
SP/Ignatius Liliek
Pekerja menurunkan tabung gas tiga kilogram di SPBU 34.128.06, Jalan Dr Soepomo, Jakarta, Kamis (28/8). Untuk memudahkan masyrakat mendapatkan gas, setiap hari di SPBU ini menyediakan 300 tabung gas tiga kilogram dan 200 tabung 12 kilogram dengan harga Rp 15.000 untuk tabung gas tiga kilogram dan Rp 76.000 untuk tabung gas 12 kilogram.
enaikan harga tabung elpiji isi 12 kg memicu warga beralih menggunakan tabung gas isi 3 kg. Harga tabung warna hijau muda ini pun melonjak. Jika di awal-awal konversi dari minyak tanah ke gas, harga tabung bisa diperoleh seharga Rp 100 ribu berikut kompornya, kini untuk harga tabung kosong isi 3 kg mencapai Rp 250 ribu tanpa kompor. "Banyak yang beralih ke tabung gas hijau isi 3 kg, wajar kalau harganya naik," ujar Fajar, pengecer elpiji di Medang Pagedangan Legok.
Menurut dia, selisih harga isi tabung gas 3 kg dengan tabung gas 12 kg sebesar Rp 12 ribu. Untuk isi tabung 3 kg dijual seharga Rp 16 ribu naik dari sebelumnya Rp 15 ribu. Sedangkan tabung 12 kg Rp 76 ribu. Sehingga untuk 4 kali pengisian isi 3 kg mencapai Rp 64 ribu sehingga terdapat selisih harga Rp 12 ribu.
Kenaikan isi tabung gas ini membuat warga masyarakat terutama kalangan ibu resah. Pasalnya, kenaikan harga gas elpiji tersebut berbarengan dengan harga sembako yang belakangan terus merangkak naik. "Kami bingung, menjelang bulan Ramadan ini semua naik. Padahal baru-baru ini kita juga dipusingkan dengan memasuki ajaran baru sekolah karena banyak pengeluaran untuk membeli perlengkapan sekolah," ungkap Aini, warga perumahan Kunciran, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang.
Ibu dari satu orang anak ini mempertanyakan apakah sebelum menaikkan harga elpiji pemerintah pusat tidak melakukan survei terlebih dahulu bagaimana penderitaan masyarakat saat ini. "Kenaikan ini menambah kesengsaraan masyarakat, apalagi menjelang bulan puasa harga sembako sudah mulai naik," kata Ayu.
Hal senada juga diungkapkan Purwaningsih, warga Perumahan Pakualam Jaya, Kabupaten Tangerang. Menurutnya, kenaikan harga elpiji menambah berat beban hidupnya. Sebab, kata ibu dua anak ini uang belanja yang diterima dari suaminya tidak bertambah. "Walaupun kebutuhan mengisi gas elpiji sebulan sekali, sangat memberatkan karena harga sembako terus beranjak naik," katanya Purwaningsih.
Sementara Wawan, karyawan agen gas elpiji PT Metro Mandiri di Jl Raya Merdeka, Kota Tangerang menyatakan pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa. Namun demikian, mereka berharap menjelang Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri nanti Pertamina tidak mengurangi stok pengiriman gas.
"Setiap hari kami selalu mendapatkan kiriman 600 unit tabung untuk ukuran 12 kg dan 250 tabung untuk ukuran 3 kg, Jumlah tersebut selalu habis karena sudah mempunyai pelanggan," ucapnya.
Disinggung tentang kelangkaan gas elpiji, menurut dia, sampai sejauh ini tetap normal. "Biasa saja, tak ada kelangkaan. Hanya saja banyak ibu rumah tangga mengeluh akan kenaikan gas elpiji oleh pemerintah. Itu saja," pungkasnya.
Rindu Minyak Tanah
Kenaikan harga elpiji membuat sebagian besar ibu-ibu ada yang rindu ingin kembali menggunakan minyak tanah. Namun mereka menemui kesulitan mendapatkan pasokan minyak tanah. Saat ini, di kawasan Kecamatan Pagedangan maupun Legok harga minyak tanah di tingkat agen dijual Rp 9.000 per liter, sedangkan di tingkat eceran mencapai Rp 11.000 per liter.
"Bagaimana tidak mahal, untuk mendapatkan 50 liter saja sulit sekali," kata Obe, pedagang eceran minyak tanah di Pasar Medang.
Sementara itu, Wawan (50), pengecer gas di Gondrong, Cipondoh, Kota Tangerang mengaku sejak diumumkannya kenaikan harga gas ia dapat menjual tabung gas isi 3 kg sebanyak 15 buah. Padahal, sebelum kenaikan, ia hanya dapat menjual sekitar 8 tabung. Meski demikian, penjualan tabung 12 kg masih stabil.
"Warga yang bermukim di perumahan umumnya tidak terpengaruh mengganti tabung isi 3 kg, jadi kenaikan ini tidak terlalu terpengaruh," katanya.
Hal yang senada diungkapkan oleh Lalan (40), pengecer gas di Ciputat, Tangerang. Kendati kenaikan terjadi, penjualan gas 3 kg dan 12 kg relatif stabil karena ia telah memiliki langganan tetap. "Saya memasok gas-gas ke restoran," tuturnya.
Namun, hal yang berlainan terjadi pada Yuni Indrawati (47), pengecer gas di Kreo, Ciledug, Kota Tangerang. Menurutnya, pascakenaikan, penjualan gas 12 kg anjlok. "Hampir tidak ada yang beli gas 12 kilogram. Semuanya beralih ke tabung gas isi 3 kg," tutur Yuni. [132]