SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 24 Mei 2013
Pencarian Arsip

BEI: Wacana Pengurangan Unit Per Lot Saham Perlu Didorong
Kamis, 28 Juni 2012 | 9:36

Ilustrasi Bursa Efek Indonesia [google] Ilustrasi Bursa Efek Indonesia [google]

[JAKARTA] Bursa Efek Indonesia (BEI) mengatakan wacana untuk memangkas jumlah saham dalam satu lot bisa saja masuk dalam kebijakan yang akan diambil. Sehingga, dalam tiga tahun ke depan, jumlah saham dalam satu lot yang saat ini 500 unit bisa saja mengecil.  

 “Wacana ini perlu didorong supaya target jumlah investor tercapai. Pasti ada rencana  untuk menggolkan rencana ini, tapi butuh kebijakan yang strategis. Saya yakin dalam tiga tahun ini jumlah lot bisa dikurangi,” kata Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Samsul Hidayat yang akan mulai efektif pada 1 Juli mendatang usai RUPST BEI di Jakarta.  

Meski belum mengetahui secara pasti berapa besar jumlah unit yang akan dipangkas, namun langkah itu dinilainya sebagai pendorong investor ritel terjun ke pasar modal. Namun, wacana itu menurutnya tergantung dari biaya, yang mana jika biaya pengaturan lebih besar dari manfaatnya maka rencana tersebut urung dilaksanakan. “Tapi, kalau cost lebih tinggi dari impact maka tak dilaksanakan, tergantung uji kelayakan nanti,” jelasnya.  

Sementara, Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen mengatakan, Indonesia bisa saja meniru Tiongkok dan India dalam mewujudkan ide pengurangan jumlah unit dalam satu lot. Di India tercatat satu lot hanya terdiri dari 100 unit dan jumlah investor ritelnya cukup banyak. Tiongkok pun yang terdiri dari tiga bursa, salah satunya Bursa Hong Kong yakni Hang Seng juga tengah mengarah ke arah sana.  

Langkah tersebut, sambungnya, beralasan karena Indonesia merupakan salah satu dari lima negara besar setelah Tiongkok, India, AS, dan Rusia, namun sayangnya dari jumlah partisipasi yang terendah. “Tiongkok dan India yang mirip bursanya seperti kita,” ucapnya.   Adapun, mekanisme perubahan jumlah unit saham ini dikatakan Hoesen tidaklah sulit. Salah satunya lewat perubahan sistem kliring dan peraturan.  

Sementara itu, Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, pengurangan jumlah saham dalam satu lot tersebut untuk mempermudah investor membangun portofolio. Di mana, untuk menggolkan ide itu tidak terkendala kajian infrastruktur. ”Kalau kajian infrastruktur tidak ada masalah tapi kita harus mengukur mesin KSEI yang lebih penting kajian peraturan dibuat,” ucapnya.

BEI sendiri menargetkan jumlah investor dapat mencapai 2,3 juta atau 1 persen dari penduduk Indonesia. Namun kenyataannya jumlah investor saat ini masih di bawah 400 ribu. Untuk itu, dalam periode 2012-2015, BEI memfokuskan pada tujuh pilar pengembangan atau 7i, yaitu internal, investor, intermediaries, infrastructures, instruments, issuers and information.  
Menyangkut issuers, Ito menuturkan, tengah menyasar empat kelompok besar untuk menjadi emiten, yakni BUMN, pengelola sumber daya alam, perusahaan dengan pinjaman dana besar ke perbankan, dan emiten asing. Dengan demikian, BEI menargetkan dapat menambah jumlah emiten menjadi 500 hingga 2015 dari jumlah sekarang sebanyak 444 emiten.  

Jelas dia, saat ini pihaknya bersama Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sedang menjajaki peraturan mengenai bank kustodian dalam rangka menjaring emiten asing untuk tercatat di BEI. Aturan yang sedang dikaji tersebut berkaitan dengan peran bank kustodian. Selama ini bank kustodian hanya melayani investor saja.

Adapun emiten asing yang pernah menyampaikan niat untuk tercatat di BEI seperti Grup CIMB dan Maybank. ”Kami berharap secepatnya aturan selesai,paling cepat tahun depan. Diharapkan bank kustodian tersebut dapat melayani emiten asing yang listing di Indonesia,” katanya.

Selain itu, Ito optimistis 25 emiten dapat kembali tercatat di BEI pada tahun ini. Di mana, lima sudah listed dan 10 masih di proses Bapepam. ”Konsistensi dan persistensi itu kuncinya,” imbuh dia.  

Di sisi lain, PT BEI per Mei 2012 membukukan laba bersih Rp 128,63 miliar (unaudited). Di mana, total beban usahanya lebih besar dari laba usahanya. Mengomentari ini, Ito menjelaskan, hal itu karena berkurangnya pendapatan yang diperoleh dari Anggota Bursa (AB) dan biaya dukungan pengembangan pasar modal serta AB. Pada 2011, BEI menggelontorkan Rp 58 miliar ke AB dan Rp 83 miliar lebih untuk sosialisasi, edukasi, dan infrastruktur pasar modal.  

“Jangan keliru, bahwa sesuai anggaran dasar BEI bukan perusahaan pencetak laba, tapi lebih ke nirlaba. Meski begitu, kita butuh laba untuk sustainability dan kemampuan untuk investasi, infrastruktur dan pengembangan,” jelasnya. [O-2]      




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN