tak ada puisi malam ini,
ia membusuk oleh gelinjang dan tarian
liarmu. sebaiknya kutinggalkan kamar yang membuatku tak lagi
bisa bergetar saat menafsir
setiap desah waktu dan dingin kota
ini. trotoar makin membeku.
jalan-jalan membatu.
sudah kucoba buka jendela kamar.
angin menelingsut masuk. ada
yang tiba-tiba hendak mengusik,
tapi segera kutampik: "maaf aku
sedang mengeram kata-kata,
kuingin secepatnya menetas
sebagai puisi
jadi anak-anak berlari menjauhi sarang,
masuk tanah lapang. buru bayang-bayang atau ikut kau menari
di ruang-ruang akuarium.
melupakan kata yang tak pernah mau
menetas jadi puisi
kunikmati tubuhmu saja yang meliuk dan parasmu segigil kabut. tapi
usah ganggu. malam akan pulang seperti kemarin, ke tubuh waktu,
ke penabuh batu. "adakah kau
dengar erang ketika aku menetas?"
pulang lalu bakar sarang! -
Bandung, Juli 2008
*
sebentar kita tertawa dan sekejap yang lain bertikai. tiap kali kucing
dan anjing bertemu, cuma kuku-kukunya bicara. lalu kaukah yang
membiarkan waktu jauh pergi?
di tikungan jalan ini kau berjanji,
tapi di sini pula kau ingkari: sebagai pejalan yang lupa
pada rambu ataupun marka, tiang
listrik, papan reklame, juga baliho
berapa wajah sudah kebelah?
punggungtanganmu memar, tubuhku
lebam -- ah tidak, wajahku hilang?
Sebentar kita bertikai lalu kembali tertawa. kau menari
aku tergelincir: ilir ilir... selalu usia mengalir seperti ranting
yang tumbuh di bebukit, mati di lereng
"aku menunggumu di depan kuburku; saat matahari tergelincir."
2008
*
perjalanan sudah amat jauh
dari akar pertama
hingga ke pucuk ranting
tubuh pohon tumbang
di leher sungai...
2008
*
singgah. kau tak ada dan rumahmu masih terkunci. lampu-lampu belum dimatikan,
dan jalan menuju pintumu
penuh tanah dari sepasang sepatu.
tak ada lagi pembantu
bahkan tukang cuci beberapa hari telah absen. "aku menginap di rumah teman.
bersama teman-teman," tulismu
di depan pintu.
temanmu banyak. rumah mana yang kauinapi? tak ada sinar
untuk membuka tabir
kau tertidur. di kamar temanmu.
"aku sakit, kau mau memijit?" harapmu. lalu dengan senang hati kaupun dipijit. dimulai telapak kaki, pindah ke pundak dan kepalamu, tak lupa kedua tanganmu. "tapi yang ini masih nyeri," ujarmu
menunjuk kedua betis dan pahamu.
sejak itu kau ingin sekali dipijit. temanmu sangat ahli.
2007/2008