Dukung Mobil Nasional, Grup Astra Ekspansi Pembiayaan Rp 60 T
Selasa, 21 Februari 2012 | 11:03
Presdir Astra Internasional, Prijono Sugiarto [google] [JAKARTA] Grup
Astra akan meningkatkan ekspansi di bidang pembiayaan mobil, sepeda motor, dan
alat berat tahun ini. Astra menyiapkan pembiayaan konsumen sebesar Rp 60
triliun, meningkat 13% dibandingkan 2011 senilai Rp 53 triliun. Peningkatan
ekspansi pembiayaan tersebut sejalan dengan proyeksi pertumbuhan penjualan
mobil dan sepeda motor tahun ini.
“Volume penjualan
mobil nasional diproyeksi naik 5-10%, sedangkan sepeda motor 5%,” kata Direktur
Utama PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto di sela perayaan HUT Astra
ke-55 di Jakarta, baru-baru ini.
Tahun lalu,
volume penjualan mobil nasional mencapai 894 ribu unit, sedangkan sepeda motor
sebanyak 8 juta unit. Dari data tersebut, penjualan mobil Astra sebanyak 482,6
ribu unit (54%), sedangkan penjualan sepeda motor Astra mencapai 4,27 juta unit
(53%).
Tahun ini, Astra
melalui sejumlah anak usahanya mengalokasikan pembiayaan mobil senilai Rp 28-30
triliun, sepeda motor Rp 20-23 triliun, dan alat berat Rp 8-10 triliun.
Beberapa anak
usaha Astra yang bergerak di bidang pembiayaan otomotif adalah PT Astra Sedaya
Finance, PT Toyota Astra Financial Services (TA Finance), PT Federal
International Finance (FIF), PT Surya Artha Nusantara Finance (SAN Finance),
dan PT Komatsu Astra Finance.
Direktur Astra
International Gunawan Geniusahardja menjelaskan, pihaknya akan menggunakan kas
internal untuk memenuhi 30% total pembiayaan tahun ini. Sisanya dari pinjaman
bank dan penerbitan obligasi. “Kontribusi obligasi terhadap total pembiayaan
sekitar 10-15%, sedangkan pinjaman bank 30%,” ujar dia.
Tahun ini, Astra
Sedaya Finance menerbitkan obligasi berkelanjutan tahap I senilai Rp 5 triliun
dari total Rp 8 triliun. SAN Finance emisi obligasi Rp 1,5 triliun, sedangkan
FIF akan menerbitkan obligasi Rp 2 triliun. Sementara itu, TA Finance dan
Serasi Autoraya akan emisi obligasi masing-masing sebesar Rp 1
triliun.
Gunawan optimistis industri pembiayaan (multifinance) pada 2012 masih menarik termasuk alat berat.
Prijono
menegaskan, pihaknya akan menjaga keseimbangan pendapatan perseroan dari divisi
otomotif dan non-otomotif. Sebelumnya, sektor otomotif berkontribusi sebesar
80%. Namun, perseroan ingin menjaga porsi 50:50. Tahun ini, Astra
menganggarkan belanja modal (capital
expenditure/capex) sebesar Rp 14-15 triliun.
Separuh dari anggaran tersebut
akan digunakan untuk menggenjot bisnis otomotif.
“Untuk
meningkatkan kapasitas produksi mobil Daihatsu dari 330 ribu unit menjadi 430
ribu unit dibutuhkan dana Rp 2 triliun, sedangkan kapasitas produksi Toyota
dinaikkan menjadi 230 ribu dari sebelumnya 110 ribu dengan kebutuhan dana Rp 4
triliun,” kata Prijono.
Sementara itu,
Astra melalui PT Astra Agro Lestari Tbk menyiapkan dana US$ 200 juta atau Rp
1,8 triliun untuk mengembangkan sektor perkebunan kelapa sawit. Sedangkan di
sektor pertambangan batubara, Astra melalui PT United Tractors Tbk
mengalokasikan dana Rp 5 triliun. United Tractors berencana mengakuisisi dua
kuasa pertambangan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.
“Kami mengincar
batubara berkalori 6.000-6.300 kkal dan memiliki cadangan yang cukup banyak
dalam jangka panjang,” tutur Direktur Utama United Tractors Djoko Pranoto.
Di sektor
perkebunan, Astra Agro Lestari akan ekspansi ke perkebunan karet yang akan
dimulai tahun ini. Selama ini, bisnis perseroan hanya kelapa sawit.
“Kami masih
mengkaji kemungkinan ekspansi ke karet. Kami optimistis ekspansi itu bisa
terealisasi untuk mendukung produksi ban kendaraan bermotor,” kata Direktur
Utama Astra Agro Lestari Widya Wiryawan.
Hingga kemarin,
Astra International masih menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di
Bursa Efek Indonesia (BEI). Nilai kapitalisasi pasar emiten berkode saham ASII
tersebut mencapai Rp 299,3 triliun atau sekitar 8% dari total kapitalisasi
saham di BEI sebesar Rp 3.722 triliun. Harga saham ASII bertengger di level Rp
73.950.
Kapitalisasi
pasar Astra melampaui PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) senilai Rp 209 triliun, PT
Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 181,8 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk
(BBRI) Rp 166 triliun, dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) Rp 150,3 triliun.
“Astra adalah perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI,” kata
Prijono.
Ditanya tentang keinginan publik
akan mobil nasional, Prijono Sugiarto mengatakan, mobil nasional tidak sebatas
menggunakan nama Indonesia tetapi yang membuatnya benar-benar orang Indonesia,
dan kandungan lokalnya juga tinggi.
“Saya sangat percaya, dengan sumber daya manusia (SDM)
Indonesia yang terus membaik kualitasnya. Indonesia ini bangsa besar,” katanya.
Menurut Prijono, dalam hal desain,
orang Indonesia memang hebat. Aspek lain, misalnya, mengenai pengembangan
produk, transmisi, elektrikal, membutuhkan kemampuan yang tinggi.
Produksi mobil PT Astra Daihatsu Motor menggunakan
komponen lokal sekitar 70-80% dan telah menjadi basis produksi mobil terbesar
setelah Jepang. Tahun 2016, bisa jadi Indonesia menjadi pusat pembuatan mobil
Daihatsu.
Prijono berharap, Astra bisa menjadi kebanggaan
bangsa Indonesia, seperti India bangga dengan Tata, Korea dengan Samsung, dan
Jerman bangga dengan produknya yang berkelas dunia.
Prijono menepis anggapan bahwa Astra menghambat
pembangunan transportasi massal di Indonesia karena kekhawatiran penjualan
mobilnya turun. “Astra mendukung pembangunan transportasi massal. Peningkatan
jumlah transportasi publik tak akan mengurangi penjualan mobil pribadi,” kata
dia. [ID/YHD/H-12]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
