
AP/Haraz N Ghanbari
Presiden AS Barack Obama (kiri) bercanda dengan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy (duduk) dan Kanselir Jerman Angela Merkel (kanan) sebelum pertemuan G-8 di L'Aquila, Italia, Rabu (8/7).
[L'AQUILA] Keprihatinan serius atas kekerasan pascapemilu di Iran disampaikan oleh kekuatan dunia yang tergabung dalam Kelompok Delapan (Group of Eight/G-8) dalam sebuah pernyataan bersama, Rabu (8/7). Sekalipun demikian, mereka bertekad meraih resolusi damai guna mengakhiri ketegangan terkait program nuklir Iran.
"Negara-negara G-8 masih terus prihatin akan peristiwa-peristiwa terkini di Iran. Gangguan terhadap media, penahanan-penahanan yang tak dapat dibenarkan terhadap para jurnalis, dan penangkapan-penangkapan beberapa waktu terakhir terhadap sejumlah warga negara asing tidak dapat diterima," ungkap pernyataan itu.
Deklarasi itu mendesak rezim di Teheran untuk berdialog dengan Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) selaku pemantau nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) guna menyelesaikan perselisihan terkait ambisi nuklir negara tersebut yang sudah berlangsung sejak lama.
"Kami mendesak keras Iran untuk bekerja sama dengan IAEA dan mematuhi resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan tanpa ada lagi penundaan," demikian pernyataan itu.
Desakan pemajuan dialog untuk mengakhiri ketegangan nuklir dengan Teheran juga sudah disampaikan oleh Presiden Prancis Nicolas Sarkozy. "Kami ingin setiap kesempatan yang ada diberikan untuk negosiasi. Jika hal itu berhasil, maka luar biasa. Jika tidak menghasilkan, maka hal itu tidak akan dibiarkan tanpa diberi konsekuensi apa pun," ungkap Sarkozy. Ia mengingatkan Iran, komunitas internasional bertekad membuat kemajuan dalam penyelesaian ketegangan nuklir dengan Teheran.
Sarkozy mengutuk apa yang disebutnya sebagai pemerasan yang dilakukan Teheran dengan menyandera sejumlah tahanan Barat yang ditangkap menyusul tindakan tegas aparat untuk meredam kekacauan pascapemilu.
Tegas
"Pernyataan G-8 sudah tegas," kata Sarkozy merujuk pada upaya internasional membawa Iran ke meja perundingan guna membicarakan dugaan rencananya membangun persenjataan nuklir.
"Antara Agustus dan September adalah waktu yang dialokasikan untuk memutuskan bagaimana mereka ingin segala sesuatunya berkembang. Pittsburgh adalah tanggalnya," kata Sarkozy, mengisyaratkan Iran telah diberi waktu informal untuk merespons tawaran-tawaran Barat sebelum penyelenggaraan KTT G-20 mendatang.
"Rezim Iran selama ini sudah menolak seluruh tawaran yang diulurkan kepada mereka," tandasnya. Sarkozy juga mendesak Iran segera membebaskan peneliti berusia 23 tahun, Clotilde Reiss, seorang warga negara Prancis yang ditangkap di Teheran pada 1 Juli dan dituduh melakukan aktivitas mata-mata menggunakan surat elektronik berisi keterangan terperinci seputar protes-protes jalanan Iran yang disampaikan kepada teman-temannya.
Pemimpin Prancis itu menyebutkan, tuduhan-tuduhan terhadap Reiss hanyalah alasan yang sengaja dibuat-buat untuk menekan Paris, yang senantiasa membantah Reiss terlibat aktivitas mata-mata.
Upaya-upaya Barat untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran sejauh ini dikandaskan oleh penolakan Moskwa untuk memajukan langkah-langkah keras terhadap negara itu. Tetapi, Sarkozy mengatakan, mitra wicaranya dari Rusia, Dmitry Medvedev, telah bersikap konstruktif terkait isu tersebut. "Kami telah mengambil langkah-langkah sangat besar menuju terwujudnya kesatuan. Kami semua berpikir akan muncul bencana apabila isu-isu ini tidak diselesaikan melalui diplomasi dan dialog," kata Sarkozy.
Kekuatan-kekuatan Barat menuding Teheran berupaya membangun persenjataan nuklir di balik kedok yang disebut para pemimpin Iran sebagai program energi nuklir untuk kepentingan sipil. [AFP/E-9]