
Film: Punk in Love
Genre: Komedi
Sutradara: Ody C. Harahap
Produser: Raam Punjabi
Produksi: Multi Vision Pictures
Pemain: Vino G. Bastian Andhika Pratama Yogi Finanda
Aulia Sarah Catherine Wilson
Multi vision Picture- Adegan film "Punk In Love".
iawali dengan percobaan bunuh diri yang menghebohkan Kota Malang, empat anak Punk, Arok (Vino G Bastian), Yoji (Andhika Pratama), Mojo (Yogi Finanda), dan Almira (Aulia Sarah) tanpa pikir panjang memutuskan untuk pergi ke Jakarta untuk menyatakan cinta kepada seorang gadis pujaan. Dengan modal hati dan rambut jigrak kebanggaan, perjalanan sepanjang Pulau Jawa yang awalnya biasa saja, malah menjadi sebuah petualangan yang luar biasa.
Sesuai alur, runut cerita film ini menampilkan seorang pemuda bernama Arok, yang kala itu sedang berdiri di atap gedung Departemen Agama Malang. Dia berniat bunuh diri lantaran sang gebetan, Maia (Girindra Kara), bakal menikah dengan seseorang bernama Andra. Beruntung, teman-teman satu geng Arok, yaitu Yoji , Almira, dan Mojo berhasil meyakinkan Arok untuk membatalkan niatnya.
Kemudian, bermodal duit alakadarnya, empat sekawan ini nekat berangkat ke Jakarta dengan misi menggagalkan pernikahan Maia dan Andra. Berbagai rintangan mereka lalui, termasuk nyasar ke Bromo, terjebak banjir di Semarang, mendadak sakit di Cirebon, sampai dipukuli preman di Jakarta. Tapi semua halangan ini tidak membuat mereka patah semangat. Justru, persahabatan mereka semakin erat.
Sebenarnya, Punk In Love bukanlah film tentang anak punk. Bukan pula film cinta. Film ini adalah film tentang persahabatan. Hanya kebetulan saja, empat sekawan ini berdandan ala anak punk, menyukai musik punk, walaupun salah satu dari mereka diam-diam juga penggemar musik dangdut. Ditambah lagi, ada bumbu cinta dalam film tersebut.
Sayangnya, jalinan cerita film ini mudah ditebak. Banyak yang mengatakan, film ini penuh dengan adegan slapstick dan jokes kentut yang murahan dan tidak lucu. Di sisi lain, beberapa adegan di film ini cukup sukses memancing tawa, terutama adegan-adegan yang melibatkan tokoh Mojo.
Menonjol
Akting Yogi Finanda terbilang paling menonjol dibandingkan aktor-aktor lainnya. Bagaimana untuk melucu, dan serius, dimainkannya dengan baik. Begitu juga dengan Andhika Pratama. Dengan modal bahasa Jawa yang cukup fasih, dia mampu membuat penokohan dalam film ini terlihat pas. Yang membuat aneh adalah wajah indo yang dimiliki oleh Andhika Pratama. Untuk Vino G Bastian, aktingnya terlalu berlebihan, tidak alami dan dibuat-buat.
Punk in Love adalah karya kelima sutradara Ody C Harahap, setelah menghasilkan super komedi Kawin Kontrak Lagi. Dua karya terakhir Ochay, demikian Ody kerap disapa, adalah film-film yang memiliki suasana lokal yang kental. Jika Kawin Kontrak dan Kawin Kontrak Lagi menghadirkan suasana kampung Sunda, maka dalam Punk In Love ini, Ochay menghadirkan karakter-karakter dengan logat Jawa Timur yang ditabrakkan dengan banyak setting di kota-kota sepanjang pulau Jawa, dari Malang hingga Jakarta.
Bekerja sama dengan Ical Tanjung, peraih Piala Citra 2008 untuk Penata Kamera Terbaik, Ody memoles cerita dengan pemandangan khas dari tempat-tempat seperti Bromo, Pati, Kudus, Semarang, dan Cirebon. Para aktor dan aktris dalam film ini, mau tak mau turut berkelana sepanjang Pulau Jawa. Tidak ada kemewahan. Vino G Bastian, Andhika Pratama, Yogi Finanda, dan Aulia Sarah bersama-sama men- jalani rute Malang-Jakarta dengan bis yang sama dengan kru, mampir di tiap kota dan menjalankan shooting di bawah terik matahari yang sama. Bahkan, mereka harus memakai baju yang sama dari awal hingga akhir syuting.
Bisa dibilang, pengorbanan paling besar dari aktor dan aktris Punk In Love adalah ketika mereka harus mem- babat rambut mereka untuk memerankan anak-anak punk sesungguhnya. Tidak ada rambut palsu, Vino dan kawan-kawan tampil dalam penampakan yang tidak pernah ada sebelumnya. Dengan mengusung cerita kocak, spontan, dan seru, Punk In Love diharapkan akan membawa semangat perjalanan dan kerinduan kampung halaman pada musim libur sekolah. Film ini diputar serentak di bioskop-bioskop seluruh Indonesia mulai 9 Juli 2009. [ISW/N-5]