BBM bersubsidi jenis premium dan solar paling ideal Rp
1.500-2.500 per liter, sehingga harga menjadi Rp 6.000-7.000 per liter. Harga
saat ini masih tetap Rp 4.500 per liter.
“Dengan harga ideal itu, pemerintah juga masih memberikan
subsidi Rp 3.000-4.000 per liter. Jika harganya ke level itu, dampaknya ke
inflasi tak terlalu besar,” kata dia.
Ia menjelaskan, evaluasi atas harga minyak Indonesia masih
terus dilakukan dan harga ICP saat ini belum naik sampai 15% dari patokan harga
minyak internasional yang diasumsikan dalam APBN Perubahan 2012 sebesar US$ 105
per barel. Dengan demikian, belum ada hak bagi pemerintah untuk menaikkan harga
BBM bersubsidi.
Widjajono mengungkapkan, pihaknya terus berupaya
menjalankan program konversi BBM ke bahan bakar gas (BBG), agar ada penghematan
konsumsi bahan bakar fosil itu. Konversi ini tidak perlu menunggu dibangunnya
infrastruktur khusus seperti Stasiun Pengisian BBG (SPBBG). Stasiun Pengisian
Bahan Bakar Umum (SPBU) yang ada bisa dimodifikasi dengan teknologi tertentu
untuk melayani pengisian BBG. Dia mencontohkan, di Surabaya sudah ada
teknologinya, yang dinamakan Technic and Operation Director CNG. Teknologi
untuk pengisian compressed natural gas
ini dikembangkan pengusaha bernama Marsaid.
“SPBGG milik pengusaha itu menjadi mother station, sedang nantinya SPBU menjadi daughter station BBG. Dengan metode itu, trailer berisi gas bisa
ditinggalkan di SPBU. Di trailer-trailer itu sudah ada CNG dan SPBU tinggal
menyiapkan dispensernya,” tutur dia. [ID/H-12]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Multipolar Technology Tawarkan 20 % Saham ke Publik
Muhaimin: BBM Naik, Tak Boleh Ada PHK Massal
Peserta Indonesia Belum Terdaftar di AOTE
Danamon Klaim Sinergi DBS Dukung Perbankan Nasional
IHSG Perlihatkan Tren ‘Bullish’
Pekerja Rumah Tangga Juga Bisa Ikut Program Jamsostek
Danamon Bidik Pangsa Pasar UKM
Mentan: Jelang Ramadhan, Harga Daging Normal
Panasonic Raih Peringkat ke-4 Brand Internasional Ramah Lingkungan
