
ekerja dari pagi hingga ke pagi hari lagi, tentu bukan perkara mudah. Apalagi jika pekerjaan itu adalah sebagai penjemput mayat. Tak hanya kantuk dan lelah yang harus dilawan, rasa takut pun harus mampu dikuasai. Itulah yang diakui Rohman, seorang petugas penjemput dan pengangkat mayat dari kantor pelayanan pemakaman Provinsi DKI Jakarta, di Jakarta Barat. Dalam seminggu, Rohman mengaku menerima tugas piket satu hari. Selama piket ia harus bertugas selama 24 jam penuh, dari jam 8 pagi hingga jam 8 pagi keesokan harinya.
Seperti malam itu, Rohman telah bekerja sejak pagi. Jika tidak sedang bertugas, pria berusia 26 tahun ini biasanya berkumpul bersama rekan-rekannya di dekat mobil-mobil ambulans yang diparkir atau berkumpul bersama sejumlah wartawan yang sedang menunggu berita. "Kami ngumpul-ngumpul sambil nunggu panggilan, kalau-kalau ada mayat yang harus dijemput," jelasnya.
Menurut Rohman, jika sedang piket, ia dan rekan-rekannya harus siap dipanggil kapan pun. Tugas yang harus mereka jalani tak sebatas menelusuri wilayah Jakarta Barat, tapi seluruh Jakarta. Tak jarang ketika jam telah merangkak ke dini hari, panggilan tugas itupun datang. "Kadang kami harus ngambil mayat pemulung yang meninggal di areal pekuburan. Biasanya, mereka meninggal karena sakit, atau mayat-mayat di tempat lain," katanya.
Mayat-mayat yang ia jemput, dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Tak hanya menjemput, Rohman juga mengaku terkadang bertugas memandikan mayat yang akan dibawa pulang pihak keluarga. Untuk jasa itu, ia tak menetapkan tarif, penghasilan yang ia peroleh hanya berdasarkan tip dari keluarga. "Terkadang ada juga keluarga yang minta supaya jenazah keluarganya kami mandikan. Jadi saat dibawa pulang sudah bersih," ujarnya.
Rasa takut, kata Rohman, tak pernah ia rasakan, saat melihat mayat-mayat yang dijemputnya. Ia pun mengaku tak merasa jijik, meski terkadang mayat yang harus diangkatnya dalam kondisi telah membusuk, lantaran baru ditemukan lewat dari satu minggu. "Saat mengangkat mayat yang sudah busuk juga saya tidak ada perasaan jijik atau takut. Sebab, sudah biasa," kata Rohman seraya cepat-cepat meminum habis kopinya, karena seorang temannya meneriakkan bahwa sesosok mayat menunggu mereka untuk segera dijemput. [Y-6]