
enjelang petang, dia siuman. Sepanjang hari, dia tak sadarkan diri setelah terjatuh dari Mario, kuda jantan kesayangannya. Aku mendekatinya, membelai lembut kepalanya.
"Kau tak sadar seharian."
Bukannya merespons pernyataanku, ia malah mencari-cari Mario, "Bagaimana keadaan Mario? Dia baik-baik saja kan?"
Meski Mario telah membuatnya terjatuh lantas tak sadarkan diri, ia justru mengkhawatirkannya.
"Mario baik-baik saja. Ia ada di kandangnya."
"Ah, syukurlah."
Lebih lanjut, aku memberitakan kabar baik kepadanya bahwa kejadian tadi pagi itu tidak menimbulkan sesuatu yang fatal pada kesehatannya. "Dokter Syamsiar bilang, kau tidak apa-apa."
Kubantu ia untuk meneguk minum setelah ia berusaha payah menelan sebuah pil pahit berwarna perak. Setelah itu, kubantu juga ia untuk kembali berbaring. "Kau harus beristirahat total. Berbaringlah lagi."
Ia menurut. Sambil memandang ke luar, ia bertanya padaku, apakah Mario sudah diberi makan.
"Sudah. Aku sudah meminta tolong Pa Setyo untuk memberinya makan."
Setelah mendapatkan kepastian mengenai keadaan Mario, barulah perasaannya tenang. Keesokan paginya, kami sudah bisa meninggalkan rumah sakit itu.
Bagi suamiku ini, tak ada hal lain yang mampu mengalahkan ketertarikan dan kecintaannya pada kuda. Semenjak kecil, kuda sudah menjadi bagian hidupnya. Dia terlahir dan besar dalam keluarga yang begitu mencintai kuda. Ayahnya memiliki peternakan kuda, sementara ibunya adalah atlet kuda yang berhasil menggapai prestasi sampai tingkat nasional.
Sedari dini, ia sudah terbiasa hidup dan menghidupi kuda. Pada usia enam tahun, ia pun sudah bisa menunggang kuda sendirian. Menginjak usia remaja ia mulai terbiasa memberi makan dan memandikan kuda-kuda di peternakan milik ayahnya. Setamat SMA, dia sudah menjadi atlet ber- kuda dan sama seperti ibunya, bisa menggapai prestasi sampai tingkat nasional. Berbeda dengan dua kakak laki-lakinya, hanya dialah yang meneruskan minat dan ketertarikan kedua orangtuanya akan kuda.
Ia jujur berkata padaku bahwa mulanya tak pernah terbesit keinginan dalam dirinya untuk mendedikasikan hidup semata berurusan dengan hewan satu itu. Namun, semakin hari, ia menemukan kebahagiaan dan ketenangan di sana. "Bukankah kebahagiaan yang membuat kita merasa hidup?" katanya. Begitulah, kuda telah membuatnya begitu bahagia dan tak ada hal lain di dunia yang bisa membuatnya merasakan indahnya hidup daripada itu.
Sampai kini, ringkikan kuda seolah sudah menjadi alarm baginya untuk bangun pagi-pagi. Setelah terbangun, sebelum mandi, ia terlebih dulu mendatangi kandang kudanya di belakang rumah. Ia juga yang memberinya makan. Sehabisnya, ia akan menunggangi kuda-kudanya itu, bergiliran setiap harinya, berkeliling di padang rumput luas milik keluarga yang kini sudah menjadi miliknya setelah mendapatkannya sebagai warisan dari kedua orangtuanya yang sudah meninggal dunia.
Pagi itu, ia terbangun sebagaimana biasa, oleh ringkikan kudanya. Ia bergegas sehabis membasuh muka, menuju ke kandang kuda. Sementara aku masih menyelesaikan mimpi-mimpi aneh yang tak punya jalan cerita yang jelas.
Sehabis memberi makan, ia mengajak kudanya (kali ini giliran Mario, kuda yang paling disayangnya) untuk mengelilingi padang rumput. Ketika akan melompati sebuah parit kecil, Mario ragu-ragu sehingga ia kemudian berjingkrak secara mendadak dan terjatuhlah suamiku untuk kemudian pingsan.
*
Kami berkenalan lewat kontak jodoh di sebuah koran lokal. Dalam beberapa kali pertemuan, kami merasakan banyak kecocokan. Kami sama-sama tergolongan telat menikah. Usia kami saat itu sama-sama tiga puluh lima. Tak sampai tiga bulan saling menyelami, kami merasa sudah siap melanjutkan hubungan kami dengan pernikahan. Aku pun memutuskan untuk berhenti menjadi guru taman kanak-kanak dengan gaji yang tak seberapa itu, demi mendedikasikan diri, mendampingi dan merawat suami, menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik tentunya.
Meski banyak kecocokan di antara kami, ada minat besar pada diri masing-masing yang sungguh tak bisa kami buang demi sebuah kompromi. Ia menyukai kuda, aku menyukai pantai. Kami memang berbeda dalam hal itu. Namun, setelah memutuskan untuk hidup berdua dalam ikatan pernikahan, perbedaan yang ada pada kami itu tidak kami biarkan menjadi penghalang. Kami atur sedemikian rupa agar kami tetap menjalankannya, meski sendiri-sendiri.
Jadinya, aku seringkali pergi ke pantai sendirian. Meski tanpa teman, aku tetap bisa menikmati suasana pantai sebagaimana ia tanpa kawan, bisa menikmati dunianya dengan kuda. Layaknya kuda bisa membuatnya begitu bahagia, begitu juga pantai yang bisa membuatku gembira. Aroma laut membuatku tenang. Sambil memejam, biasanya aroma itu bisa membawa pikiranku jauh menuju alam tenang, membuat perasaanku ringan tanpa beban. Biasanya, aku menginap satu malam di rumah-rumah sewa sekitar pantai. Ini kulakukan demi menunggu malam, menanti bintang yang berhamburan di langit. Aku pun merasa, bintang adalah salah satu benda ciptaan Tuhan yang paling indah.
Aku mengandaikannya sebagai lubang-lubang kecil di lantai surga. Aku sangat menyukainya, bintang-bintang malam itu. Dalam keadaan beginilah, aku biasanya menemukan sebentuk kebahagiaan terbesar yang sesungguhnya kuinginkan.
Sore ini, aku memutuskan tidak menginap, tidak akan menunggu kedatangan bintang-bintang malam. Sepulangku itu, ia juga baru pulang dari sekolah berkuda yang didirikannya semenjak lima tahun yang lalu, setelah ia pensiun menjadi atlet profesional. Kulihat, ia tak langsung masuk ke dalam rumah, menemuiku atau menanyakan kabarku, atau sekadar menyapaku. Ia malah pergi ke kandang kuda. Biasanya, ia ingin memastikan apakah kuda-kudanya sudah mendapatkan perawatan yang layak dari Pak Satyo selama ia meninggalkan mereka. Lagi-lagi kusaksikan, ia begitu menyayangi Mario. Ia membelainya, ia mencium-ciumnya. Ia begitu bahagia.
u
Satu hal yang kemudian membuatku menyesal adalah, sebelum menikah, aku tidak memastikan bagaimana dengan permasalahan anak. Setelah menikah, begitu kagetnya aku mengetahui fakta bahwa ia sama sekali tidak ingin memiliki anak.
"Kalau kita punya anak, Mario dan kuda-kudaku yang lain akan merasa tersisihkan karena akan banyak waktuku tersita untuk memberikan perhatian pada anakku dibandingkan mereka."
"Bukankah kau bisa mengatur waktunya? Tidak mungkin juga seluruh waktumu kau habiskan dengan bermain atau merawat anakmu. Aku full time siap merawat mereka."
"Tetap saja, tidak akan bisa. Aku memikirkan nasib kuda-kudaku."
"Kau selalu memikirkan nasibmu sendiri dan nasib kudamu. Kau tidak pernah memikirkan aku." Jika sudah terpojok begitu, ia tidak akan menimpali. Ia malahan pergi beranjak men-jauh, sebuah respons tindakan yang semakin membuatku merasa sakit.
Aku menjadi sadar, ternyata dia adalah suami yang sibuk dengan dunianya sendiri. Ia adalah tipe lelaki yang tak akan peduli dengan betapa kesepiannya aku. Betapa aku menginginkan kehadiran seorang anak untuk menemani kesendirianku ini. Bukankah itu hakku? Dia punya banyak kuda, sementara aku hanya menginginkan seorang anak. Bukankah itu wajar? Tapi menurutnya tidak. Kuda-kuda itu sudah dianggapnya sebagai anak-anaknya dan karena aku sudah menikah dengannya maka otomatis kuda-kuda itu adalah anak-anakku juga, tak perlu lagi anak-anak yang lain.
Aku sudah lelah memperkarakan masalah-masalah itu. Kini semakin lama aku bersamanya, semakin asing dirinya bagiku. Sampai kemudian aku menemukan banyak kenyataan yang tak bisa dia sangkal lagi. Semua bukti yang kutemukan, dapat kurangkaikan dan kemudian kujadikan sebagai dasar untuk membuat sebuah kesimpulan bahwa suamiku itu nyatanya adalah seorang gay. Fakta yang lebih menyakitkan, ia menikahiku hanya sebagai sfarat utama agar orangtuanya mau memberikan harta warisan kepadanya.
Selain itu, ia juga ingin menunjukkan pada dunia bahwa dia adalah lelaki normal dengan bisa menikah dengan seorang perempuan. Maka dari itu, aku merasa sudah waktunya kami berpisah. Bagaimanapun, aku bukanlah seorang perempuan yang bisa ditipu untuk selama-lamanya. Aku bukanlah perempuan lugu, yang pasrah dengan kepura-puraan, yang menerima saja penindasan.
Pada suatu subuh yang masih gulita, kubawa sekoper baju dan kutinggalkan dia yang masih tidur dengan memeluk erat sebuah guling dengan sarung guling yang bergambar kuda jantan Australia. Kutinggalkan sepucuk surat di atas meja rias, kutindih dengan kacamata minusnya. Surat itu pasti akan ia temukan jika ia bangun, setelah ia mencari-cari kemudian memakai kaca matanya itu. Ia akan membacanya.
Aku meninggalkanmu.
Kenyataannya, hubungan pernikahan kita ini bukanlah hubungan yang sehat. Aku sudah mengetahui semua fakta di balik pernikahan ini. Mungkin aku akan ke pantai. Pantai yang mana akan kutuju, aku tak tahu sebab ada begitu banyak pantai yang kusuka. Bahwa kau tidak mencintaiku karena aku adalah perempuan, sudah kuketahui kini. Aku juga tahu kau sering ke luar dan mengunjungi lelaki yang kau cintai itu. Saatnyalah kita harus menghentikan semuanya. Tetaplah bersama Mario, bersama kuda- kudamu, bersama lelaki itu jika itu membuatmu bahagia. Aku akan pergi ke pantai sebab di pantailah kutemukan kebahagiaanku. Bukankah kau pernah bilang bahwa kebahagiaanlah yang membuat kita merasa hidup? Dan kau harus tahu bahwa aku juga masih ingin melanjutkan hidupku dan merasakan kebahagiaan itu...Selamat tinggal. Selamat berbahagia..
Tarakan, 26 Maret -4 April '09