Mengapa juga kita harus bersibuk
diri memberi tanda
pada segenap perpisahan, bukankah semalam kita
telah sama sepakat: di lenguh terakhir,
di ujung derit ranjang ternyaring,
kita akan sama berpisah,
kembali dibawa
jarak dan ilusi. Sebab di hidup
yang bising dan hanya sekali ini
(kau pun tahu) tiada guna bersengsara
karena cinta,
meski di luar penyair, perayu,
dan pencinta tengah bersibuk
diri merangkai bunga, menyusun sajak,
membangun monumen
rapuh atas nama asmara.
2006-2008
*
1.
"Adakah kau akan menangis tatkala
esok tiba waktunya
aku harus pergi tualang menyusuri
senyap langit?"
"Barangkali ya, barangkali pun tidak,
sebab di hidup
yang nisbi dan pahit ini, apakah yang tak sedih,
adakah yang tak rintih, seperti kicau burung
di hari pagi, laksana pelukmu hangat
di malam-malam
gerimis, selagi aku tiba-tiba jaga
dalam mimpi buruk sebelum
datang hari pagi."
2.
"Kota ini begitu dingin, kasihku,
datanglah ke mimpiku,
peluk aku, aku butuh kehangatanmu."
"Ah, ingin aku, cintaku. Ingin aku.
Tapi, kau pun tahu,
di jarak yang jauh dan bisu ini, tak ada perahu,
tak ada kecupmu, yang akan membawaku
sampai ke dalam mimpimu, sampai ke hangat peluk dan ranjangmu."
2007-2008
*
Malam yang rombeng dan berkarat
mengiris tidurku.
Déjà vu kegelapan mendesakkan hujan,
membagi jantungku dengan ngilu. Bukan badai
yang ingin kupeluk tiap kali dingin datang
menusuk tempurung lututku.
Ah betapa jauh tubuh remajamu
yang kurindu. Ah betapa lekat sunyi
menggerogoti umurku.
Jam yang berhenti berdetak
di dinding kamar makin memisahkan
aku dari cumbu. Seseorang membedil bulan
dengan pahit arak (kekal) tercekat
di kerongkongan layaknya pemabuk.
Jiwaku suntuk. Makin suntuk.
Menorehkan tanda kabung
pada kabut. "Sayang, lihat!
Jenazahku hancur, lamat-lamat
melapuk!" Mereka mengenaliku
sebagai riwayat pohon rumpang
yang dikabarkan kekosongan dan pilu.
Kematianku tegak tak bermakam.
Ruhku kesepian. Berdiam pada segala senyap. Segala kebisuan.
2007-2008
*
Sepi yang dilepaskan rintih menjelma bayangan,
mengobrak-abrik isi almari. Sepanjang tidur
jalanan, sepi itu menjelma kupu-kupu,
memfirmankan rintih.
Di bawah lindung rindang trembesi,
sepi itu adalah mimpi gelap pohonan kering yang berdiri sunyi
menunggu datang hantu malam hari.
Di malam dingin,
sepi itu adalah aku, mayat yang senantiasa
dilalaikan kubur,
dikekalkan perih menggigil.
2007-2008