SUARA PEMBARUAN DAILY

Sajak Hasan Al Banna

Hujan, Melon, dan Alkisah Cinta

aku membayangkan daun-daun

yang bersimbah hujan

semacam irisan melon

di dalam kulkas: malu-malu

tapi menebar kerling ke penjuru dada

menagih hangat rahang dan kerongkongan

serupa kau?

aku terkenang ketika kau pernah tiba

dengan pisau cinta yang ditumpulkan lelaki

di masa silam: riwayat cinta

yang senantiasa menetaskan telur-telur luka

tak lebih dari selingkar janji yang mengingkar jari

siapa kau?

aku tak menyimpan segenggam pelipur duka

karena tanganku pun berdarah

oleh duri mawar: kelopak bunga

cuma mampu menyelubungkan noda

tapi tak kuasa sewangi sorga

pergi kau! Medan, 2008

*

Sebuah Malam, Kasih Tak Sampai

ini tiang perahu patah didobrak angin

tombak badai melukai jantung layar

lenteraku kunang-kunang yang kelelahan

sepasang dayungku lengan-lengan

yang kedinginan

sedang laut adalah jalan

yang menanjak dan berliku

karang ialah perangkap berhati batu

dan ai, malam tak juga tergenggam tangan

pula ia laksana kerajaan pitam

itu bulan hanya cahaya angan-angan

itu bintang cuma kerling kunang-kunang

aku kini semakin paham

perahuku menuju ke alamat karam

ih, aku tak sampai pada pantai

yang semampai

ah, aku tak tiba pada dermaga yang jelita.

Medan, 2008

*

Sajak Cinta di Dermaga

angin laut memantul di tiang-tiang kapal

parau dan letih

napas garam adalah musafir

yang berputar-putar

langit menjelma gadis yang pendiam!

sedang nyala lampu-lampu dermaga

adakah semacam lelaki kumal yang kesepian?

sebatas mengabarkan matahari segera karam

ke dasar malam

demikianlah, sejak lampau aku ingin meniru ketabahan

jangkar kapal; patuh dalam tualang

setia dipanggil pulang

tapi hai, tubuhku masih juga dipahat dari alur api

menghanguskan kenangan di pencil kepala

memusnahkan asa di haribaan dada

adakah riwayat diri tinggal sekerat hari

atau sejengkal tali?

perempuan adalah pengacau hidup, kataku

lelaki cuma budak kelamin, balasmu

aku kutuk kalian sebagai tugu pertengkaran,

sindir camar

alah, perahu rinduku senantiasa terperangkap

di antara cinta dan dendam

terombang, gamang

seperti ombak yang acap ditolak

pundak dermaga

ke rahim samudera. Medan, 2008

*

Sajak Pertengkaran

engkau bertampang jelita

tapi bermata curiga

maka sebut saja itu angin malam

lebih lihai menjelajahi hatimu tinimbang diriku

bangku taman pemangku yang gemulai

aku perayu yang kaku

engkau bersenyum permata

tapi berlidah cuka

lantas katakan saja, aku pengkhianat kecil

pada tualang kasih, pada arung cinta

aku pecundang di tubuh rindu

di kujur janji. Medan, 07-08


Last modified: 19/9/08