SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 17 Mei 2012
Pencarian Arsip

Dukung Mobil Nasional, Grup Astra Ekspansi Pembiayaan Rp 60 T
Selasa, 21 Februari 2012 | 11:03

Presdir Astra Internasional, Prijono Sugiarto [google] Presdir Astra Internasional, Prijono Sugiarto [google]

[JAKARTA] Grup Astra akan meningkatkan ekspansi di bidang pembiayaan mobil, sepeda motor, dan alat berat tahun ini. Astra menyiapkan pembiayaan konsumen sebesar Rp 60 triliun, meningkat 13% dibandingkan 2011 senilai Rp 53 triliun. Peningkatan ekspansi pembiayaan tersebut sejalan dengan proyeksi pertumbuhan penjualan mobil dan sepeda motor tahun ini.

“Volume penjualan mobil nasional diproyeksi naik 5-10%, sedangkan sepeda motor 5%,” kata Direktur Utama PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto di sela perayaan HUT Astra ke-55 di Jakarta, baru-baru ini.

Tahun lalu, volume penjualan mobil nasional mencapai 894 ribu unit, sedangkan sepeda motor sebanyak 8 juta unit. Dari data tersebut, penjualan mobil Astra sebanyak 482,6 ribu unit (54%), sedangkan penjualan sepeda motor Astra mencapai 4,27 juta unit (53%). Tahun ini, Astra melalui sejumlah anak usahanya mengalokasikan pembiayaan mobil senilai Rp 28-30 triliun, sepeda motor Rp 20-23 triliun, dan alat berat Rp 8-10 triliun.

Beberapa anak usaha Astra yang bergerak di bidang pembiayaan otomotif adalah PT Astra Sedaya Finance, PT Toyota Astra Financial Services (TA Finance), PT Federal International Finance (FIF), PT Surya Artha Nusantara Finance (SAN Finance), dan PT Komatsu Astra Finance. Direktur Astra International Gunawan Geniusahardja menjelaskan, pihaknya akan menggunakan kas internal untuk memenuhi 30% total pembiayaan tahun ini. Sisanya dari pinjaman bank dan penerbitan obligasi. “Kontribusi obligasi terhadap total pembiayaan sekitar 10-15%, sedangkan pinjaman bank 30%,” ujar dia.

Tahun ini, Astra Sedaya Finance menerbitkan obligasi berkelanjutan tahap I senilai Rp 5 triliun dari total Rp 8 triliun. SAN Finance emisi obligasi Rp 1,5 triliun, sedangkan FIF akan menerbitkan obligasi Rp 2 triliun. Sementara itu, TA Finance dan Serasi Autoraya akan emisi obligasi masing-masing sebesar Rp 1 triliun.

Gunawan optimistis industri pembiayaan (multifinance) pada 2012 masih menarik termasuk alat berat. Prijono menegaskan, pihaknya akan menjaga keseimbangan pendapatan perseroan dari divisi otomotif dan non-otomotif. Sebelumnya, sektor otomotif berkontribusi sebesar 80%. Namun, perseroan ingin menjaga porsi 50:50. Tahun ini, Astra menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 14-15 triliun.

Separuh dari anggaran tersebut akan digunakan untuk menggenjot bisnis otomotif. “Untuk meningkatkan kapasitas produksi mobil Daihatsu dari 330 ribu unit menjadi 430 ribu unit dibutuhkan dana Rp 2 triliun, sedangkan kapasitas produksi Toyota dinaikkan menjadi 230 ribu dari sebelumnya 110 ribu dengan kebutuhan dana Rp 4 triliun,” kata Prijono.

Sementara itu, Astra melalui PT Astra Agro Lestari Tbk menyiapkan dana US$ 200 juta atau Rp 1,8 triliun untuk mengembangkan sektor perkebunan kelapa sawit. Sedangkan di sektor pertambangan batubara, Astra melalui PT United Tractors Tbk mengalokasikan dana Rp 5 triliun. United Tractors berencana mengakuisisi dua kuasa pertambangan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

“Kami mengincar batubara berkalori 6.000-6.300 kkal dan memiliki cadangan yang cukup banyak dalam jangka panjang,” tutur Direktur Utama United Tractors Djoko Pranoto.  

Di sektor perkebunan, Astra Agro Lestari akan ekspansi ke perkebunan karet yang akan dimulai tahun ini. Selama ini, bisnis perseroan hanya kelapa sawit. “Kami masih mengkaji kemungkinan ekspansi ke karet. Kami optimistis ekspansi itu bisa terealisasi untuk mendukung produksi ban kendaraan bermotor,” kata Direktur Utama Astra Agro Lestari Widya Wiryawan.

Hingga kemarin, Astra International masih menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Nilai kapitalisasi pasar emiten berkode saham ASII tersebut mencapai Rp 299,3 triliun atau sekitar 8% dari total kapitalisasi saham di BEI sebesar Rp 3.722 triliun. Harga saham ASII bertengger di level Rp 73.950. Kapitalisasi pasar Astra melampaui PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) senilai Rp 209 triliun, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 181,8 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 166 triliun, dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) Rp 150,3 triliun.

 “Astra adalah perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI,” kata Prijono.  Ditanya tentang keinginan publik akan mobil nasional, Prijono Sugiarto mengatakan, mobil nasional tidak sebatas menggunakan nama Indonesia tetapi yang membuatnya benar-benar orang Indonesia, dan kandungan lokalnya juga tinggi. Saya sangat percaya, dengan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang terus membaik kualitasnya. Indonesia ini bangsa besar,” katanya.

Menurut Prijono, dalam hal desain, orang Indonesia memang hebat. Aspek lain, misalnya, mengenai pengembangan produk, transmisi, elektrikal, membutuhkan kemampuan yang tinggi. Produksi mobil PT Astra Daihatsu Motor menggunakan komponen lokal sekitar 70-80% dan telah menjadi basis produksi mobil terbesar setelah Jepang. Tahun 2016, bisa jadi Indonesia menjadi pusat pembuatan mobil Daihatsu.

Prijono berharap, Astra bisa menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, seperti India bangga dengan Tata, Korea dengan Samsung, dan Jerman bangga dengan produknya yang berkelas dunia. Prijono menepis anggapan bahwa Astra menghambat pembangunan transportasi massal di Indonesia karena kekhawatiran penjualan mobilnya turun. “Astra mendukung pembangunan transportasi massal. Peningkatan jumlah transportasi publik tak akan mengurangi penjualan mobil pribadi,” kata dia. [ID/YHD/H-12]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN