Bulog Jangan jadi ‘Sapi Perahan’ Lagi
Selasa, 7 Agustus 2012 | 15:56
[JAKARTA] Seruan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk
merevitalisasi peran Perum Bulog masih disangsikan bisa terwujud. Hal itu
membutuhkan grand design, dasar kebijakan, dan ketegasan pimpinan bangsa dalam
mewujudkan perdagangan komoditas yang adil dan kedaulatan pangan.
Sampai saat ini pemerintah dan kebijakannya belum mampu
menghadapi tekanan liberalisasi pangan dan kebijakan kedaulatan pangan masih
parsial. Untuk itu, revitalisasi Perum Bulog diharapkan tidak sekadar
memindahkan persoalan dari monopoli dan kartel pelaku pasar serta menjadikannya
sebagai “sapi perahan” para elite politik.
Demikian Direktur Eksekutif Institute for Sustainable
Agriculture and Rural Livelihood (Elsppat) Daniel Mangoting, aktivis jaringan
petani internasional La Via Campesina Tejo Pramono, dan pakar ekonomi pertanian
IPB Hermanto Siregar secara terpisah kepada SP di Jakarta, Selasa (7/8).
Menurut Mangoting dan Pramono, selama Indonesia belum bisa
menghadapi liberalisasi dengan melalui proteksi dan kebijakan domestik lainnya,
maka sulit mengharapkan perdagangan komoditas yang adil dan berpihak pada
petani dan konsumen. Selain itu, gagasan merevitalisasi Perum Bulog harus
diikuti dengan konsep dasar dan acuan kebijakan yang jelas sehingga tidak
sekadar memindahkan persoalan yang ada.
Dalam jangka pendek, bisa saja langkah tersebut menjadi
solusi yang tepat guna menekan kartel dan mengurangi monopoli. “Jangan sampai
mengulang kembali kegagalan Bulog pada masa lalu. Dengan kondisi para elit
bangsa dan sistem pemerintahan saat ini, bisa jadi Bulog hanya menjadi lahan
korupsi. Perlu pembenahan secara menyeluruh,” kata Mangoting.
Sementara itu, Hermanto menjelaskan revitalisasi peran Bulog
dimulai dengan mengembalikannya sebagai Lembaga Pemerintah Non Kementerian
(Departemen). Hal itu, untuk mencegah terkonsentrasinya perdagangan pada
beberapa pelaku usaha besar saja.
“Bentuk yang terkonsentrasi atau cenderung memonopoli harus
‘diencerkan’ sehingga harga tidak dipermainkan. Ada satu hal mendasar yang
perlu dilakukan yaitu terapkan UU anti monopoli atau penguasaan pasar oleh
beberapa pelaku pasar (oligopoli) agar terjadi persaingan sehat,” katanya.
Kemarin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan
Perum Bulog menjadi penyangga lima
bahan pangan utama, yakni beras, gula, jagung, kedelai, dan daging sapi. Kementerian Pertanian juga diminta
bersinergi dengan kementerian terkait untuk mewujudkan kemandirian dan
ketahanan pangan nasional.“Saya sudah mengambil keputusan, Bulog akan
direvitalisasi.
Bulog ditugasi kembali untuk menstabilkan harga dan menjadi
katup pengaman komoditas pangan,” kata Presiden seusai memimpin rapat
koordinasi di Gedung Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (6/8).
Rakor yang khusus membahas tentang pembangunan sektor
pertanian itu dihadiri Wapres Boediono, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menko
Polhukam Djoko Suyanto, Menko Kesra Agung Laksono, serta jajaran kementerian
lainnya.Menurut Presiden, langkah-langkah konkret menuju revitalisasi peran Bulog telah dibahas sejak empat tahun lalu, ketika terjadi lonjakan harga minyak dan
komoditas pangan lainnya, baik di tingkat global maupun nasional.
Sejak 1998, Bulog hanya menangani komoditas beras, sedangkan
komoditas lain diserahkan kepada mekanisme pasar. Kewenangan tersebut diatur
melalui Keputusan Presiden (Keppres) No 19/1998 sebagai tindak lanjut dari
kesepakatan yang diambil oleh Pemerintah dengan Dana Moneter Internasional
(IMF) yang tertuang dalam Letter of Intent (LoI).
Dalam berbagai kesempatan, Direktur Utama Perum Bulog
Sutarto Alimoeso menyatakan lembaga yang dipimpinnya siap menjadi badan
penyangga (buffer stock) dan stabilisator bahan pangan utama seperti beras,
kedelai, gula, minyak goreng, dan jagung. Dia pun menawarkan dua pilihan untuk
penguatan peran Bulog.
Pertama, Perum
Bulog kembali diberikan hak monopoli seperti sebelum kewenangan lembaga ini
dipreteli oleh IMF.
Kedua, pemerintah serius membatasi ruang gerak swasta besar
yang selama ini membentuk kartel atas komoditas pangan utama tersebut.Rencana
revitalisasi Perum Bulog juga mendapat dukungan dari Komisi Pengawas Persaingan
Usaha (KPPU) dan sejumlah anggota DPR. KPPU telah merekomendasikan kepada
pemerintah untuk menerapkan kembali sistem buffer stock bahan pangan. KPPU
yakin sistem buffer stock dapat meminimalisasi gejolak harga yang terjadi.
Sutarto meyakinkan, Perum Bulog siap melaksanakan tugas itu
karena didukung 1.751 unit di berbagai daerah yang masing-masing memiliki
gudang, bangunan, dan tanah. “Perum Bulog saat ini juga didukung oleh 7.000
karyawan, 4.800 orang di antaranya berupa karyawan organik. Saat ini, Bulog
juga menguasai onfarm, jaringan distribusi, dan jaringan ritel melalui Bulog
Mart,” jelas dia.
Selain merevitalisasi peran Bulog, Presiden mengingatkan
para menteri untuk mewaspadai gejolak harga komoditas pangan dunia. Indonesia
harus mampu mengatasi berbagai hambatan akibat perubahan iklim dan kemarau
panjang.Mentan mengaku siap untuk melakukan investigasi kasus sapi ilegal.
“Presiden sudah perintahkan bahwa ini wilayah-wilayah hukum nanti polisi yang
lakukan investigasi dan jelas akan ditindak siapapun yang lakukan praktik
ilegal,” kata Suswono. [ID/H-12/S-26]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
