SUARA PEMBARUAN DAILY

Sajak Isbedy Stiawan ZS

Menetas puisi

tak ada puisi malam ini,

ia membusuk oleh gelinjang dan tarian

liarmu. sebaiknya kutinggalkan kamar yang membuatku tak lagi

bisa bergetar saat menafsir

setiap desah waktu dan dingin kota

ini. trotoar makin membeku.

jalan-jalan membatu.

sudah kucoba buka jendela kamar.

angin menelingsut masuk. ada

yang tiba-tiba hendak mengusik,

tapi segera kutampik: "maaf aku

sedang mengeram kata-kata,

kuingin secepatnya menetas

sebagai puisi

jadi anak-anak berlari menjauhi sarang,

masuk tanah lapang. buru bayang-bayang atau ikut kau menari

di ruang-ruang akuarium.

melupakan kata yang tak pernah mau

menetas jadi puisi

kunikmati tubuhmu saja yang meliuk dan parasmu segigil kabut. tapi

usah ganggu. malam akan pulang seperti kemarin, ke tubuh waktu,

ke penabuh batu. "adakah kau

dengar erang ketika aku menetas?"

pulang lalu bakar sarang! -

Bandung, Juli 2008

*

Matahari tergelincir

sebentar kita tertawa dan sekejap yang lain bertikai. tiap kali kucing

dan anjing bertemu, cuma kuku-kukunya bicara. lalu kaukah yang

membiarkan waktu jauh pergi?

di tikungan jalan ini kau berjanji,

tapi di sini pula kau ingkari: sebagai pejalan yang lupa

pada rambu ataupun marka, tiang

listrik, papan reklame, juga baliho

berapa wajah sudah kebelah?

punggungtanganmu memar, tubuhku

lebam -- ah tidak, wajahku hilang?

Sebentar kita bertikai lalu kembali tertawa. kau menari

aku tergelincir: ilir ilir... selalu usia mengalir seperti ranting

yang tumbuh di bebukit, mati di lereng

"aku menunggumu di depan kuburku; saat matahari tergelincir."

2008

*

Lima puluh

perjalanan sudah amat jauh

dari akar pertama

hingga ke pucuk ranting

tubuh pohon tumbang

di leher sungai...

2008

*

Massage

singgah. kau tak ada dan rumahmu masih terkunci. lampu-lampu belum dimatikan,

dan jalan menuju pintumu

penuh tanah dari sepasang sepatu.

tak ada lagi pembantu

bahkan tukang cuci beberapa hari telah absen. "aku menginap di rumah teman.

bersama teman-teman," tulismu

di depan pintu.

temanmu banyak. rumah mana yang kauinapi? tak ada sinar

untuk membuka tabir

kau tertidur. di kamar temanmu.

"aku sakit, kau mau memijit?" harapmu. lalu dengan senang hati kaupun dipijit. dimulai telapak kaki, pindah ke pundak dan kepalamu, tak lupa kedua tanganmu. "tapi yang ini masih nyeri," ujarmu

menunjuk kedua betis dan pahamu.

sejak itu kau ingin sekali dipijit. temanmu sangat ahli.

2007/2008


Last modified: 24/10/08