idak hanya ibu, tingkat kematian bayi di Indonesia juga masih relatif tinggi. Indikasinya terlihat dari setiap satu jam, sekitar 24 orang balita meninggal dunia atau 576 balita meninggal setiap harinya di negeri ini.
Fenomena itu terungkap dalam seminar Pemberian ASI Eksklusif dan maksimal dalam mendukung ibu untuk mendapatkan hasil emas (Anak yang berkualitas) dalam rangka peringatan pekan ASI sedunia di Aula Kantor Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Rabu (27/8).
Dalam seminar yang menampilkan pembicara, dokter spesialis anak dr A Praborini SpA IBCLC, anggota Perinatologi Indonesia (Perinasia) Cabang Sumbar, Gustina Lubis SpA (k) dan Ketua Perinasia Sumbar, Jusar Sulin itu terungkap, penyebab kematian bayi terbesar didasarkan fakta bahwa 40 persen dari 4,5 juta ibu melahirkan di Indonesia ternyata tidak menyusui bayinya secara maksimal. Sebagai gantinya, bayi diberi susu formula yang justru mempercepat kematian mereka.
Dokter Praborini mengatakan, secara ilmiah ASI sudah terbukti ampuh mengatasi serangan penyakit pada balita. asma, kanker atau pun gangguan jiwa pada anak, termasuk penyakit yang bisa dicegah jika sang ibu memberikan ASI eksklusif pada balitanya. Kenyataannya, banyak kasus ibu mengganti ASI dengan susu formula dengan berbagai alasan.
Padahal, selama 6 bulan pertama bayi harus diberikan ASI saja sebagai makanan utama. Barulah pada umur 6-12 bulan, komposisinya ditambah dengan makanan tambahan, namun tetap 70 persen ASI. Menurutnya, gencarnya iklan susu formula diyakini menjadi penyebab orangtua menghentikan pemberian ASI dan beralih pada susu formula.
Ketentuan WHO yang sudah diratifikasi Indonesia, melarang iklan susu formula untuk balita di bawah 2 tahun dan makanan tambahan bayi untuk usia 6 bulan. "Sudah ada larangan untuk itu, tapi tiap hari tetap saja kita saksikan iklan-iklan itu di televisi kita," keluhnya.
Di sisi lain, Gustina Lubis menyebutkan, pemberian ASI kepada balita bukan saja untuk mencegah balita terserang penyakit, tapi juga meningkatkan IQ anak. Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif, IQ nya lebih tinggi 14 pon dari yang tidak. Menurutnya, ASI memiliki kandungan yang kaya antibodi, banyak sel darah putih, pencahar, faktor pertumbuhan dan kaya vitaman A.
Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Rosnini Syavitri mengatakan, di Sumbar tingkat kesadaran ibu-ibu memberikan ASI kepada balitanya makin tinggi. Hasil survei gizi di Sumbar tahun 2004 mencatat, ibu yang memberikan ASI sampai 4 bulan adalah 19,3 persen. Jumlahnya meningkat menjadi 61,3 persen pada 2007.
Data UNICEF menyebutkan, kematian 30.000 bayi di Indonesia dan 10 juta kematian bayi di dunia setiap tahunnya bisa dicegah dengan pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan sejak lahir, tanpa memberikan makanan dan minuman tambahan. [BO/M-15]