Angka kematian ibu melahirkan di Indonesia masih tertinggi di negara ASEAN, yakni 248/100.000 kelahiran menurut Badan Pusat Statistik (BPS) 2006. Angka ini masih jauh dari target tujuan pembangunan millenium (millenium development goals/ MDGs), yakni hanya 125/100.000 kelahiran tahun 2015. Tidak hanya itu, angka kematian bayi di Indonesia, juga masih tinggi sekitar 24 balita meninggal setiap jam yang faktor penyebabnya antara lain, karena kekurangan gizi yang mendera negeri ini. Masalah ini disorot wartawan SP, Eko B Harsono dalam tulisan berikut.

SP/YC Kurniantoro
Sejumlah ibu sambil menggendong anaknya mendengarkan pengarahan dari relawan, di pengungsian Purbahayu, Pangandaran, Jawa Barat. Angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi, bahkan tertinggi di negara ASEAN.
ebih dari 300 perempuan yang tergabung dalam Aliansi Pita Putih Indonesia (APPI) sebuah organisasi yang terpanggil untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak itu, berkumpul di ruang auditorium Radio Republik Indonesia (RRI), di Jakarta, Minggu (24/8). Di antara mereka, tampak 57 ibu hamil dari kelompok masyarakat marginal yang mendapat pemberdayaan bagaimana menjaga kehamilannya oleh bidan Siaga (Siap Antar Jaga).
"Kami ingin mengampanyekan KIBLA, yaitu keselamatan ibu dan bayi baru melahirkan. Dua hingga empat jam pertama ibu melahirkan adalah saat yang rawan. Ini yang harus diketahui para ibu," ujar Presidium APPI, dr Sunitri Widodo dalam acara yang dihadiri Ketua Umum APPI, Dr Sri Hartati P Pandi, Direktur Utama RRI, Parni Hadi dan Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat.
APPI adalah suatu organisasi nonpemerintah yang peduli pada keselamatan ibu dan berdiri sejak tahun 1999. Organisasi ini hadir mengupayakan terhindarnya ibu dari kematian.
Menurut statistik tahun 2006, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia 255/100.000 kelahiran hidup, nomor 4 dari bawah di ASEAN sesudah Kamboja, Myanmar dan Laos.
Sesuai target millenium development goals (MDGs) angka kematian ibu di Indonesia tahun 2015 harus mencapai 125/100.000 kelahiran hidup.
Karena itu, perlu percepatan penurunan AKI melalui peran serta masyarakat. Identifikasi penyebab tidak langsung dari kematian ibu menunjuk pada kenyataan adanya tiga T, yaitu terlambat memutuskan, terlambat mencapai tempat pelayanan kesehatan, dan terlambat mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan.
Selain itu, ada 4 terlalu, yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, dan terlalu dekat jarak kelahiran.
Penurunan angka kematian ibu per 100.000 kelahiran bayi hidup masih terlalu lamban untuk mencapai target tujuan pembangunan millenium (millenium development goals/ MDGs) dalam rangka mengurangi tiga per empat jumlah perempuan yang meninggal selama hamil dan melahirkan pada 2015.
Pada 2006, sebanyak 536.000 perempuan meninggal dunia akibat masalah persalinan, lebih rendah dari jumlah kematian ibu tahun 1990 yang sebanyak 576.000. Menurut data WHO, sebanyak 99 persen kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran, terjadi di negara-negara berkembang.
Data resmi yang dimiliki Departemen Kesehatan menyebutkan, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia terus mengalami penurunan. Meski secara besaran angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi walaupun di sisi lain sudah terjadi penurunan dari 307/100.000 kelahiran hidup pada Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia/SDKI 2002/2003 menjadi 262/100.000 kelahiran hidup.
"Pada tahun 2007 laporan BPS menyebutkan AKI menjadi 248/100.000 kelahiran," ujar Sumardi dari Biro Informasi dan Penerangan Departemen Kesehatan kepada SP di Jakarta, Selasa (26/8).
Dibanding dengan angka kematian ibu di negara tetangga, seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura, maka Indonesia memang masih cukup jauh tertinggal, karena Singapura sudah 6/100.000 dan angka itu boleh dikatakan sebagai suatu keadaan yang sangat ideal. Pada tahun 2009, diharapkan pemerintah mampu menurunkan AKI menjadi 226/100.000 kelahiran hidup, dan angka kematian bayi baru lahir (AKBBL) 15/1000 kelahiran hidup (KH) pada tahun 2009.
Penyebab kematian ibu, sesuai penelitian beberapa pihak, paling banyak adalah akibat pendarahan, dan penyebab tidak langsung lainnya seperti terlambat mengenali tanda bahaya karena tidak mengetahui kehamilannya dalam risiko yang cukup tinggi, terlambat mencapai fasilitas untuk persalinan, dan terlambat untuk mendapatkan pelayanan.
Selain itu, terlalu muda punya anak, terlalu banyak melahirkan, terlalu rapat jarak melahirkan, terlalu tua punya anak, dan kurangnya partisipasi masyarakat, karena tingkat pendidikan ibu masih rendah, tingkat sosial ekonomi ibu, kedudukan wanita dalam keluarga masih rendah, dan sosial budaya tidak mendukung.
Termasuk kurangnya akses ibu bersalin terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas, yang disebabkan penyebaran tempat pelayanan kesehatan yang belum optimal, kualitas dan efektivitas pelayanan kesehatan ibu belum memadai, sistem rujukan kesehatan maternal belum mantap, dan lemahnya manajemen kesehatan di berbagai tingkat.
Upaya yang dilakukan untuk percepatan penurunan AKI di antaranya adalah adanya kebijakan making pregnancy safer (MPS) dengan tiga pesan kunci dan empat strategi.
Rasio kematian ibu di negara-negara berkembang merupakan yang tertinggi dengan 450 kematian ibu per 100.000 kelahiran bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio kematian ibu di sembilan negara maju dan 51 negara persemakmuran "Terlebih lagi, rendahnya penurunan angka kematian ibu global tersebut merupakan cerminan belum adanya penurunan angka kematian ibu secara bermakna di negara-negara yang angka kematian ibunya rendah.
Artinya, negara-negara dengan angka kematian ibu tinggi belum menunjukkan kemajuan berarti dalam 15 tahun terakhir ini," ujar Sunitri.
Perkiraan angka kematian ibu WHO menunjukkan bahwa sementara peningkatan terjadi di negara dengan pendapatan menengah, penurunan angka kematian ibu selama periode 1990-2005 di Sub-Sahara Afrika hanya 0,1 persen per tahun.

Tertinggi ASEAN
Sedangkan Ketua APPI, Sri Hartati P Pandi mengungkapkan, angka kematian ibu hamil, melahirkan dan menyusui 30 tahun lalu, masih di atas 600 per 100.000 kelahiran. Saat ini, angka kematian ibu, sudah bisa diturunkan menjadi sekitar 300-an per 100.000 kelahiran.
Meski demikian, kalau dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, angka kematian ibu di Indonesia masih berada pada ranking tertinggi di ASEAN, bahkan mungkin saja di dunia. Karenanya, terasa sekali bahwa nasib para ibu belum mendapat perhatian yang wajar.
Dengan angka kematian ibu sekitar 300 - 350 per 100.000 kelahiran itu, jumlah ibu Indonesia yang meninggal dunia, karena peristiwa mengandung, melahirkan dan menyusui setiap tahunnya masih bisa mencapai 16.000 sampai 18.000 jiwa setahunnya. Ini berarti setiap bulan masih ada sekitar 1.300-an sampai 1.500-an ibu di seluruh Indonesia meninggal dunia atau dua orang ibu meninggal setiap satu jam.
"Padahal, kematian ibu itu bisa dicegah apabila kita semua memberikan perhatian yang wajar kepada para ibu yang sedang mengandung dan melahirkan," ujarnya. Di negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singa-pura, bahkan Vietnam yang baru saja terlepas dari belenggu perang yang panjang, dalam hal kematian ibu hamil dan melahirkan keadaannya jauh lebih baik.
Sudah lama negara-negara seperti Malaysia dan Singapura mempunyai tingkat kematian ibu mengandung dan melahirkan di bawah angka 10 per 100.000 kelahiran, hampir sama dengan keadaan di negara-negara maju lainnya.
Dikatakan, program keluarga berencana (KB) yang telah berhasil mengajak pasangan usia subur untuk mengatur kehamilan dan kelahiran anak-anaknya harus makin dikembangkan, dan pasangan muda yang rawan untuk mengatur kelahiran anaknya dengan ikut KB dengan baik.
"Para petugas kesehatan dan bidan di desa harus makin rajin dan mampu "menjemput bola", mendatangi mereka yang sedang mengandung dan meminta mereka agar rajin memeriksakan dirinya ke klinik dan memberikan mereka cara-cara merawat kehamilannya agar bisa melahirkan dengan selamat," tukasnya.
Perhatikan Rakyat Banyak
Sedangkan, Parni Hadi menilai para suami dengan keluarga dan warga sekitarnya harus memberikan perhatian yang lebih besar kepada istri-istri yang sedang mengandung dan siap siaga untuk memberikan bantuan apabila diperlukan. "Mereka harus bisa segera membawa ibu yang akan melahirkan ke klinik yang terdekat demi keselamatan ibu yang bersangkutan," tukasnya
Kelanjutan program-program itu harus bisa memanfaatkan arus reformasi yang marak dan sistem komunikasi terbuka yang luar biasa. Para pemimpin daerah seperti bupati dan wali kota diharapkan bisa mengisi reformasi dengan program-program yang menguntungkan rakyat banyak.
Program-program itu harus bisa merangsang masyarakat luas untuk mengembangkan secara mandiri kelanjutan program-program yang lebih berhasil, tetapi dengan arahan yang lebih efisien dan mandiri. Dikatakan, program-program masyarakat itu harus diarahkan pada daerah-daerah yang justru belum banyak berhasil, misalnya tingkat fertilitasnya masih tinggi, pasangan usia suburnya yang masih belum banyak ber-KB atau daerah-daerah yang fasilitas kesehatannya masih sangat minimal. *