
** missed drop char **Aku tahu, Wo, pasti kau sungkan ke sana. Aku juga ngerti kalau Siti itu cinta sama kamu, sementara kau nggak mau ambil pusing tentang itu."
"Yang perlu kita pikir sekarang, bagaimana menyusun kata-kata, biar pak haji luluh. Jangan kau singgung soal Siti."
"Bukan maksudku begitu, tapi itu yang membuatmu bingung seperti ini. Tidak biasanya kan, kamu thas-thes tiba-tiba bingung dan lembek. Begitulah kalau berhadapan dengan cinta."
"Aku kesulitan mencari alasan yang pas. Tahu sendiri, bagaimana watak pak haji itu. Coba, nanti kita dikira macam-macam, bahaya, laten. Ini susah, Bur. Di mana pun pasti sulit menghadapi masalah seperti ini, tidak hanya di desa kita."
"Aku ada ide. Begini, kaulayani saja gelagat Siti itu. Nah, kauambil hatinya. Nanti, jika ada kesulitan berhadapan dengan pak haji, kita minta bantuan Siti. Bagaimana, Wo?" Subur tersenyum kecil. Dipandanginya wajah Bowo yang sejak semula serius. Tiba-tiba, jemari tangan Bowo mengepal. Sudut bibirnya terangkat, kemudian tertawa. Mereka tertawa bersama.
"Bur, menurutmu aku segampang itu berurusan dengan cinta? Sudah kubilang tadi, jangan kaucampur urusan ini dengan Siti. Dan kaupikir, pak haji bisa luluh dengan rengekan Siti? Ini masalah ideologi, menyangkut keamanan." Bowo beranjak. Tangan kanannya merogoh saku baju. Rokok keretek disulut. Ia berjalan mondar-mandir di depan Subur. Subur masih duduk di kursi batu di bawah pohon depan rumahnya.
"Kita sudah mencari tahu soal lesung. Di desa ini tidak ada lagi yang punya. Milik Mbah Karjo habis dimakan rayap. Punya Pakde Darmo dibeli kolektor benda unik dari Jakarta. Yang lain-lain hilang tak jelas rimbanya. Desa sebelah juga tak ada. Tinggal lesung pak haji itu satu-satunya."
"Apa memang harus begini susah mau menghidupkan kesenian yang lama mati?"
"Mungkin memang harus seperti itu, mesti melewati rintangan. Dulu sewaktu Paklik Gito masih bujang seperti kita, ia juga bermaksud menghidupkan kesenian gejog lesung. Kendalanya sama seperti yang kita hadapi sekarang. Di sini tak ada yang punya lesung. Mau bikin kan mahal. Satu- satunya cara, Paklik Gito meminjam lesung pak haji."
"Ya, aku tahu cerita itu. Paklik Gito dimarahi dan bahkan diusir, sampai sekampung geger. Kemudian yang terbentuk adalah kethoprak Laras Winasis yang setiap latihan pasti ditunggui orangtua-orangtua dan beberapa aparat. Ya, pada akhirnya, jadi kelompok kesenian pesanan yang manggung ke sana sini karena orderan. Itulah yang membuatku berpikir untuk meminjam lesung pak haji."
"Tapi, kau kan belum mencoba meminjamnya langsung, Wo?"
"Kau pingin aku diperlakukan seperti Paklik Gito, dan kejadian seperti itu terulang di kampung ini?"
"Halah, kurasa kau tidak serapuh itu. Kau orang yang nggak mudah menyerah dan lebih pintar ngomong. Sudah banyak bukti bahwa kau tidak gentar menghadapi apa pun, dan kau adalah pemimpin terdepan pemuda-pemuda di sini. Aku malah berpikiran bahwa sebenarnya kau memang mencintai Siti. Hanya saja kau gengsi dan jaim."
Mereka saling beradu pandang. Rokok di tangan Bowo dibanting, jari telunjuknya diacungkan ke muka Subur. Bowo ngeloyor pergi. Langit terlihat menyilaukan, cuaca gerah rasanya.
*
"Dulu, setiap pagi di desa ini terdengar suara lesung. Ibu-ibu menumbuk padi. Kalau didengar dari kejauhan, bersahutan seperti kelompok kesenian kothekan. Desa ini saban hari kentara bergairah. Tidak semata karena lesung bertalu, tapi oleh karena semua yang berkaitan dengan lesung masih saling mengikat. Ini seperti daur hidup, ekologi dalam ilmu biologi yang pernah kau pelajari. Jika salah satu musnah, yang lain akan punah.
Lesung itu ada, bukan karena untuk menciptakan bunyi dan seni. Lesung itu hanya alat saja. Ada lesung karena ada padi. Padi dihantam agar menjadi beras. Keduanya memerlukan lumbung, sapi, dan petani yang mengolahnya.
Sekarang, petani mana yang punya lesung? Sejak pertanian kita dipaksa menggunakan pupuk pabrik dan obat-obatan pemberantas hama, padi yang dihasilkan gampang bubuken. Nasinya mudah basi. Maka nyaris tidak memerlukan lumbung. Buat apa lesung kalau padi di lumbung ludes jadi bubuk? Sebagai gantinya, kemudian diciptakan selepan. Demikian juga dengan bibit varietas yang menghasilkan padi lebih banyak dan masa panen lebih singkat. Bibit harus beli. Semua harus beli.
Karena obat, tanah menjadi keras. Dan orang-orang lebih suka memakai traktor untuk membajak. Ringkas dan cepat. Sapi yang repot pemeliharaannya kemudian dijual. Kalau kau jeli, produk-produk itu seperti satu paket, dan petani harus membelinya. Sudah di program di Jakarta sana."
Orangtua itu bercerita panjang tentang lesung dan pertanian. Bowo menyimaknya satu per satu setiap kalimat. Orang di kampung mengenalnya sebagai petani organik. Namanya Mbah Suko. Tubuhnya kecil, tingginya sekitar 160 centimeter, berkulit hitam, dan bermata sayu.
Ia adalah teman karib Pakde Darmo semasa keduanya aktif dalam organisasi pemuda Marhaen. Pakde Darmo, si tukang jahit, adalah anak petani, makanya ia pernah menyimpan lesung cukup lama di rumahnya. Mereka berdua adalah pemuda terpelajar pada masanya.
Sore selepas Mbah Suko pulang dari sawah, Bowo meluangkan waktu berkunjung ke rumahnya. Bowo bermaksud mengetahui asal mula lesung yang tersimpan di rumah pak haji.
"Pak haji itu berasal dari keluarga petani. Ia berdagang kain di pasar karena dagang lebih banyak duitnya. Kau tadi bertanya, siapa sebenarnya pemilik lesung itu? Kau pasti sudah mendengar tentang kampung ini yang dulu dikenal dengan kesenian kethoprak lesung. Sangat terkenal waktu itu. Aku masih ingat, pernah Ki Narto Sabdo, jauh-jauh dari Sragen datang ke sini untuk latihan karawitan bersama. Bahkan, tembang Sarung Jagung itu diciptakan di kampung ini."
"Iya Mbah, saya pernah mendengar cerita itu dari Pakde Darmo. Bahkan karena terkenal, tiga tahun lalu seniman Bondan Nusantara dari Jogja datang ke sini pula, bertanya tentang masa lalu kethoprak lesung."
"Kampung ini terkenal dengan keseniannya. Maka, bagi orang yang mengerti potensi, kesenian dijadikan alat. Kau tahu peristiwa 1965, semenjak saat itu, kethoprak lesung dibubarkan. Kelompok itu dituduh PKI. Banyak orang-orang yang diciduk tanpa pemberitahuan dan pengadilan. Tak jelas, ke mana mereka sekarang. Kesenian itu lenyap seketika. Orang bahkan takut menyebut 'kethoprak lesung', sampai kini.
Aku akan bercerita tentang lesung di rumah pak haji. Lesung itu adalah lesung milik kelompok kethoprak yang paling terkenal. Anehnya, tidak ada yang tahu, lesung itu milik siapa, karena konon ia berasal dari luar daerah yang sengaja didatangkan kemari. Terbuat dari kayu jati tua, besar, panjang, dan kuat. Suaranya kung kalau ia perkutut, gandhang kalau ia jengkerik. Tapi, bukan sebab suaranya orang- orang menyukainya, tapi karena orang-orang memercayai lesung itu bertuah."
Mbah Suko tertawa. Bowo ikut tertawa. "Zaman sudah berubah. Segala sesuatu bisa menjadi mitos, termasuk hal-hal yang dulu dilarang, yang dianggap haram, dan berbahaya. Kini bisa saja berbalik. Itu bagi orang yang mau berpikir dan menerima perkembangan. Kau adalah lulusan kuliahan yang pintar, luwes bergaul dengan siapa pun."
Mbah Suko berdiri, berjalan menuju kolam samping rumah. Dibersihkannya kaki yang masih menyisakan sedikit lumpur. Orangtua itu sebenarnya seumuran dengan Pakde Darmo, tapi karena kulitnya hitam terbakar matahari, ia jadi kelihatan tua. Dan orang lebih suka memanggilnya 'mbah'.
"Aku dengar, kau mau membuat kethoprak lesung. Jika kau mau, minta saja lesung pak haji dengan baik-baik. Aku yakin, pak haji mengizinkan lesungnya dipakai."
Bowo mengernyitkan dahi. Mbah Suko tersenyum memandang anak muda di depannya yang kebingungan.
*
"Aku sudah mendengar kalau kalian berencana menghidupkan lagi kethoprak lesung. Aku sangat senang dengan pemuda seperti kalian. Lesung itu tersimpan di gudang, masih baik, karena kututup dengan kain mori," kata pak haji ketika menemui Bowo dan Subur di ruang tamu. Bowo dan Subur tersenyum saling berpandangan. Mereka kaget dengan kata-kata pak haji yang tidak disangkanya.
"Aku sebenarnya senang dengan ketoprak lesung, maka lesung itu kusimpan setelah tahu bahwa kelompok kesenian yang punya lesung ini dibubarkan. Aku beruntung bisa menyimpannya. Itu karena bapak-ibuku adalah haji, sehingga orang-orang tidak bakal memasalahkan. Aku juga berfirasat bahwa suatu waktu, lesung akan menjadi benda langka. Apalagi, keluarga orangtuaku masih berdarah seni, maka rasanya wajib aku melindungi benda berharga itu."
Pak haji kemudian bercerita tentang keterlibatannya dalam kelompok kesenian, dan upayanya melindungi warga yang dituduh terlibat peristiwa 1965. Bowo dan Subur lebih banyak mendengarkan.
Ruang tamu tampak gemerlap. Lampu kristal menggantung di tengah ruang. Kaligrafi Arab dan lansekap orang-orang mengerumuni Ka'bah dalam bentangan kain menempel di tembok.
"Tapi begini, Nakmas berdua, sudah hampir setahun ini lesung itu dibeli orang. Barangnya masih ada di gudang, tapi orang tersebut sudah membayar uang muka setengahnya. Katanya, sewaktu-waktu lesung itu akan diambilnya. Ini kuitansinya." Pak haji merogoh saku baju koko, lalu menyodorkannya.
"Hah, lima juta?" Bowo dan Subur terperanjat.
*
Pertemuan di rumah pak haji sore itu, bagi Bowo dan Subur hanya menghasilkan jalan buntu. Mereka pulang dengan tangan hampa.
"Sudah kuduga, pak haji itu kapitalis, bukan pelindung kesenian seperti ceritanya yang berapi-api," kata Bowo bersungut.
"Sialan!" Subur ikut mengumpat.
Tidak begitu jauh mereka melangkah, tiba-tiba suara dari belakang memanggil mereka. "Mas Bowo! Mas Subur!". Keduanya menoleh. Setengah berlari, Siti menghampiri. Kedua pemuda itu saling bersitatap.
"Ada pesan dari abah. Ini sebagai jaminan, boleh kalian bawa. Nanti kalau sudah dilunasi, kekurangan duitnya yang setengah boleh dipakai untuk membuat lesung," kata Siti sambil menyerahkan kuitansi yang tadi sempat mereka pegang. "Abah tadi lupa mau memberikannya," tambah Siti sambil menunduk.
"Terima kasih, Siti," jawab Bowo.
Siti kemudian pulang. Bowo dan Subur berbalik. Subur terbahak. Bowo terdiam sambil berkerenyit.
"Setengah?" gumam Bowo.
"Sudahlah, itu mending. Artinya, 'abah' mengizinkan anaknya berjodoh sama kamu!" Subur tertawa bergelak.
Rokok di tangan Bowo dibanting, jari telunjuknya diacungkan ke muka Subur. Bowo ngeloyor pergi. Langit sobek-sobek, seperti kuitansi yang dibawanya.
Sleman, 2009
Catatan:
Thas-thes : gesit, cekatan
Kothekan : menabuh benda-benda sehingga membentuk irama
Jaim: jaga image
Bubuken : menjadi tepung karena dimakan hama
Selepan : mesin penggiling padi
Kung: nyaring
Gandhang : kumandang