
SP/Ignatius Liliek- Menonton siaran pemilu di televisi Posko Slipi.
esta demokrasi kali ini benar-benar diberi makna sebagai "pesta" politik yang sarat hiburan. Makna itu nyata terlihat pada tayangan sejumlah stasiun televisi pada Rabu (8/7) kemarin. Televisi mengemas siaran mengenai perkembangan kegiatan pemilihan presiden (pilpres) dalam aksi yang menghibur. Siaran berita pemilu tidak lagi kaku, tetapi menjadi lebih gebyar, menarik, dan mendebarkan.
RCTI misalnya, menggelar acara bertajuk Dahsyatnya Pilihan Indonesia. Acara ini menghadirkan update laporan pelaksana pilpres dengan iringan penampilan sejumlah musisi popular Tanah Air yang dipandu oleh Olga, Luna, dan Ade Namnung. Pengisi acara itu adalah sejumlah musisi populer seperti Hijau Daun, MAIA, J-Rocks, Saykoji, Cosmic, Joeniar Arief, Cokelat, Netral, Vidi Aldiano, Pasto, Ussy, Bonus, Wong Pitoe, Sigit, Five Minutes, Asbak, Radja, Magneto, dan Rio Febrian.
Aksi ini juga ditingkahi oleh bincang politik yang dipandu oleh Isyana Bagoes Oka dan Putra Nababan untuk mengulas hasil quick count, perolehan suara sementara dan dominasi wilayah pemenang para kandidat presiden dengan ditemani para narasumber tokoh-tokoh sosial dan politik terkemuka Indonesia seperti Firmanzah, Phd Prof Dr Pratikno, Dr dr Fahmi Idris. Eep Saefullah Fatah, MA dan Arswendo Atmowiloto.
Konsep serupa juga diusung oleh Trans Corp. Dengan dipandu Helmy Yahya, bahasan Quick Count Pemilu 2009 yang berlangsung tepat pukul 12.00 WIB di studio 1 Trans Corp ini diselingi sejumlah penyanyi seperti Bunga Citra Lestari, Andra and the Backbone, membuat tayangan berita pemilu tidak lagi kaku dan membosankan, tetapi menyegarkan bahkan meriah.
Sebelumnya, stasiun televisi juga telah banyak mengemas acara politik lainnya dalam gaya hiburan, antara lain Kencan Politik, Uji Kandidat, dan Republik BBM. Hingga muncullah istilah"politainment", yakni "perkawinan" antara politik dan entertainment.
Dengan kemasan ini, membuat program berita naik daun. Menurut Communications Executive AGB Nielsen Media Research Andini Wijendaru, selama Januari-Juni, tercatat pasokan berita tertinggi terjadi pada April dengan Jumlah mencapai rata-rata 45 jam sehari. "Ini terkait dengan adanya pemilu legislatif pada bulan tersebut," kata Andini, dalam laporannya akhir Juni lalu.
Yang menarik, pada Juni, menjelang pelaksanaan pilpres, jumlah jam tayang berita telah mencapai rata-rata 43 jam per hari. "Ini menunjukkan bagaimana pemirsa mulai manambah waktunya untuk menonton berita," ungkap Andini.
Hiburan
Apa yang dilakukan kedua stasiun televisi ini dengan program pemilu, menunjukkan bahwa televisi nasional didominasi oleh aspek hiburan. Apa pun programnya, kemasannya harus hiburan. Karena itu, tak heran jika acara talkshow "dikawinkan" dengan komedi, siaran berita dikawinkan dengan pertunjukan musik, perjalanan, dan kuliner.
Wakil Pemimpin Redaksi tvOne Nurjaman Mochtar, pernah mengatakan bahwa pihaknya sengaja mengemas siaran pemilu dalam kemasan menghibur demi menjangkau pemirsa lebih luas hingga ke kalangan menengah bawah. "Kalau hanya menghadirkan pakar, lalu disuruh diskusi, pasti membosankan dan tidak banyak yang nonton," ucapnya. Pihak tvOne ingin siaran pemilu tampak gebyar, menarik, dan juga mendebarkan. "Saya ingin orang menonton quickcount seperti nonton F1 (balap mobil Formula 1). Adrenalinnya ikut terpacu," tambah Nurjaman lagi. [W-10]