SUARA PEMBARUAN DAILY

Bendera Joko Ping

Oleh Agus Dermawan T

Pelukis Joko Ping merasa disambar geledek. Bayangkan, pameran lukisan yang ia selenggarakan dengan susah payah, dikecam pedas oleh seorang kritikus lewat artikel yang dimuat di surat kabar. Dalam artikel itu tertulis kalimat yang berbunyi begini: "Karya Ping adalah kuburan ilham yang membikin mampet dunia lukisan. Dengan begitu karya Ping masuk dalam kategori: jelek saja belum".

Jelek saja belum! Ping tersayat dengan kalimat yang ditulis seenaknya ini. Ia yakin tulisan kejam itu akan menjauhkan lukisan-lukisannya dari calon pembeli. Padahal, lukisannya belum pernah laku. Padahal, dengan lukisan itulah ia makan. Padahal, dengan karya-karya itulah kehidupannya ingin dijalankan. Ping sesungguhnya ingin pingsan.

Namun, sebagai manusia ia mencoba bertahan. Alhasil, sambil memaklumi bahwa jangan- jangan si kritikus adalah seniman yang gagal, ia memutuskan untuk berhenti jadi pelukis. Ia ingin mencari pekerjaan lain yang lebih jelas penghasilannya, dan dirasa tak kalah mulianya. Ping lantas mendaftarkan diri menjadi hansip, atau laskar pertahanan sipil.

"Apabila seni lukis bisa mengamankan perasaan, maka hansip bisa mengamankan lingkungan. Bolak-balik logika, lingkungan yang aman, akan menghasilkan keamanan perasaan," kata Ping dalam benak.

*

Sudah beberapa bulan Ping bekerja sebagai hansip. Setiap malam ia menjaga portal yang menghadang jalan masuk dan keluar di sebuah kompleks perumahan. Setiap kali ada mobil datang, ia menghormat dengan takzim kepada pengemudi. Tak peduli itu sopir atau si empunya kendaraan. Jari-jari tangan kanannya dirapatkan dan diangkat ke pelipis, seperti militer menghormat kepada atasan. Beberapa detik setelah menghormat, ia lalu mengulur tali portal, sehingga palang itu bergerak ke atas dan memberi jalan kepada setiap mobil.

Itulah yang terus dikerjakan Ping dari hari ke hari. Ia selalu menghormat dengan gesture yang sempurna, sambil menyampaikan senyum selamat datang atau selamat jalan kepada siapa saja. Begitu terus, dan begitu terus. Ia kadang merasa bosan dengan pekerjaan itu. Namun kebosanan tersebut ia kalahkan dengan prinsipnya yang tampak menawan.

"Setiap kali aku menghormat kepada mereka, sebenarnyalah aku melukisi hati mereka. Aku membuat kanvas batin mereka indah berwarna-warna." Ping pura-pura berfilosofi di dalam hati.

Dua puluh purnama telah ia lewati. Malam yang gerah sampai malam yang dingin ia tembus dengan semangat. Penghormatan kepada para pengemudi mobil senantiasa ia berikan. Banyak pengemudi yang bersimpati kepada hansip yang penuh dedikasi ini. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang lalu membuka jendela mobilnya, dan memberikan uang seribu, tiga ribu, lima ribu atau sepuluh ribu rupiah. Namun, Ping selalu menolaknya dengan etis dan ramah.

"Terima kasih Om, terima- kasih Pak, terimakasih Tante, terima kasih, Mas, terimakasih Mbak. Saya hanya bertugas membuka dan menutup jalan. Dan maaf, saya tidak menerima persenan," katanya sambil ber-pikir bahwa setiap minggu toh ia dapat gaji dari Kantor Biro Keamanan.

Dedikasi dan keteguhan hati hansip Joko Ping tak henti teruji dan terpuji. Tidak satu sen pun persenan yang pernah ia terima. Bahkan Purba, yang dijuluki si Kelelawar Putih lantaran selalu pulang larut malam, pernah menyodorkan seamplop uang untuk membeli sepeda. Karena lelaki berkulit terang itu tahu bahwa Ping selalu menumpang kendaraan umum ke mana-mana. Hadiah besar itu pun ditolak oleh Ping dengan sukacita.

Tapi, dunia Ping dan dunia kenyataan pelan-pelan dipisahkan oleh jarak. Ping tetap tegak di tempat dengan tubuh yang kuat serta tangan dan mata penuh hormat. Sementara dunia kenyataan beringsut-ingsut, bergeser dan retak, sehingga membentuk kenyataan baru, menciptakan medan sosial baru yang rada kacau dan penuh haru-biru. Harga minyak naik, harga beras naik, harga gula naik, harga sayur naik. Dengan begitu, gaji mingguan Ping yang memang sedikit itu semakin turun nilainya. Tapi atas kenyataan ini Ping masih saja tak henti bangga dengan sikapnya.

"Tak ada hansip yang semakin kurus tubuhnya seperti aku. Sekaligus tak ada hansip yang semakin gemuk pengabdiannya seperti diriku," katanya kepada sejumlah temannya, dengan nada bergurau.

*

Pada suatu hari, ketika akan berangkat kerja ia tersentak saat membaca pengumuman yang tertulis di spanduk. "Ikutilah lomba menghormat bendera negara. Yang mampu menghormat bendera secara nonstop selama 17 jam, 8 menit dan 45 detik akan mendapat hadiah sepeda motor! Disediakan pula kulkas, kipas angin, celana, baju, dan sarung bagi peserta yang sanggup bertahan lama!"

Ping tergugah dengan ajakan itu. Ia membayangkan, apabila berhasil merenggut sepeda motor, ia bisa mengojek pada siang hari. Usai mengojek, dengan kendaraan itu pula ia datang ke tempat kerja pada malam hari. Ah, alangkah idealnya hidup. Gajinya yang kecil akan tertutupi oleh penghasilannya sebagai tukang ojek. Ia berniat, di sepeda motor itu akan dikibarkan bendera kecil, bendera negara. Dan dalam setiap perjalanan ia berjanji akan selalu menyanyikan lagu "Berkibarlah benderaku...lambang suci gagah perwira!"

"Jarang ada orang sebahagia saya", ujarnya dalam hati.

Saat perlombaan pun tiba. Di sebuah lapangan terbuka sang bendera negara berkibar jaya. Dan luar biasa, di lapangan itu sudah ada 638 orang yang siap mengikuti perlombaan. Lelaki dan perempuan, anak-anak muda sampai kakek-kakek yang sudah rata ubannya. Ping tentu terkejut melihat jumlah itu. Hati Ping berteriak, "Cilaka, sainganku kok begitu banyak..."

Lebih dari itu pikiran Ping dipenuhi pertanyaan. Adakah jumlah itu menunjukkan kuatnya nasionalisme anak-anak bangsa, sehingga bersedia menderita habis-habisan hanya untuk menghormat selembar bendera? Atau, adakah jumlah itu mengindikasikan begitu banyak orang yang sekadar ingin sepeda motor, kulkas, kipas angin, celana, baju dan sarung? Dan adakah acara hormat bendera cuma jadi alasan untuk menambal kebutuhan hidup yang semakin susah dicari dari hari ke hari?

Seorang pembawa acara terdengar menguar-uar pengumuman lewat mikrofon yang feed back suaranya. Para peserta diminta bersiap-siap. Setelah bersama- sama menyanyikan lagu kebangsaan, dan setelah jarum jam menunjukkan pukul 10 pagi, letusan pistol terdengar. Ping sedikit terkejut atas letusan itu. Dikiranya ada teror. Padahal, cuma penanda waktu bahwa perlombaan dimulai.

Bersama ratusan peserta Ping menengadah gagah menghadap bendera. Badannya sigap, dengan tangan kanan yang kuat menghormat. Sebuah sikap yang sudah sangat biasa dilakukan Ping bertahun-tahun di pos hansip.

Panas terik yang menghantam lapangan seperti menunjukkan bahwa matahari memang tidak peduli dengan perlombaan yang penuh spirit itu. Kadang angin bertiup sehingga sedikit menghilangkan gerah. Tapi angin justru membawa debu, sehingga mata para peserta yang tajam menatap bendera harus tak henti menyipit-nyipit dan berkedip bagai bintang kejora.

Pukul 4 sore, atau jam kelima hitungan perlombaan, separuh dari peserta sudah berguguran. Tak sedikit yang pingsan dan mengalami dehidrasi. Petugas kesehatan dengan tandu-tandunya nampak sibuk bersliweran. Tapi, Ping masih tampak gagah, meski keringat berlelehan. Menjelang senja jumlah peserta tinggal sepertiganya. Di luar lapangan terdengar sirene mobil ambulans, dengan kerlap-kerlap lampunya menghiasi lapangan.

Malam tiba. Bendera yang biasanya diturunkan pada senja hari, karena sedang dihormati, tentulah dibiarkan terikat di tiangnya. Lalu, entah datang dari mana, mendung tiba-tiba mengudungi lapangan. Setelah ditoreh segaris halilintar hujan pun turun dengan lebat. Ping masih bertahan dengan gaya hormatnya yang perkasa. Di lapangan para peserta hanya tinggal seperempatnya saja.

Ping hebat. Ping digdaya. Waktu menunjukkan bahwa Ping sudah berhasil memasuki jam yang ke 9. Namun mata Ping mulai berkunang-kunang. Di matanya yang mulai baur, bendera kuyub ia tatap selayak kain cucian yang berganda-ganda.

"Aku harus berhasil, karena itu aku harus kuat," gumamnya sambil telapak tangannya tak lepas dari pelipis.

Ping lantas mengatur siasat untuk menguatkan hati dan tekadnya, untuk memompa semangatnya. Ia pun menemukan cara: bendera itu ia bayangkan sebagai sepeda motor. Maka dalam sekejap ia seperti melihat sepeda motor tergantung di tiang tinggi. Dengan serius ia menghormat kepada sepeda motor yang jadi idamannya itu. Sampai di sini hati Ping sedikit gundah. "Adakah aku sudah melecehkan kesakralan bendera? Tidakkah aku berdosa kepada negara?"

Tapi Ping merasa dirinya harus berhasil. Pada jam yang kesebelas badannya mulai goyah. Matanya semakin berkunang-kunang, dan tangannya mulai lemas. Sepeda motor dirasakan sudah tak mungkin. Dengan cepat pandangannya atas sepeda motor ia reduksi menjadi kulkas. Ooo, kini yang tertatap di tiang bendera itu adalah kulkas. Dari lapangan ia tatap pintu kulkas yang gemulai melambai-lambai.

"Aku kini hormat sekali kepada kulkas," bisik Ping dengan perasaan sedikit malu dan napas terengah.

Kulkas itu terlihat mengkilat warnanya dan anggun sekali desainnya. Bagus apabila ditaruh di pojok kamar tempat ia kost. Namun, kulkas besar itu pelan- pelan mengabur juga dalam pandangannya. Kakinya yang mulai melemas pada jam yang ke-13, menyebabkan ia menggusur kulkas indah itu menjadi kipas angin.

"Kipas angin. Apa salahnya aku menghormatimu, seperti se-orang wisatawan agung memeluk sepoi angin gunung?" kata Ping dengan susah payah.

Hari menjelang subuh. Di ufuk mengintip bulan sabit. Hujan yang sudah lama reda tampak menyapu polusi kota, dan menyuguhkan bentangan langit seperti kerudung biru tua yang jernih. Tapi pemandangan itu tak berarti bagi Ping yang sudah melihat sang bendera negara bak sepotong sarung. Ya, sepotong sarung!

Pada jam ke-15 mata Ping mulai gelap. Lututnya dirasakan bakal copot, dadanya sesak, kepalanya sakit, sampai akhirnya ia takluk. Dengan serta-merta Ping terduduk, dan kemudian ambruk tengkurap di tanah lapang yang masih becek. Sarung yang berwarna menyala-nyala tak lagi bergurau dengan kelopak matanya. Tandu petugas kesehatan pun menggotongnya.

*

Sudah beberapa minggu Ping tidak muncul di pos hansip. Sejumlah temannya mencoba mencari ke segala penjuru. Sangat banyak pengendara mobil di kompleks itu mempertanyakan, kenapa Ping kini tak bertugas lagi sebagai pembuka dan penutup portal. Ping menghilang. Ping raib tanpa pamit. Namun tidak bagi Purba, Si Kelelawar Putih itu.

"Dua lukisan ini cukup baik. Ngontemporer. Boleh saya beli?"

"Aku pikir jangan dulu Pak Purba. Aku perlu saran kritikus. Tunggu sampai lukisanku betul-betul bermutu," sahut Ping.

"Nggak usah nanya-nanya kritikus. Ini sudah bagus. Ini saya mau."

Joko Ping tersenyum sambil menyapukan kuasnya di atas kanvas yang luas. *

Kelapa Gading Permai, 4.9.2008

p Untuk Aryo Seto.


Last modified: 24/10/08