aku membayangkan daun-daun
yang bersimbah hujan
semacam irisan melon
di dalam kulkas: malu-malu
tapi menebar kerling ke penjuru dada
menagih hangat rahang dan kerongkongan
serupa kau?
aku terkenang ketika kau pernah tiba
dengan pisau cinta yang ditumpulkan lelaki
di masa silam: riwayat cinta
yang senantiasa menetaskan telur-telur luka
tak lebih dari selingkar janji yang mengingkar jari
siapa kau?
aku tak menyimpan segenggam pelipur duka
karena tanganku pun berdarah
oleh duri mawar: kelopak bunga
cuma mampu menyelubungkan noda
tapi tak kuasa sewangi sorga
pergi kau! Medan, 2008
*
ini tiang perahu patah didobrak angin
tombak badai melukai jantung layar
lenteraku kunang-kunang yang kelelahan
sepasang dayungku lengan-lengan
yang kedinginan
sedang laut adalah jalan
yang menanjak dan berliku
karang ialah perangkap berhati batu
dan ai, malam tak juga tergenggam tangan
pula ia laksana kerajaan pitam
itu bulan hanya cahaya angan-angan
itu bintang cuma kerling kunang-kunang
aku kini semakin paham
perahuku menuju ke alamat karam
ih, aku tak sampai pada pantai
yang semampai
ah, aku tak tiba pada dermaga yang jelita.
Medan, 2008
*
angin laut memantul di tiang-tiang kapal
parau dan letih
napas garam adalah musafir
yang berputar-putar
langit menjelma gadis yang pendiam!
sedang nyala lampu-lampu dermaga
adakah semacam lelaki kumal yang kesepian?
sebatas mengabarkan matahari segera karam
ke dasar malam
demikianlah, sejak lampau aku ingin meniru ketabahan
jangkar kapal; patuh dalam tualang
setia dipanggil pulang
tapi hai, tubuhku masih juga dipahat dari alur api
menghanguskan kenangan di pencil kepala
memusnahkan asa di haribaan dada
adakah riwayat diri tinggal sekerat hari
atau sejengkal tali?
perempuan adalah pengacau hidup, kataku
lelaki cuma budak kelamin, balasmu
aku kutuk kalian sebagai tugu pertengkaran,
sindir camar
alah, perahu rinduku senantiasa terperangkap
di antara cinta dan dendam
terombang, gamang
seperti ombak yang acap ditolak
pundak dermaga
ke rahim samudera. Medan, 2008
*
engkau bertampang jelita
tapi bermata curiga
maka sebut saja itu angin malam
lebih lihai menjelajahi hatimu tinimbang diriku
bangku taman pemangku yang gemulai
aku perayu yang kaku
engkau bersenyum permata
tapi berlidah cuka
lantas katakan saja, aku pengkhianat kecil
pada tualang kasih, pada arung cinta
aku pecundang di tubuh rindu
di kujur janji. Medan, 07-08