
ri Atun (63) merupakan seorang penghuni panti jompo Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 2, Cengkareng, Jakarta Barat yang kemarin ikut berpartisipasi memberikan suaranya, pada Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2009.
Kaki-kakinya yang renta terlihat kesulitan menopang tubuh tuanya ketika Sri hendak menuju bilik suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 31. Ia pun dipapah seorang petugas panti agar tak tumbang sebelum tiba di bilik suara.
Hampir lima menit Sri Atun berdiri di dalam bilik suara, sebelum akhirnya kembali dipapah petugas panti ke kotak suara. Tangannya yang keriput gemetar saat memasukkan kertas suara yang telah dicontrengnya ke kotak suara.
Seusai Sri Atun melaksanakan haknya, kini giliran Juriah (68) yang dipapah petugas panti menuju bilik suara. Sama seperti Sri Atun, Juriah pun terlihat kesulitan ketika memasukkan kertas suara yang telah dicontrengnya ke kotak suara. Ia pun dibantu petugas KPPS setempat.
Sri Atun, Juriah, dan 38 orang penghuni Panti Sosial Tresna Werdha telah tiba di TPS 031, di Jl Cendrawasih 6 RT 6 RW 7, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, sejak pukul 07.00 WIB.
"Setelah sarapan, mereka langsung kami antar ke sini dengan menggunakan mobil. Walau jarak dari panti ke TPS cukup dekat, tapi kami tidak tega membiarkan mereka jalan kaki ke sana. Soalnya, mereka sudah kakek-kakek dan nenek-nenek, jalannya saja susah," kata seorang staf perawat Panti Tresna Werdha, Hartati kepada SP.
Beruntung, sebelum menuju TPS 031, para pemilih jompo ini telah sarapan, sebab, setibanya di TPS, ternyata mereka masih harus menunggu sekitar satu jam sebelum akhirnya pemilihan suara dimulai. "Kalau belum dikasih makan, bisa rewel mereka. Maklum sudah tua, jadi kelakuan mereka kembali seperti anak kecil lagi," terang perempuan yang akrab disapa Tati.
Hampir dua jam, 40 penghuni panti berada di TPS. Seusai mendapatkan haknya sebagai warga negara, para penghuni panti itu kembali diantar ke panti. Sekembalinya dari TPS, Sri Atun dan Juriah yang tidur sekamar bersama lima orang penghuni panti lainnya, sama sekali tak membahas perihal pilihan mereka tadi. Mereka justru sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Ada yang memilih tidur-tiduran di kasur, beberapa di antaranya duduk di depan kamar dengan tatapan mata menerawang. Kebisuan menyelimuti mereka, sampai SP mengajak berbincang-bincang.
Cukup Lihat Nomor
Ditanya mengenai pilihannya, dengan tersipu Sri Atun mengaku memilih pasangan nomor tiga (Jusuf Kalla-Wiranto). Namun, ketika ditanya alasannya memilih pasangan nomor urut tiga tersebut, Sri Atun segera menggeleng. "Asal milih aja, begitu buka yang keliatan angka tiga, ya udah itu yang dipilih," ujarnya polos.
Sri Atun pun menggeleng ketika ditanya nama-nama capres dan cawapres yang terdapat di kertas suara. Ia, bahkan tak tahu jika yang tadi dicontrengnya adalah pasangan capres dan cawapres JK-Wiranto.
"Enggak ada yang saya kenal. Pokoknya saya cuma liat fotonya dan angkanya terus dicoret. Tapi, kalau namanya mah saya enggak tahu, enggak ada yang kenal," ungkapnya seraya memamerkan deretan giginya yang masih utuh.
Juriah pun mengaku asal memilih pasangan Megawati-Prabowo. Walau tak mengenal nama mereka, namun Juriah memilih pasangan nomor urut satu, lantaran foto Megawati adalah satu-satunya perempuan yang ada di kertas suara. "Enggak kenal siapa dia, pokoknya pilih saja, karena dia perempuan," katanya. [SP/Yumeldasari Chaniago]