SUARA PEMBARUAN DAILY

Indonesia-Malaysia Tak Bermasalah

SP/Elly Burhaini Faizal

Ketua EPG Indonesia Jenderal (Purn) Try Sutrisno (kiri) dan Ketua EPG Malaysia Tun Musa Hitam (kanan) dalam pembukaan pertemuan pertama Eminent Persons Group (EPG) Indonesia-Malaysia, Jumat (29/8).

[JAKARTA] Ketua Eminent Persons Group (EPG) Malaysia, Tun Musa Hitam berpendapat hubungan antara pemerintah maupun rakyat Indonesia dan Malaysia, sebenarnya tidak ada masalah. Persoalannya, kemajuan ataupun kemunduran yang mewarnai kedekatan hubungan Indonesia-Malaysia lebih disebabkan oleh perbedaan pendekatan, yang cepat tersebar melalui media massa sehingga menciptakan persepsi dan pemahaman yang sangat beragam di antara kedua negara.

"Perbedaan persepsi semakin menguat ketika kedua negara tengah mengalami proses politik yang dikenal sebagai demokrasi," ungkap Tun Musa Hitam, politisi Malaysia yang juga bekas Wakil Perdana Menteri Malaysia di era kepemimpinan PM Mahathir Mohamad, dalam pembukaan Pertemuan Pertama EPG Indonesia-Malaysia, Jumat (29/8).

Tun Musa Hitam mengatakan perbedaan pendekatan yang dimungkinkan terjadi dalam hubungan sedemikian dekat antara Indonesia-Malaysia hendaknya tidak ditanggapi secara reaktif. "Puncak masalahnya yang harus dibenahi," kata Tun Musa Hitam, dalam sambutan yang disampaikan bersama-sama Ketua EPG Indonesia Jenderal (Purn) Try Sutrisno.

Sejumlah anggota EPG Indonesia lain ikut hadir dalam pertemuan tersebut, yakni mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas, mantan Menteri Agama Quraish Shihab, Des Alwi Abubakar (sejarawan), Musni Umar (sosiolog), Wahyuni Bakar, dan Prudentia MPSS. Dari Malaysia, turut hadir Jenderal (Purn) Tan Sri Dato' Seri Mohd Zahidi Haji Zainuddin, Prof Tan Sri Dr Khoo Kay Kim, Tan Sri Abdul Halim Ali, Tan Sri Amar Dr Haji Hamid Bugo, Datuk Dr Syed Ali Tawfik Al-Attas, Datuk Seri Panglima Joseph Pairin Kitingan.

Diungkapkan, signifikansi pembentukan EPG Indonesia-Malaysia yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi di Kuala Lumpur, Malaysia pada 7 Juli 2008 merupakan pengakuan pertama kalinya oleh kedua negara yang menyadari bahwa pada praktiknya hubungan kedua negara terkadang tidak sejalan dengan yang diharapkan.

"Hubungan Indonesia-Malaysia sudah terjalin begitu lama. Berbagai aspek sentimen dan kultural kedua pihak diharapkan dapat membantu memperkokoh kedekatan hubungan kedua negara," kata Tun Musa Hitam. "Tetapi, kenyataannya kedua negara telah berjalan dengan cara-caranya sendiri. Sehingga, terjadi perbedaan pendekatan," ia menandaskan.

Di tempat yang sama, Ketua EPG Indonesia Jenderal Try Sutrisno berharap keberadaan EPG Indonesia-Malaysia dapat ikut membangun hubungan masa depan yang gemilang di antara kedua negara. [E-9]


Last modified: 30/8/08