SUARA PEMBARUAN DAILY

Tiongkok: Urumqi Terkendali

AFP/Peter Parks

Tentara Tiongkok berjaga di wilayah yang dihuni etnis Uighur di Kota Urumqi, Rabu (8/7) pascakerusuhan etnis yang terjadi di sana, akhir pekan lalu.

[URUMQI] Otoritas Tiongkok mengatakan, Kota Urumqi di Xinjiang telah terkendali, Rabu (8/7), setelah serangkaian aksi kerusuhan rasial yang terjadi sejak Minggu (5/7), dengan telah diturunkannya pasukan keamanan dalam jumlah besar di kawasan dengan mayoritas penduduk Muslim etnis Uighur itu.

Helikopter militer tampak terbang berputar di atas Kota Urumqi, sedangkan ribuan tentara, serta polisi antihuru-hara berjaga di jalanan. "Kami mendukung ini," kata seorang warga dari suku Han berusia 45 tahun, yang tengah menyaksikan tentara datang menggunakan truk militer.

Namun, dia juga menyayangkan, terlambatnya otoritas Tiongkok mengirimkan pasukan keamanan. "Mereka seharusnya sudah dikirimkan ke sini lebih cepat. Butuh tiga hari bagi mereka untuk melakukan ini, kenapa begitu lama," ucapnya.

Barikade

Ribuan polisi membentuk barikade yang memisahkan pusat kota dengan permukiman Uighur. Selasa (7/7), ribuan orang dari suku Han melakukan serangan balasan terhadap etnis Uighur, yang dianggap bertanggung jawab memicu kerusuhan yang menewaskan sedikitnya 156 orang, dan lebih dari 1.000 orang terluka, akhir pekan lalu. Otoritas telah menerapkan jam malam, Selasa, untuk mengembalikan keamanan di Urumqi.

Blokade jalan oleh polisi yang didukung ribuan tentara, berdampak berkurangnya jumlah orang-orang yang masih berusaha turun ke jalan dengan membawa senjata. Wali Kota Urumqi Jerla Isamudin mengatakan, pada Rabu malam, bahwa situasi di kota itu telah terkendali. Dia juga mengancam dijatuhkannya hukuman mati bagi mereka yang terbukti terlibat melakukan pembunuhan saat insiden kerusuhan.

Saksi mata mengatakan, ketegangan masih tetap tinggi, dengan sekelompok orang dari suku Han dan Uighur masih berusaha melanjutkan konfrontasi. Seorang ibu berusia 60 tahun dari suku Han mengaku tak mengerti mengapa kerusuhan etnis bisa terjadi di Xinjiang. "Selama 40 tahun saya tinggal di lingkungan dengan tetangga etnis Uighur. Mereka baik, dan bahkan memperlakukan saya seperti ibu mereka. Hati saya sakit melihat etnis Uighur menyerang suku Han, dan kemudian ada pembalasan," ungkap wanita berambut putih bernama Zhu. [Reuters/B-14/L-9]


Last modified: 9/7/09