SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 25 Mei 2013
Pencarian Arsip

BTN Optimistis Renegosiasi FLPP Capai
Rabu, 25 Januari 2012 | 8:45

Bank BTN [google] Bank BTN [google]

[JAKARTA] Bank Tabungan Negara (BTN) optimistis proses renegosiasi Perjanjian Kerjasama Operasional (PKO) penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) antara Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera), Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Perumahan (BLU PPP), dan Bank Pelaksana akan mencapai win-win solution.

Direktur Utama Bank BTN, Iqbal Latanro, di Jakarta, Selasa (24/1), mengatakan, pihaknya siap menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi, termasuk menurunkan tingkat suku bunga KPR-nya.

“BTN mungkin sanggup menurunkan tingkat suku bunga menjadi di bawah 8%. Tapi tetap ada keterbatasan. Karena sebagai perusahaan publik, BTN juga harus tunduk pada aturan korporasi dan aturan Bank Indonesia,” jelas Iqbal. 

Dia berharap, renegosiasi PKO baru bisa segera selesai dengan solusi yang menguntungkan semua pihak. Menurut Iqbal, BTN sudah mengajukan proposal ke Kemenpera sebagai bank pelaksana penyaluran KPR FLPP pada 16 Januari lalu. Iqbal menyebut, dana FLPP yang berasal dari pemerintah dicampur dengan dana jangka panjang berupa obligasi dengan tenor 10 tahun.

Bunganya sendiri merupakan bunga komersial yang berada di kisaran 8,75% sampai 9,25%. Sampai saat ini, proses pembahasan revisi suku bunga KPR berbasis FLPP masih belum menemui jalan keluar.

Hingga kini, belum ada titik temu antara keinginan pemerintah dan kemampuan perbankan sebagai pelaksana penyaluran KPR bersubsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Sejak 6 Januari 2012 silam, PKO antara Kemenpera, BLU PPP dan Bank Pelaksana berakhir. Selama proses renegosiasi PKO baru, Pemerintah menghentikan pembiayaan kredit rumah bersubsidi.

Penghentian pengucuran subsidi untuk perumahan ini membuat ribuan transaksi jual beli rumah antara pengembang dan masyarakat berpenghasilan rendah terpaksa ikut terputus. Akibatnya, bisnis pengembangan perumahan ikut jeblok. Setiap minggu, rata-rata sebanyak 2000 unit rumah batal dibeli konsumen.

Akibatnya, kalangan MBR gagal memiliki rumah. Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman (Apersi) Eddy Ganefo, sejak 6 Januari lalu, di Jawa Barat, akad kredit sebanyak 2100 unit rumah bersubsidi gagal terealisasi. “Kegagalan penjualan membuat aliran modal para pengembang terganggu, padahal para pengembang harus menanggung kredit konstruksi keperbankan,” jelas Eddy.  

Sementara itu sambil menunggu proses negosiasi FLPP, BTN menyediakan KPR alternatif yang bunganya rendah hingga berada di level single digit. Bunga KPR alternatif tersebut dipatok hanya 9,75% dengan uang muka hanya 10%. Padahal biasanya uang muka KPR komersial Bank BTN sebesar 20%.

“Ini adalah bentuk kepedulian Bank BTN sekaligus terobosan bisnis yang bisa dilakukan untuk mengatasi sementara vakumnya kredit perumahan berbunga murah,” kata Iqbal.

Kebijakan ini diambil Bank BTN agar masyarakat yang membutuhkan rumah bisa tetap melakukan pembelian rumah yang sangat dibutuhkan. Apalagi, saat ini waiting list calon konsumen rumah di Bank BTN membengkak cukup besar.

Target BTN

Iqbal menambahkan, dalam tahun 2012, BTN memasang target optimistis mampu mencapai tingkat pertumbuhan kredit lebih baik dibanding tahun 2011.

Sementara total asset dan Dana Pihak Ketiga (DPK) diproyeksikan bakal tumbuh juga dibanding tahun 2011. Komposisi bisnis kredit BTN di tahun 2012, imbuh Iqbal, masih didominasi pada sektor perumahan sesuai core business Bank BTN, yaitu sekitar 85% di sektor perumahan dan sekitar 15% di sektor non perumahan.

“Kami yakin, dengan kondisi ekonomi nasional seperti sekarang ini, BTN sanggup mencapai pertumbuhan laba di atas 20%,” tandas Iqbal. [E-8]  




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN