[BENGKULU] Kelangkaan pupuk bersubsidi di Bengkulu yang berkepanjang dapat mengancam target produksi padi tahun 2008 sebanyak 400.000 ton gabah kering giling (GKG) tidak dapat direalisasikan dengan baik. Pasalnya, jika kelangkaan pupuk tidak dapat diatasi segera produksi hasil panen padi petani akan anjlok.
"Kami sangat khawatir jika kelangkaan pupuk di Bengkulu tidak segera diatasi, hasil panen petani akan anjlok, akibatnya target produksi padi 2008 sebanyak 400.000 tidak dapat dicapai dengan baik," kata Kepala Dinas Pertanian Provinsi Bengkulu, Muchlis Ibrahim kepada SP, di Bengkulu, Sabtu (29/8).
Muchlis mengatakan, kelangkaan pupuk di Bengkulu hampir terjadi di semua daerah tingkat II yang ada di daerah ini. Akibatnya, para petani kesulitan untuk memupuk tanaman padinya karena stok pupuk di kios -kios pertanian setempat kosong. Padahal, tanaman padi petani saat ini sedang membutuhkan pupuk. "Saya benar cemas kalau kelangkaan pupuk di Bengkulu berlanjut target produksi padi tahun 2008 tidak dapat direalisasikan dengan baik," ujarnya.
Berkaitan dengan kelangkaan pupuk tersebut, Muchlis meminta pihak PT Pusri Bengkulu agar segera mengatasi kelangkaan pupuk di beberapa daerah tingkat II di Bengkulu, sehingga stok pupuk di kios -kios pertanian setempat kembali tersedia. Dengan begitu, petani yang membutuhkan pupuk dengan mudah memperolehnya di kios pertanian terdekat.
Sesuai Kebutuhan
Selain itu, harga pupuk bersubsidi di Bengkulu kembali stabil sebesar Rp 62.500 per karung isi 50 kilogram (kg). Dengan demikian, para petani dapat membeli pupuk sesuai kebutuhan, sehingga tanaman padi mereka dapat diberikan pupuk yang cukup. Saat panen nanti hasil yang diharapkan dapat direalisasikan.
Hingga saat ini petani di Kalimantan Barat (Kalbar) masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi, sehingga terpaksa membeli pupuk nonsubsidi. Petani mengetahui, pemerintah memberikan bantuan pupuk bersubsidi, namun hingga saat ini pihaknya lebih sering membeli pupuk nonsubsidi.
"Pada saat hendak membeli pupuk, selalu dikatakan bahwa pupuk bersubsidi habis dan belum datang. Karena terdesak akan kebutuhan pupuk, kami terpaksa membeli pupuk nonsubsidi dengan harga yang relatif mahal," kata Samaji (40), petani di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.
Dikatakan, biasanya pada musim hujan dan musim tanam seperti saat ini petani membutuhkan pupuk dalam jumlah besar. Namun, pada saat hendak membeli pupuk bersubsidi di toko selalu kosong. Dia berharap agar pemerintah dalam memberikan bantuan, langsung kepada petani. Jika melalui pihak lain, besar kemungkinan bantuan itu tidak sampai.
Lebih baik bantuan tidak diberikan, namun ketersediaan pupuk tetap terjamin dan pupuk tidak langka serta harga tetap terjangkau. Dengan demikian, petani tidak selalu berharap dengan pupuk bersubsidi, katanya.
Marjono, petani sawit di Pontianak mengatakan, pihaknya kesulitan mendapatkan pupuk. Sebab, selain harganya mahal, untuk mendapatkan pupuk bersubsidi juga sangat sulit. [146/143/148]