untuk Salsabila
Satu lagi kata
Hampir tiada cacat
Saat dimakna
Hanya keindahan bertahta
Di setiap barisan hururf-hurufnya
kamu"
Ya
"kamu"
Adalah kata
Yang celapun tak mampu
Merusak pesona artinya
Apa lagi gulana,
Segan pada aura yang terpancar dari deretan huruf
Saat mulutku mengejanya
Aku meresap dalam kata
Hatiku terpatri pada makna
Makna
Makna
Adakah kebahagiaan selain memaknai kamu
Adakah ketentraman selain memaknai senyum kamu
Adakah kedamaian selain memaknai wajah anggun kamu
"kamu"
Adalah kata
Yang membuat syair-syair ini
Menjadi berjiwa
"kamu"
Masih tetap sebuah kata
Penuh makna
Dan akan lebih bermakna
Jika segala keindahan maknanya
Selimuti hatiku yang belum bermakna
kairo, 221008
Gerhana Bulan
Saat purnama kembali redup
Tunduk
Pada kedigdayaan bayangan
Kuraba dadaku
Oh...
Cintaku masih berpijar dalam hati
Sayang,
Sudikah kau nikmati terangnya?
Saat aku gundah
Memaknai resahku
Kau tetap tersenyum
Gulanapun reda
Saat aku bahagia
Aku rasakan
Senyummu adalah riangku
Seakan gembira hanya milikku
Dan enyahlah derita
Kini
Aku bertanya
Apa yang bisa diperbuat senyummu?
Saat mataku tak lagi mampu melihat ragamu
Saat tubuhku tak sanggup lagi berdiri di depanmu
Kairo, 030209
Hisapan pertama,
Adalah frase dimana aku mulai berdinamika
Dengan korek, api, asap, nikotine
Serta tembakau dan kertas papir di ujung batang
Hisapan ke dua,
Ku persilahkan mulutku
Bebas berdialektika dengan secangkir kopi
Berdiskusi bersama cafeine
Hisapan ke tiga,
Ku biarkan akal dan hatiku
Berlayar di lautan kata
Memasang umpan di perairan lafad
Memancing huruf-huruf
Hisapan ke empat,
Ku susun huruf-huruf pada barisan kata
Ku rangkai kata dalam bingkai sajak
Hisapan ke lima dan seterusnya,
Sajak mulai berdeklamasi
Nikotine dan cafeine
Hanya pendengar
Madinah al-bu'uts al-islamiyyah, 050209