SUARA PEMBARUAN DAILY

Anak Kedua

Oleh Jajak MD

Kakek saya dulu pernah berkata, bahwa anak kedua, biasanya lebih pintar ketimbang kakaknya, anak pertama. Kenapa? Ada kemungkinan karena Ibunya pada saat hamil yang pertama belum tahu apa-apa. Belum tahu persiapan apa yang harus dilakukannya, harus banyak- banyak makan apa atau minum apa dan sebagainya. Tegasnya, belum mempunyai pengalaman! Kakek pun memberi contoh, "Bung Karno dan Bung Hatta, keduanya adalah anak kedua! Mereka malah berhasil menjadi orang-orang besar".

Akan tetapi, bagaimana dengan keluarga saya? Saya lahir sebagai anak pertama. Namun, saya baru mempunyai adik 10 tahun kemudian. Saya tidak tahu mengapa begitu. Padahal waktu itu belum ada KB-arahan pemerintah. Tetapi, konon juga sudah ada KB, tetapi sistem berkala. Artinya, pada saat istri dalam keadaan subur, tidak boleh mengadakan hubungan badan. Lepas dari itu, bapak tetap percaya pada kata-kata kakek, bahwa dia akan lebih pintar atau cerdas ketimbang saya. Tak apalah, toh kami berdua telah telanjur dilahirkan. Bahkan kemudian, lahir lagi dua anak perempuan.

Pada saat saya berumur 20 tahun, bapak menderita sakit dan meninggal. Samsir adik aya lelaki itu baru kelas lima SD. Di sekolah, dia memang paling pintar, dan tentu saja lebih cerdas otaknya ketimbang saya. Tetapi dengan meninggalnya bapak, ibu lalu jadi kebingungan. Mau usaha apa? Sementara anak-anaknya masih kecil-kecil? Kami pun lalu berunding.

"Bagaimana kalau buka warung saja kecil-kecilan? Toh ibu masih punya perhiasan untuk dijadikan modal?" Begitu usul ibu. Cepat-cepat saya pun setuju. Sebab kami memang harus segera bergerak. Nah, begitulah selanjutnya hidup kami.

Samsir memang ternyata luar biasa cerdasnya. Dengan begitu, usai SMA, saya lalu sepenuhnya mengelola warung dan mengurusi mereka. Per- hatian saya, terpusat pada Samsir, satu-satunya yang bisa diharapkan nantinya saat usai belajarnya. Akan tetapi, setamat SMA-nya ia tidak mau sekolah di Bogor tempat kami tinggal selama ini. Ia ingin bersekolah di Yogyakarta seperti teman-teman lainnya yang katanya lalu sukses di hari kemudiannya.

Tanpa terasa, saat itu saya sudah berumur 30 tahun, belum kawin. Memang terpaksa demikian, karena harus bekerja mengurusi warung, sementara ibu juga tidak mau menikah lagi. Bagaimana dengan Samsir? Bukankah ia akan memerlukan biaya yang tinggi sekalipun hanya tiga tahun karena hanya mau sampai akademi saja? Setelah saya pikir-pikir, tak apalah. Saya percaya bahwa Tuhan pasti akan membantu umatnya seperti saya ini.

Ringkas cerita, Samsir lalu belajar di Akademi Jurnalistik. Ya, sejak dulu ia memang senang membaca dan bercita- cita ingin sekali menjadi wartawan. Tetapi celakanya, di saat ia masih tingkat dua, ia jatuh cinta dengan gadis anak ibu yang dipondokinya. Jadi mereka masih sama-sama remaja. Dan bisa ditebak, bahwa selanjutnya gadis itu lalu hamil, dan mereka harus segera dikawinkan.

Tahun terakhir ketika ia tamat belajarnya, anaknya sudah lahir. Sebab itu ia pun lalu berusaha mencari pekerjaan demi anak-istrinya. Tetapi, karena penampilan dan nilai diplomanya sangat meyakinkan, ia pun lalu diterima bekerja di sebuah koran terkemuka di Jakarta.

Lalu belum sampai satu tahun lamanya ia sudah memboyong keluarganya, dan tinggal di kawasan Jakarta Barat, di pinggir jalan menuju sebuah kuburan China. Rumahnya sederhana. Bersusun atas dan bawah. Yang bagian atasnya rata dengan jalan raya, dan yang bagian bawahnya rata dengan kebun milik para tetangganya, orang-orang kampung di sekitarnya.

Dan tak jauh dari situ, mengalir sebuah sungai. Status tanahnya adalah lahan garapan. Orang boleh tinggal di lahan ini dengan izin lurah setempat. Oleh karena daerahnya yang seperti itu, maka rumah atasnya dipakai sebagai warung seperti yang selama ini saya kelola demi kehidupan kami berempat, ibu dan adik-adik. Ternyata, Samsir memang cerdas. Warung ini bukan saja akan mendatangkan kesibukan istrinya, tetapi juga mendatangkan pendapatan yang lumayan.

Sedangkan rumah bagian bawahnya dipakainya tinggal sebagaimana umumnya, di samping untuk menyimpan karangan, arsip-arsip, dan buku-buku yang dianggapnya penting, yang dalam angannya besok akan dibentuk sebagai perpustakaan.

Akan tetapi mungkin karena pergaulannya di kantor sudah modern, maka Samsir mulai kelihatan berubah juga. Ketika itu ia sudah dua tahun tinggal di Jakarta, dan anaknya sudah dua. Akan tetapi menjelang kelahiran anak ketiganya, istrinya mengalami kelainan pada rahimnya. Ia tidak bisa mengerem atau menahan air seninya kapan saja ia sudah merasa ingin. Sebab itulah ia lalu minta agar dibolehkan berobat di Yogya, sekaligus melahirkannya di sana.

Samsir setuju. Mereka berdua segera berangkat ke Yog-yakarta. Kedua anaknya ditinggal dan diasuh salah seorang adik perempuan saya. Warungnya pun terpaksa ditutup untuk sementara. Akan tetapi baru dua hari mereka ada di sana, tiba-tiba datang telegramnya. "Istriku sudah melahirkan. Tetapi bayinya meninggal dunia karena prematur!"

Kami semua ikut berduka. Saya pun segera membalasnya dengan telegram juga. "Biarkan istrimu istirahat dulu di sini. Jangan kau ajak pulang dulu". Dan betul, dua hari kemudian Samsir pulang. Kehidupannya pun berjalan normal seperti biasanya, minus warungnya yang tetap tutup.

Satu bulan lamanya istri Samsir ada di Yogya, baru dijemput pulang. Tetapi selama istrinya itu ada di rumah, pelan-pelan telah terjadi perubahan pada diri Samsir. Ia terlihat jadi pesolek. Ia pergi ke kantor lebih pagi dan pulang lebih lambat. Namun, istrinya tidak menaruh prasangka apa-apa. Kini ia telah mulai lagi dengan kerja warungnya.

Sampai dengan saat itu, kendaraannya yang dipakai oleh Samsir masih berupa skuter. Namun, kini ia telah mendapat kendaraan dinas, sebuah mobil yang masih cukup lumayan keadaannya, dari kantornya. Nah, sejak saat itulah mulai terasa adanya kerenggangan dengan istrinya. Saya pun, walaupun jarang bertemu, merasa agak aneh dengan perilaku adik saya itu.

Keadaan yang demikian itu terus berlangsung. Bahkan kian terasa adanya kerenggangan, dan dari mulut Samsir mulai keluar ucapan-ucapan atau kata-kata yang kurang enak, yang seolah-olah menuduh istrinya telah berselingkuh dengan pengemudi mobil angkutan yang biasa disewanya untuk kulakan. Namun sebaliknya, kami-saya dan istri Samsir -mencium pula adanya gosip bahwa Samsir ada main dengan teman sekantornya yang baru.

Perempuan itu seorang sarjana lulusan fakultas sosial politik. Orangnya memang lebih gesit dan cantik ketimbang istrinya. Jadi, beralasanlah jika ia jatuh cinta padanya. Nah, semenjak itulah Samsir sering uring-uringan jika kebetulan ada di rumah. Lebih-lebih lagi setelah terjadinya musim banjir yang melanda Kota Jakarta.

Begini jelasnya. Ketika itu Samsir sedang ditugaskan ke luar kota, untuk beberapa hari lamanya. Jakarta memang sudah mulai dilanda hujan. Akan tetapi, hujan kali ini memang luar biasa. Tiga hari tiga malam terus mengguyur sehingga banjir pun terjadi menggenangi kampungnya.

Banjir ini kian menghebat, saat sungai yang tak jauh dari rumahnya itu meluap sehingga menenggelamkan rumahnya yang bawah. Istri dan anak-anaknya tak bisa berbuat apa- apa kecuali pindah di rumah atas, tanpa bisa mengusung barang-barang yang ada di bawah karena banjir itu tengah malam datangnya.

Apa yang terlihat oleh Samsir saat ia pulang dan menyaksikan keadaan rumahnya seperti itu? Sebenarnya ia ingin mengamuk karena berangnya, kata istrinya. Tetapi apa mau dikata? Bukankah bencana ini bukan bikinan manusia, apalagi bikinan keluarganya?

Saya bisa mengerti juga akan kesedihannya. Yakni karena sejumlah arsip dan buku-buku yang telah dikoleksinya terendam di sana. Dalam hati saya kasihan juga, sebab cita- citanya akan menyaingi HB Jassin sebagai kolektor dan pustakawan sepertinya akan gagal.

Oleh karena keadaan yang tampaknya tak bisa dipertahankan lagi jika terus bertahan di situ, maka Samsir sekeluarga pindah ke daerah Tebet yang bebas banjir. Di sini tampaknya mereka lebih baik. Istrinya yang baru sembuh dari sakitnya juga kelihatan lebih segar. Namun sayangnya, percintaan Samsir dengan pacarnya di kantornya itu semakin seru. Bahkan ada tanda-tanda harus segera dilangsungkan pernikahan karena si pacar itu hamil. Celakanya, ketika hal ini terdengar oleh istrinya, dia pun langsung minta cerai.

Samsir pun panik. Namun, bagaimanapun ia harus bertanggung jawab dan ternyata lebih memilih pacarnya yang baru. Maka pecahlah "perahu" yang telah dinakhodainya selama beberapa tahun itu dengan meninggalkan istri dan kedua anaknya.

Nasib Samsir mengharukan lantaran pada saat melahirkan, istrinya mengalami kegagalan. Ia meninggal saat masih di rumah sakit. Syukurlah bayinya selamat sehingga tragedi ini tidak terlalu tragis rasanya.

Akan tetapi dasar manusia. Tidak lebih dari setahun meninggalnya istrinya itu, Samsir pun menikahi adik perempuan istrinya itu....... *

Bks. Juli 2008


Last modified: 31/10/08