SUARA PEMBARUAN DAILY

Sajak Indra Tjahyadi

Nasihat bagi Orang Jatuh Cinta

Mengapa juga kita harus bersibuk

diri memberi tanda

pada segenap perpisahan, bukankah semalam kita

telah sama sepakat: di lenguh terakhir,

di ujung derit ranjang ternyaring,

kita akan sama berpisah,

kembali dibawa

jarak dan ilusi. Sebab di hidup

yang bising dan hanya sekali ini

(kau pun tahu) tiada guna bersengsara

karena cinta,

meski di luar penyair, perayu,

dan pencinta tengah bersibuk

diri merangkai bunga, menyusun sajak,

membangun monumen

rapuh atas nama asmara.

2006-2008

*

Dua Percakapan

1.

"Adakah kau akan menangis tatkala

esok tiba waktunya

aku harus pergi tualang menyusuri

senyap langit?"

"Barangkali ya, barangkali pun tidak,

sebab di hidup

yang nisbi dan pahit ini, apakah yang tak sedih,

adakah yang tak rintih, seperti kicau burung

di hari pagi, laksana pelukmu hangat

di malam-malam

gerimis, selagi aku tiba-tiba jaga

dalam mimpi buruk sebelum

datang hari pagi."

2.

"Kota ini begitu dingin, kasihku,

datanglah ke mimpiku,

peluk aku, aku butuh kehangatanmu."

"Ah, ingin aku, cintaku. Ingin aku.

Tapi, kau pun tahu,

di jarak yang jauh dan bisu ini, tak ada perahu,

tak ada kecupmu, yang akan membawaku

sampai ke dalam mimpimu, sampai ke hangat peluk dan ranjangmu."

2007-2008

*

Riwayat Pohon Rumpang

Malam yang rombeng dan berkarat

mengiris tidurku.

Déjà vu kegelapan mendesakkan hujan,

membagi jantungku dengan ngilu. Bukan badai

yang ingin kupeluk tiap kali dingin datang

menusuk tempurung lututku.

Ah betapa jauh tubuh remajamu

yang kurindu. Ah betapa lekat sunyi

menggerogoti umurku.

Jam yang berhenti berdetak

di dinding kamar makin memisahkan

aku dari cumbu. Seseorang membedil bulan

dengan pahit arak (kekal) tercekat

di kerongkongan layaknya pemabuk.

Jiwaku suntuk. Makin suntuk.

Menorehkan tanda kabung

pada kabut. "Sayang, lihat!

Jenazahku hancur, lamat-lamat

melapuk!" Mereka mengenaliku

sebagai riwayat pohon rumpang

yang dikabarkan kekosongan dan pilu.

Kematianku tegak tak bermakam.

Ruhku kesepian. Berdiam pada segala senyap. Segala kebisuan.

2007-2008

*

Hikayat Sepi

Sepi yang dilepaskan rintih menjelma bayangan,

mengobrak-abrik isi almari. Sepanjang tidur

jalanan, sepi itu menjelma kupu-kupu,

memfirmankan rintih.

Di bawah lindung rindang trembesi,

sepi itu adalah mimpi gelap pohonan kering yang berdiri sunyi

menunggu datang hantu malam hari.

Di malam dingin,

sepi itu adalah aku, mayat yang senantiasa

dilalaikan kubur,

dikekalkan perih menggigil.

2007-2008


Last modified: 31/10/08