
Judul: Meretas Jurnalisme Damai di Aceh, Kisah Reintegrasi Damai dari Lapangan
Editor: J Anto dan Pemilianna Pardede
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan KIPPAS atas dukungan Uni Eropa
Cetakan: Pertama, Desember 2007
Tebal Buku: 269 halaman
ewasa ini ada banyak istilah yang bisa dilabelkan kepada pers karena kecenderungan produk-produk jurnalismenya. Ada pers "tong sampah", karena segala sumpah serapah dari pelbagai pihak ditampung di dalamnya. Tujuannya jelas bukan untuk mencerdaskan publik, melainkan untuk mempermalukan atau membunuh karakter pihak lain. Ada lagi pers "provokator", karena berita-beritanya cenderung mengeskalasi suatu konflik yang tengah berlangsung. Atau, bisa juga karena pers tersebut secara sadar memerankan diri sebagai issue intensifier, yang bukan saja mengangkat isu bernuansa konflik melainkan juga mempertajamnya.
Mungkin beberapa tipikal pers seperti itulah yang disesali banyak pihak sebagai "pers kebablasan". Kebalikan dari itu adalah pers "jurnalisme damai", karena dengan segenap daya dan upayanya pers tersebut menjalankan fungsi conflict resolution. Yakni, yang secara sadar berupaya mewujudkan perdamaian di tengah masyarakat. Inilah pers yang ideal, yang selalu mengedepankan empati dan membangun solidaritas di balik setiap pemberitaannya. Peran pers seperti inilah yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, apalagi ketika situasi konflik tengah berlangsung.
Seperti dikatakan Annabel McGoldrick dan Jake Lynch, penganjur jurnalisme damai, pekerjaan jurnalis yang terutama adalah melakukan intervensi. Hanya saja pilihannya adalah pada etika : apakah intervensi si jurnalis tersebut digunakan untuk mendukung terwujudnya perdamaian atau sebaliknya? Inilah yang melatarbelakangi pentingnya perspektif jurnalisme damai dihayati dan diamalkan oleh para jurnalis dalam rangka merekonstruksi pelbagai peristiwa di Aceh pasca-MoU Perdamaian Helsinki 2005. Khususnya, ketika jurnalis menghadapi dinamika proses reintegrasi yang tak selalu berjalan mulus di lapangan.
Pascatsunami
Atas dasar itulah buku ini diterbitkan. Kedua penyuntingnya, yang aktif sebagai pemerhati pers, sadar betul bahwa situasi Aceh pascaintegrasi masih membutuhkan dukungan banyak pihak demi kesinambungan proses perdamaiannya pada masa-masa mendatang.
Dalam rangka itulah pers dipandang sebagai salah satu pihak yang berperan besar. Dan pers yang ideal adalah pers "jurnalisme damai".
Buku ini terdiri atas lima bab. Pertama, "Reintegrasi dan Perdamaian Aceh", banyak membahas peran pers dan proses perdamaian di Aceh, termasuk situasi Aceh pascatsunami 2004. Kedua, "Jurnalisme Damai dan Liputan Reintegrasi", memaparkan seluk-beluk kerja lapangan seorang jurnalis dan kaitannya dengan produk-produk pemberitaan yang dapat berdampak negatif dan positif. Ketiga, "Menulis Feature untuk Reintegrasi Damai Aceh", menjelaskan kiat-kiat penyajian berita-berita yang konstruktif melalui berita kisah atau feature.
Keempat, "Reintegrasi dari Berbagai Sudut". Bab ini berisi tujuh artikel, ditulis oleh orang-orang yang aktif berkecimpung di pers dan organisasi nonpemerintah, yang semuanya sarat pengalaman bekerja di Aceh. Kelima berjudul "Kabar Reintegrasi Damai Aceh dari Lapangan". Sebagian isi bab ini merupakan hasil karya tulis berdasar liputan mendalam yang dilakukan para jurnalis, yang usulan peliputan mereka terpilih serta mendapat dukungan dari KIPPAS (Kajian Informasi Pendidikan dan Penerbitan Sumatera) dan Uni Eropa.
Bab ini bukan hanya menyajikan berita, hasil wawancara, tetapi juga foto-foto hasil liputan di lapangan. Karena itu, membaca bab ini bagaikan membaca beberapa koran sekaligus yang secara khusus meliput situasi di Aceh.
Membaca buku ini niscaya memberikan kita beberapa manfaat. Pertama, semakin memahami apa dan bagaimana itu jurnalisme damai dan bagaimana pentingnya produk jurnalisme damai dalam mempengaruhi situasi di masyarakat. Kedua, memberi penjelasan penting secara teoritis maupun konseptual perihal apa dan bagaimana pers, cara dan proses kerja pers, kiat-kiat penulisan berita dengan standar yang baik, dan banyak hal penting lainnya berkaitan dengan pers yang ideal.
Pendeknya, membaca buku ini bagaikan mempelajari hal-ihwal pers. Bukan hanya khalayak pembaca umum yang akan memetik banyak manfaat dari buku ini, bahkan para pekerja pers pun niscaya diperluas wawasan dan keterampilannya, baik untuk peliputan di lapangan maupun untuk mempersiapkan dan menuliskan laporannya di belakang meja.
Menariknya, buku ini juga dilengkapi dengan kepustakaan dan indeks (berisi sejumlah nama dan istilah penting), juga catatan akhir (end note). Bahasa yang digunakan dalam penulisan buku ini pun sederhana dan mudah dicerna, karena kedua penyuntingnya memang bukanlah orang-orang baru di bidang tulis-menulis. [Victor Silaen, Dosen Fisipol UKI, pengamat sospol]