SUARA PEMBARUAN DAILY

Rendahnya Produktivitas Kopi RI

SP/Alex Suban

Seorang ibu memetik kopi di Desa Blang Gele, Kecamatan Bebesan, Aceh Tengah, Aceh.

Potensi kopi Indonesia boleh dikatakan sangat tinggi. Tidak saja jenis robusta, tetapi juga arabika yang mempunyai kekhasan sesuai dengan kondisi geografis. Di luar negeri, kopi asal Aceh, Jawa, Toraja, Flores, dan Papua mempunyai peminat tersendiri.

Sayangnya, banyak faktor yang menjadi penyebab sehingga potensi tersebut tidak tergarap dengan baik. Salah satunya adalah produktivitas kopi yang rendah, sekalipun Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat dunia, setelah Brasil, Kolumbia, dan Vietnam. Produktivitas kopi Indonesia hanya sekitar 700 kilogram per hektare per tahun, sementara Vietnam mencapai 1.540 kg/ha/th, Kolumbia 1.220 kg/ha/th, dan Brasil 1.000 kg/ha/th.

Data itu diungkap dalam diskusi bertajuk Mengembangkan Budidaya Kopi Berkesinambungan di Indonesia yang digelar PT Nestle, di Jakarta, Kamis (2/7). Hadir dalam kesempatan itu antara lain Dirjen Perkebunan Achmad Mangga Barani, peneliti Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Surip Mawardi, serta Kepala Sub Direktorat Standarisasi dan Teknologi Departemen Perindustrian Arius Sunarso.

Arius memaparkan, produksi kopi Indonesia pada 2007 mencapai 860.300 ton atau 10,5% dari produksi kopi dunia (8.305.300 ton). Dari jumlah itu, kopi robusta 92%, sisanya kopi arabika. Saat ini, luas areal perkebunan kopi di Indonesia 1,26 juta ha, dengan dominasi perkebunan rakyat (96%), terbanyak di Sumatera (53,3%), Jawa (14%), dan lainnya (32,5%).

Perlindungan

Achmad Mangga Barani menekankan pentingnya peningkatan produktivitas dan perlindungan tanaman kopi serta permodalan bagi petani kopi. Sebagai negara tropis, katanya, Indonesia berpotensi untuk terus mengembangkan produksi kopi, serta meningkatkan pangsa pasar di dalam maupun luar negeri.

Dia menegaskan, peme-rintah mengalokasikan dana Rp 30 miliar pada 2010 guna memacu tingkat produksi kopi di Tanah Air. Sekitar 60% dari dana itu akan digunakan untuk memperbaiki kualitas benih guna meningkatkan produktivitas tanaman. Produksi ditargetkan naik dari 650.000 ton tahun 2009 ini menjadi 750.000 ton tahun depan.

Untuk itulah, dalam sebuah simposium kopi yang diselenggarakan Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI) beberapa waktu lalu, para petani kopi mempersoalkan berbagai kebijakan pemerintah yang tidak tepat sasaran. Selama ini, banyak pihak mengklaim diri sebagai petani kopi, namun mengambil manfaat atas nama petani kopi tersebut.

"Kebijakan pemerintah belum menyentuh petani kopi di daerah-daerah. Kami tidak pernah tahu dan melihat ada dampak positip yang langsung dirasakan," tegas Mustafa Ali yang juga Ketua Forum Kopi Aceh beberapa waktu lalu.

Bagi Surip Mawardi, hal-hal yang perlu diperhatikan bagi petani kopi adalah perlunya pembibitan kopi berkualitas dan pengembangan manajemen usaha. Di Indonesia, ungkapnya, lebih dari 90% petani kopi rata-rata hanya memiliki lahan 0,5 ha, sedangkan di Brasil rata-rata 60 ha. Jadi, katanya, bagaimana meningkatkan pendapatan petani, dan bertahan saat harga kopi jatuh.

Dia menyarankan, petani menanam kopi bervariasi dengan tanaman lain dan beternak juga. Pendekatan kepada petani di Indonesia pun harus berbeda dengan negara lain, karena pengaruh kondisi lahan, iklim, dan perilaku yang berbeda. Puslitkoka saat ini menerima pesanan biji kopi unggul dari pemerintah sebanyak 6 juta ton, sedangkan untuk biji kakao 25 juta bibit. [S-26/H-12]


Last modified: 9/7/09