
Oleh Zaenal Radar T
udah hampir sepuluh tahun Bu Murtini menghidupi diri dan ketiga anaknya dengan cara menggali kuburan, yang biasa disebut sebagai liang lahat oleh penduduk di daerahnya. Pekerjaan yang tentu identik dengan pekerjaan laki-laki. Namun jangan sembarang meremehkan Bu Murtini. Meski ia perempuan tulen, ia mampu bekerja layaknya seorang laki-laki! Bahkan, barangkali tidak semua laki-laki mampu menggali liang lahat seperti yang selama ini dilakukannya.
"Pekerjaannya benar-benar rapi!" puji Pak Haji Jamal, salah seorang ulama terpandang di daerahnya.
"Saya juga heran. Tenaganya seperti tenaga kuda! Cepat sekali ia menggali liang lahat. Pagi diperintah, siangnya sudah beres!" tambah Pak Amil Midun, seseorang yang biasa mengurus upacara pemakaman.
"Mungkin karena sudah terbiasa!" komentar salah seorang warga, medengar pendapat tentang Bu Murtini.
*
Awal mula menjadi penggali liang lahat dilakukan Bu Murtini bersama almarhum suaminya. Setiap kali suaminya mendapat order menggali liang lahat, saat salah satu penduduk meninggal dunia, Bu Murtini tak pernah absen menemani suaminya. Bu Murtini berada di dekat suaminya menyiapkan apa-apa yang dibutuhkan. Entah memegangi pembersih cangkul, menuangkan air minum, atau membantu menarik tanah bekas galian yang berada di bibir liang lahat.
Begitulah. Setiap kali suaminya menggali liang lahat, Bu Murtini selalu membantunya. Bahkan, ketika suaminya merasa kelelahan, Bu Murtini tak segan-segan untuk menggantikannya.
"Sudahlah, Mur! Biar aku saja. Lebih baik kau temani anak-anak!" cegah suaminya, saat Bu Murtini mengambil alih tugasnya, sambil menahan batuk asma yang sudah sekian lama dideritanya.
"Si Markum sudah berangkat sekolah, Pak! Si kecil anteng diayunan!"
"Bukan begitu, Mur! Aku ndak enak melihat kamu menggali liang lahat ini. Apalagi, kalau sampai ada orang lain tahu. Perempuan ndak pantas menggali liang lahat!"
"Bukan pantas ndak pantasnya, Pak. Tapi yang penting aku bisa."
Bu Murtini tak peduli, apa kata suaminya. Ia terus menggali liang lahat hingga sampai pada ukurannya. Karena terlalu sering melihat suaminya menggali, ia tak merasa kesulitan mengatur luas dan kedalaman liang lahat. Dan sudah barang tentu, hal itu ditentukan oleh berita duka yang didengarnya, apakah yang meninggal dunia orang dewasa atau anak-anak.
Di lain kesempatan, Bu Murtini lebih sering menggali liang lahat ketimbang suaminya. Penyebabnya karena kesehatan suaminya menjadi kendala. Suaminya yang menderita asma cukup parah itu tak kuat lagi menggali liang lahat terlalu lama. Baru satu dua cangkul saja, nafasnya sudah terasa sesak. Bengek-nya kambuh. Kalau sudah begitu, tak ada orang lain yang menggantikannya kecuali istrinya sendiri, Bu Murtini.
Dan tibalah waktunya, saat suami Bu Murtini meninggal dunia, Bu Murtini yang menggantikannya, menggali liang lahat setiap kali ada penduduk di daerahnya meninggal dunia. Mulanya penduduk menyangsikan pekerjaan itu. Bahkan, sebagian penduduk melakukan protes secara sembunyi-sembunyi kepada Pak Haji Jamal.
"Saya rasa tidak pantas se- orang perempuan menggali liang lahat, Pak Haji! Di daerah kita ini banyak sekali laki-laki. Bahkan, yang menganggur tak terhitung jumlahnya," ujar salah seorang penduduk.
"Masalahnya bukan itu Pak. Bu Murtini sendiri sudah memohon-mohon sejak lama kepada saya. Agar pekerjaan menggali liang lahat yang biasa dilakukan suaminya itu ia yang mengambil alih. Sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap tanah pemakaman ini, saya tidak bisa menghalangi niat beliau, sepanjang ia mampu melakukannya."
"Tapi Pak Haji, apa bapak tak merasa kasihan melihat seorang perempuan menggali liang lahat...?!"
"Saya tak pernah mendengar Bu Murtini mengeluh akan pekerjaannya. Bahkan, belum lama ini dia datang ke rumah. Ia mengucapkan rasa terima kasih pada saya karena memberikan kepercayaan kepadanya untuk bisa melanjutkan pekerjaan suaminya menggali liang lahat di pemakaman umum kita."
Mendengar penjelasan Pak Haji Jamal, para penduduk tak pernah lagi mempertanyakan pekerjaan Bu Murtini menggali liang lahat. Bahkan, yang terjadi kemudian, orang-orang justru merasa takjub kepada sosok Bu Murtini si penggali liang lahat.
"Saya baru menyadari. Ternyata, Bu Murtini yang janda beranak tiga itu mampu membiayai diri dan anak-anaknya dengan pekerjaan menggali liang lahat!" puji salah satu penduduk yang dulu pernah memprotesnya.
*
Suatu hari Bu Murtini mendapat perintah menggali liang lahat untuk korban kecelakaan. Tiga orang meninggal sekaligus. Hal ini tentu memerlukan tiga buah liang. Dan ini bukan pekerjaan ringan. Selama ini Bu Murtini tak pernah menggali tiga lubang sekaligus. Pernah dalam sehari menggali dua buah liang, tetapi tidak sekaligus. Melainkan, menggali liang pada pagi dan sore hari. Dan hari ini ia harus menggali tiga buah liang lahat secara bersamaan.
Markum, anaknya yang kelas satu SMA, menawarkan diri untuk membantunya. Tapi, Bu Murtini tak mengizinkan.
"Tugasmu belajar, Kum! Lebih baik kamu pulang. Jaga adik-adik kamu!" hardik Bu Murtini.
"Hari ini kan libur sekolah, Bu. Lagi pula, bukankah ibu sedang tak enak badan?"
"Tidak apa-apa, Kum. Nanti juga ibu sembuh."
Sejak siang itu Bu Murtini menggali liang lahat untuk tiga jenazah. Anaknya yang hendak membantunya, malah disuruhnya pulang.
Bu Murtini pernah mendengar cerita dari putranya yang mulai menginjak remaja itu, bahwa ia kerap diejek oleh teman-temannya, karena ibunya seorang penggali liang lahat. Oleh karenanya, ia tak ingin ada teman anak putranya yang melihatnya tengah menggali liang lahat bersama dirinya. Biar saja ia yang menanggung malu.
"Sudahlah, Bu. Markum boleh membantu, yah..." putra tertuanya itu terus merengek.
"Jangan, Kum. Sana, nanti ibu marah nih...!"
"Ibu sanggup menggali tiga liang lahat sendirian...?!"
"Ibu sudah biasa, nak!"
Akhirnya Markum benar-benar pulang. Bu Murtini menggali liang lahat itu sendirian. Ketika itu gerimis turun membasahi bumi. Tanah pemakaman tak elak lagi basah oleh titik-titik hujan. Bu Murtini yang tengah demam tak ingin menghentikan pekerjaan. Ia khawatir terlambat menggali liang lahat itu. Ia tak mau ketiga jenazah itu terlambat dimakamkan. Ia tak mau reputasinya sebagai penggali liang lahat akan turun pamor. Kalau tiga liang lahat ini tidak ia selesaikan sesuai pesanan keluarga almarhum, ia bisa dikatakan tidak becus mengurus pekerjaannya.
Gerimis yang turun perlahan tiba-tiba berubah menjadi hujan deras. Bu Murtini yang baru menggali setengah dari ukuran liang itu tak menghiraukan derasnya hujan. Tetapi karena air memenuhi liang, akhirnya ia memutuskan untuk menghentikan penggalian. Menunggu hujan berhenti.
Ketika hujan perlahan reda, Bu Murtini kembali melanjutkan pekerjaannya. Pertama-tama menimba air hujan yang memenuhi liang itu dengan sebuah ember. Setelah kering, ia kembali menggalinya hingga benar- benar sesuai ukuran si jenazah. Hampir tiga jam ia menggali satu liang. Ia dicekam rasa takut manakala mengingat liang yang harus dibuatnya tiga buah.
Dua liang lagi yang harus ia buat. Setelah satu selesai, ia pun melanjutkan penggalian. Keringat bercampur air hujan membasahi pakaian yang melekat ditubuhnya. Setelah sekitar satu setengah jam menggali, ketika menoleh ke liang lahat yang telah ia gali, ia terperanjat. Karena liang lahat yang telah rampung itu tergenang oleh air. Ia pun terpaksa harus mengeringkannya lagi. Namun, hujan seolah tak bisa diajak kompromi. Bu Murtini ingin menangis, seperti langit yang juga seolah tengah menumpahkan airmatanya.
"Bu Murtini, ketiga jenazah hampir dimandikan. Apakah liangnya bisa selesai tepat waktu?!" suara seseorang terdengar di tengah rintik hujan. Ia Pak Hasan, seorang ahli kubur yang tertimpa musibah itu. Pak Hasan datang dengan membawa payung, mengabarkan keadaan jenazah pada Bu Murtini. Beliau ingin memastikan apakah liang lahat sudah siap atau belum.
"Baik Pak Hasan, pasti bisa. Satu setengah lubang lagi!" balas Bu Murtini, dengan suara yang amat ditegar-tegarkan.
Tak lama, hujan perlahan reda. Pak Hasan sudah tidak kelihatan. Bu Murtini agak sedikit tenang. Ia melanjutkan penggalian untuk liang lahat yang kedua yang sudah hampir setengahnya jadi. Tapi mendadak ia kehilangan tenaga. Terang saja. Energinya ikut terkuras karena harus mengeringkan air hujan yang menggenangi liang yang telah dibuatnya. Kini pikirannya menjadi terbelah. Di satu sisi tenaganya sudah mulai berkurang. Sementara ia harus dikejar-kejar waktu untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Namun Bu Murtini tak mau menyerah. Dan ia tentu tak boleh menyerah! Ketiga liang ini adalah hidupnya. Ia tak mau memanjakan kelelahan demi selesainya ketiga liang lahat ini. Ongkos sekolah Markum sudah menunggak dua bulan. Biaya ujian si Otong yang kelas dua SMP belum dibayar. Belum lagi tunggakan si kecil yang saat ini kelas empat SD! Ditambah lagi, untuk membeli beras sore ini. Tiga liang lahat akan menutup semua biaya itu. Sebab, terus terang saja, sudah seminggu ini ia tak menggali liang lahat. Dan sebenarnya, ia berbahagia menggali tiga liang lahat sekaligus. Meski pada kenyataannya, ia sungguh amat kelelahan seperti yang kini ia rasakan. Ia tersandar di dalam liang lahat yang digenangi air hujan.
Saat sisa-sisa tenaganya yang mulai berkurang karena harus mengeringkan liang yang tergenang, mendadak ia mendengar ribut-ribut dari atas liang yang sudah setengahnya ia gali. Tangan-tangan kecil mengorek-ngorek gundukan tanah merah, lantas dari dalam liang satunya lagi suara cangkul menderu- deru mendalami tanah!
"Markum! Otong! Cici! Ngapain kalian ke sini? Nanti kalian sakit!" Bu Murtini berteriak-teriak melihat ketiga anaknya yang tiba-tiba sudah berada di atas dan dalam liang lahat!
"Ibu istirahat dulu! Biar kami yang menggali sisanya!" balas Markum, sambil terus menggali liang lahat yang sudah setengahnya rampung.
"Markum! Ajak adik-adikmu pulang! Markum...!" Bu Murtini kembali berteriak, mengusir anak-anaknya menjauhi liang lahat. Ketiga anaknya tetap membandel. Mereka terus menggali, mengeruk, menceker-ceker tanah merah itu.
Setelah gagal mengusir ketiga anaknya, Bu Murtini pun terduduk lunglai di bibir liang lahat yang tengah dikeringkannya. Gerimis yang sebentar datang sebentar pergi benar-benar berhenti. Bu Murtini menyusuti keringatnya. Juga air matanya yang tiba-tiba kembali membuncah. Ia terharu melihat ketiga anaknya membantu menggali liang lahat itu. Perlahan-lahan tenaga Bu Murtini kembali bangkit. Ia tidak memarahi Markum, anak tertuanya menggali sisa liang lahat yang belum selesai itu. Membiarkan Otong dan si kecil menceker-ceker tanah merah. Lantas bangkit mengambil cangkul lainnya, menggali liang terakhir!
Melihat ibunya mulai menggali liang ketiga, Markum pun semakin semangat menggali sisa liang itu.
"Ibu, liang ini sudah hampir selesai! Tapi ada rembesan airnya!" teriak Markum, yang seluruh tubuhnya sudah tak kelihatan karena tertelan liang.
"Harus dikeringkan dengan ember, Kum! Lubang-lubang rembesan itu harus ditutupi tanah! Biar airnya tidak keluar!" jawab Bu Murtini.
Otong, anak keduanya yang kelas dua SMP, memberi gempal demi gempal tanah merah bekas galian kepada kakaknya. Gempalan tanah merah itu untuk menyumbat rembesan air yang menggenangi liang itu. Sementara tanpa dikomando, Cici yang masih kelas empat SD, membuat gempalan-gempalan tanah merah itu dengan tangan mungilnya. Entah mendapat pelajaran dari mana si kecil berbuat demikian. Bu Murtini melihatnya dengan terheran-heran. Lantas keharuan pun kembali menyelimuti perasaannya. "Anak-anak pintar! Dari mana kalian pelajari semua ini...!" bisik Bu Murtini dalam hati, sambil melanjutkan mengayuh cangkulnya mendalami tanah.
Satu jam kemudian Bu Murtini sudah berhasil menggali liang yang terakhir. Tentu dengan tenaga yang habis terkuras. Nafas ngos-ngosan. Tubuh penuh peluh dan basah keringat bercampur air hujan. Ditambah tetesan air mata haru yang berjatuhan dari kedua belah kelopak matanya.
Ketiga anaknya berteriak- teriak girang menyambutnya. Namun, mereka harus memapah ibu mereka karena tak lagi punya sisa tenaga untuk melangkah pulang...
*
"Terima kasih, Bu Murtini. Ibu telah menggali ketiga liang lahat itu tepat waktu!" ucap Pak Hasan yang menemui Bu Murtini di rumah gubuknya. "Tetapi kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami belum bisa membayar ibu sore ini. Saya kira ibu bisa memakluminya... kami kan orang tidak punya. Apalagi kami harus menanggung tiga nyawa sekaligus. Yang tentu membutuhkan banyak keperluan untuk mengurus ketiga jenazah..." demikianlah perkataan jujur Pak Hasan, selaku orang yang dituakan keluarga korban kecelakaan, yang merenggut tiga anggota keluarga itu pada Bu Murtini.
Bu Murtini medengarnya dengan senyuman, sambil meraba-raba senat-senut di persendian pinggangnya yang belum pulih benar. Setelah Pak Hasan pergi, ketiga anaknya datang mengerubungi sambil tertawa-tawa. Mereka kembali memijat-mijat kepala, kaki dan pinggang ibunya sambil sesekali bicara.
"Asyiiik! Besok Otong bisa bayar uang ujian ya, Bu!"
"Cici minta dibelikan boneka-bonekaan, yaaah..."
"Ssssttt...Sudah, sudah, jangan berisik! Semua pasti beres! Ya, bu, yah... Markum juga pasti bisa melunasi tunggakan sekolah!"
Bu Murtini tidak berkata- kata. Ia hanya mengangguk- angguk kepada ketiga anaknya sambil memperlihatkan senyum terpaksa.
Pamulang Barat, Banten, 2008