
ANTARA/Fanny Octavianus
Para napi menggunakan hak pilihnya di TPS yang berada di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur, Rabu (8/7). LP Cipinang membuka enam TPS untuk 3.144 narapidana dan 120 pegawai LP.
esta demokrasi pada zaman reformasi memang menjadi milik semua rakyat, baik yang bebas maupun yang harus mendekam di balik jeruji besi hotel prodeo. Kendati menjalani hukuman, para warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas I Cipinang, Jakarta Timur, Rabu (8/7) sangat antusias mengikuti pemilihan presiden (pilpres) guna menentukan pemimpin negara lima tahun ke depan.
Pelaksanaan pilpres bagi "warga binaan" kali ini terasa lebih spesial, karena mereka berkumpul di lapangan tengah sambil bercengkerama. Apalagi hari itu, pihak LP menyiapkan organ tunggal, dan mereka dapat menyumbangkan suaranya. Kesiapan panitia terlihat jelas dari penataan tempat pemungutan suara (TPS) yang lebih baik daripada TPS-TPS lainnya di luar.
Enam bilik suara masing-masing, dua di sebelah Utara yakni TPS 66 dan 67 dengan corak tenda warna merah sebagai ciri pasangan Megawati-Prabowo, sedangkan dua TPS yakni 68 dan 69 di sebelah Timur dengan tenda didominasi warna Biru sebagai ciri khas pasangan SBY-Boediono. Dua bilik lainnya di sebelah Selatan yakni TPS 70 dan 71, berwarna Kuning sebagai ciri pasangan, JK-Wiranto.
Sementara itu, di sebelah barat, terdapat bangunan permanen yang terbuka dan biasanya digunakan untuk acara-acara resmi. Di tempat mirip aula itu, ditempatkan alat musik dan beberapa kursi yang ditempati para petugas LP dan beberapa mantan pejabat yang sedang menjalani masa hukuman. Puluhan napi berdiri antre di luar bilik suara sambil menunggu kesempatan menyalurkan aspirasinya.
Adapun, para warga binaan yang terdiri dari para mantan politisi, birokrat dan pejabat tinggi lainnya tampak lebih santai. Mereka telah menyalurkan haknya dan tampak bercengkerama seperti yang mereka lakukan ketika masih menjadi pejabat, walaupun di tempat yang kebebasannya sedang terbelenggu.
Di jajaran itu, tampak mantan Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri, Wakil Ketua Komisi Yudisial Irawadi Yunus, mantan Kabulog Widjanarko Puspoyo, mantan Kepala BKPM Theo F Toemion, mantan Dirut Bank Mandiri ECW Neloe, mantan Wadirut Bank Mandiri I Wayan Pugeg dan dua politisi, yakni Bulyan Rohan dan Sarjan Thaher.
Sarjan, politisi dari Partai Demokrat menghidupkan suasana dengan menyanyikan beberapa lagu sambil meminta rekannya ikut bergoyang dan menyanyi bersama. Lagu yang mendapat respon yakni poco-poco. Lagu asal Manado itu langsung disambung antusias, ECW Neloe dan beberapa rekannya tampak langsung membentuk barisan sambil bergoyang mengikuti irama. Warga binaan yang lain tampak menikmati, hingga membentuk kerumunan di tengah lapangan. [B-15]