
AP/ Khalid Mohammed
Tentara Irak tampak berjaga-jaga di Kota Baghdad menyusul penarikan pasukan AS dari kota besar dan kecil di Irak pada 30 Juni lalu.
[MOSUL] Serangan bom mobil mengguncang dekat sebuah masjid di Mosul, kota di wilayah utara Irak yang diwarnai pergolakan, sehingga menewaskan sembilan orang dan mencederai 13 lainnya, Rabu (8/7). Serangan ini merupakan serangan tunggal terburuk di Irak sejak penarikan besar-besaran tentara AS dari kota-kota besar dan kecil di seantero negara itu, Selasa (30/6).
Bom mobil diledakkan di Distrik Bawiza, yang berada di pinggiran Kota Mosul, ungkap seorang petugas kepolisian. Pengeboman di Bawiza hanya terjadi dalam hitungan menit setelah serangan serupa di wilayah lain dekat kota tersebut mengakibatkan sembilan orang luka-luka.
"Kami menerima sembilan mayat," kata Dr Ahmed Abdul Karim di kamar jenazah Medical City Hospital di Mosul. Ia memastikan 22 orang juga mengalami luka-luka dalam serangkaian serangan yang terjadi.
Dua serangan sebelum insiden Bawiza yang juga terjadi di Mosul hari Rabu menewaskan dua tentara Irak. Tentara pertama tewas ketika bom pinggir jalan menghantam kendaraan militer yang sedang melintasi wilayah tengah Mosul. Sedangkan, koleganya ditembak mati oleh sekelompok pria bersenjata yang menyerang pos pemeriksaan keamanan di sebelah timur Mosul, ungkap seorang petugas polisi.
Warga Sipil
Sementara itu, sebuah bom yang dipasang di sebuah mobil di Al-Mussayab, kota kecil yang terletak 75 kilometer arah selatan Baghdad menewaskan dua warga sipil dan mencederai 18 lainnya, ungkap Letnan Haidar Al-Khafaji dari militer Irak.
Empat minggu sebelum penarikan pasukan AS memperlihatkan jumlah korban tewas tertinggi di Irak dalam kurun waktu sebelas bulan terakhir, demikian menurut data resmi yang dipublikasikan 1 Juli. Sebanyak 437 orang, termasuk 372 warga sipil tewas pada bulan Juni, sehingga menjadi angka tewas tertinggi sejak Juli 2008.
Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki mengingatkan pada bulan lalu, bahwa para pemberontak dan milisi-milisi tampaknya akan meningkatkan serangan-serangan menjelang penarikan pasukan AS pada 30 Juni, sebagai upaya menghancurkan kepercayaan akan kemampuan pasukan Irak dalam menjaga keamanan negaranya sendiri. [AFP/E-9]