BEI: Wacana Pengurangan Unit Per Lot Saham Perlu Didorong
Kamis, 28 Juni 2012 | 9:36
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia [google] [JAKARTA]
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengatakan wacana untuk memangkas jumlah saham dalam
satu lot bisa saja masuk dalam kebijakan yang akan diambil. Sehingga, dalam
tiga tahun ke depan, jumlah saham dalam satu lot yang saat ini 500 unit bisa
saja mengecil.
“Wacana
ini perlu didorong supaya target jumlah investor tercapai. Pasti ada
rencana untuk menggolkan rencana ini, tapi butuh kebijakan yang
strategis. Saya yakin dalam tiga tahun ini jumlah lot bisa dikurangi,” kata
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Samsul Hidayat yang akan
mulai efektif pada 1 Juli mendatang usai RUPST BEI di Jakarta.
Meski
belum mengetahui secara pasti berapa besar jumlah unit yang akan dipangkas,
namun langkah itu dinilainya sebagai pendorong investor ritel terjun ke pasar
modal. Namun, wacana itu menurutnya tergantung dari biaya, yang mana jika biaya
pengaturan lebih besar dari manfaatnya maka rencana tersebut urung
dilaksanakan. “Tapi, kalau cost lebih tinggi dari impact maka tak
dilaksanakan, tergantung uji kelayakan nanti,” jelasnya.
Sementara,
Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen mengatakan, Indonesia bisa saja meniru
Tiongkok dan India dalam mewujudkan ide pengurangan jumlah unit dalam satu lot.
Di India tercatat satu lot hanya terdiri dari 100 unit dan jumlah investor
ritelnya cukup banyak. Tiongkok pun yang terdiri dari tiga bursa, salah satunya
Bursa Hong Kong yakni Hang Seng juga tengah mengarah ke arah sana.
Langkah
tersebut, sambungnya, beralasan karena Indonesia merupakan salah satu dari lima
negara besar setelah Tiongkok, India, AS, dan Rusia, namun sayangnya dari
jumlah partisipasi yang terendah. “Tiongkok dan India yang mirip bursanya
seperti kita,” ucapnya.
Adapun, mekanisme perubahan jumlah unit saham ini
dikatakan Hoesen tidaklah sulit. Salah satunya lewat perubahan sistem kliring
dan peraturan.
Sementara itu, Direktur Utama BEI Ito Warsito
mengatakan, pengurangan jumlah saham dalam satu lot tersebut untuk mempermudah
investor membangun portofolio. Di mana, untuk menggolkan ide itu tidak
terkendala kajian infrastruktur. ”Kalau kajian infrastruktur tidak ada masalah
tapi kita harus mengukur mesin KSEI yang lebih penting kajian peraturan
dibuat,” ucapnya.
BEI sendiri menargetkan jumlah investor dapat mencapai 2,3 juta atau 1 persen
dari penduduk Indonesia. Namun kenyataannya jumlah investor saat ini masih di
bawah 400 ribu. Untuk itu, dalam periode 2012-2015, BEI memfokuskan pada tujuh
pilar pengembangan atau 7i, yaitu internal,
investor, intermediaries, infrastructures, instruments, issuers and information.
Menyangkut issuers, Ito menuturkan, tengah
menyasar empat kelompok besar untuk menjadi emiten, yakni BUMN, pengelola
sumber daya alam, perusahaan dengan pinjaman dana besar ke perbankan, dan
emiten asing. Dengan demikian, BEI menargetkan dapat menambah jumlah emiten menjadi 500 hingga 2015 dari jumlah
sekarang sebanyak 444 emiten.
Jelas dia, saat ini pihaknya bersama Badan Pengawas
Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) dan PT Kustodian Sentral Efek
Indonesia (KSEI) sedang menjajaki peraturan mengenai bank kustodian dalam
rangka menjaring emiten asing untuk tercatat di BEI. Aturan yang sedang dikaji tersebut
berkaitan dengan peran bank kustodian. Selama ini bank kustodian hanya melayani
investor saja.
Adapun emiten asing yang pernah menyampaikan niat untuk tercatat di BEI seperti
Grup CIMB dan Maybank. ”Kami berharap secepatnya aturan selesai,paling cepat
tahun depan. Diharapkan bank kustodian tersebut dapat melayani emiten asing
yang listing di Indonesia,” katanya.
Selain itu, Ito
optimistis 25 emiten dapat kembali tercatat di BEI pada tahun ini. Di mana, lima sudah listed
dan 10 masih di proses Bapepam. ”Konsistensi dan persistensi itu kuncinya,”
imbuh dia.
Di sisi lain, PT BEI per Mei 2012 membukukan laba bersih
Rp 128,63 miliar (unaudited). Di mana, total beban usahanya lebih besar
dari laba usahanya. Mengomentari ini, Ito menjelaskan, hal itu karena
berkurangnya pendapatan yang diperoleh dari Anggota Bursa (AB) dan biaya
dukungan pengembangan pasar modal serta AB. Pada 2011, BEI menggelontorkan Rp
58 miliar ke AB dan Rp 83 miliar lebih untuk sosialisasi, edukasi, dan
infrastruktur pasar modal.
“Jangan keliru, bahwa sesuai anggaran dasar BEI bukan
perusahaan pencetak laba, tapi lebih ke nirlaba. Meski begitu, kita butuh laba
untuk sustainability dan kemampuan untuk investasi, infrastruktur dan pengembangan,”
jelasnya. [O-2]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Dahlan Iskan jadi Dosen di Universitas Beijing
Menjadi Negara Maju, RI Mesti Kembangkan Inovasi Teknologi
KEN Pelajari Cara Korsel Lolos dari Middle-Income Trap
Samsung Diminta Jadikan Indonesia Basis Produksi
Belajar dari Korea, KEN Dorong Pendirian Pasar Tani
BRI Jaring Nasabah Baru di IBEX
KEN Minta Industri Korea Tampung Lebih Banyak Tenaga Kerja Indonesia
Perbanas Desak Pemerintah Soal Kepastian Harga BBM
