BTN Optimistis Renegosiasi FLPP Capai
Rabu, 25 Januari 2012 | 8:45
Bank BTN [google] [JAKARTA]
Bank Tabungan Negara (BTN) optimistis proses renegosiasi Perjanjian Kerjasama
Operasional (PKO) penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP)
antara Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera), Badan Layanan Umum Pusat
Pembiayaan Perumahan (BLU PPP), dan Bank Pelaksana akan mencapai win-win
solution.
Direktur
Utama Bank BTN, Iqbal Latanro, di Jakarta, Selasa (24/1), mengatakan, pihaknya
siap menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi, termasuk menurunkan
tingkat suku bunga KPR-nya.
“BTN
mungkin sanggup menurunkan tingkat suku bunga menjadi di bawah 8%. Tapi tetap
ada keterbatasan. Karena sebagai perusahaan publik, BTN juga harus tunduk pada
aturan korporasi dan aturan Bank Indonesia,” jelas Iqbal.
Dia
berharap, renegosiasi PKO baru bisa segera selesai dengan solusi yang
menguntungkan semua pihak. Menurut Iqbal, BTN sudah mengajukan proposal ke
Kemenpera sebagai bank pelaksana penyaluran KPR FLPP pada 16 Januari lalu.
Iqbal
menyebut, dana FLPP yang berasal dari pemerintah dicampur dengan dana jangka
panjang berupa obligasi dengan tenor 10 tahun.
Bunganya sendiri merupakan bunga
komersial yang berada di kisaran 8,75% sampai 9,25%.
Sampai
saat ini, proses pembahasan revisi suku bunga KPR berbasis FLPP masih belum
menemui jalan keluar.
Hingga kini, belum ada titik temu antara keinginan
pemerintah dan kemampuan perbankan sebagai pelaksana penyaluran KPR bersubsidi
untuk masyarakat berpenghasilan rendah.
Sejak
6 Januari 2012 silam, PKO antara Kemenpera, BLU PPP dan Bank Pelaksana
berakhir. Selama proses renegosiasi PKO baru, Pemerintah menghentikan
pembiayaan kredit rumah bersubsidi.
Penghentian
pengucuran subsidi untuk perumahan ini membuat ribuan transaksi jual beli rumah
antara pengembang dan masyarakat berpenghasilan rendah terpaksa ikut terputus.
Akibatnya, bisnis pengembangan perumahan ikut jeblok. Setiap minggu, rata-rata
sebanyak 2000 unit rumah batal dibeli konsumen.
Akibatnya, kalangan MBR gagal
memiliki rumah.
Menurut
Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman (Apersi) Eddy Ganefo,
sejak 6 Januari lalu, di Jawa Barat, akad kredit sebanyak 2100 unit rumah
bersubsidi gagal terealisasi. “Kegagalan penjualan membuat aliran modal para
pengembang terganggu, padahal para pengembang harus menanggung kredit
konstruksi keperbankan,” jelas Eddy.
Sementara
itu sambil menunggu proses negosiasi FLPP, BTN menyediakan KPR alternatif yang
bunganya rendah hingga berada di level single digit.
Bunga
KPR alternatif tersebut dipatok hanya 9,75% dengan uang muka hanya 10%. Padahal
biasanya uang muka KPR komersial Bank BTN sebesar 20%.
“Ini adalah bentuk
kepedulian Bank BTN sekaligus terobosan bisnis yang bisa dilakukan untuk
mengatasi sementara vakumnya kredit perumahan berbunga murah,” kata Iqbal.
Kebijakan
ini diambil Bank BTN agar masyarakat yang membutuhkan rumah bisa tetap
melakukan pembelian rumah yang sangat dibutuhkan. Apalagi, saat ini waiting
list calon konsumen rumah di Bank BTN membengkak cukup besar.
Target
BTN
Iqbal
menambahkan, dalam tahun 2012, BTN memasang target optimistis mampu mencapai
tingkat pertumbuhan kredit lebih baik dibanding tahun 2011.
Sementara total
asset dan Dana Pihak Ketiga (DPK) diproyeksikan bakal tumbuh juga dibanding
tahun 2011.
Komposisi
bisnis kredit BTN di tahun 2012, imbuh Iqbal, masih didominasi pada sektor
perumahan sesuai core business Bank BTN, yaitu sekitar 85% di sektor perumahan
dan sekitar 15% di sektor non perumahan.
“Kami yakin, dengan kondisi ekonomi
nasional seperti sekarang ini, BTN sanggup mencapai pertumbuhan laba di atas
20%,” tandas Iqbal. [E-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
