SUARA PEMBARUAN DAILY

20 Tahun GKI dan Tugas Panggilannya

Agus Wiyanto

Agus Wiyanto

Pada 20 tahun lalu, Suara Pembaruan, edisi Jumat 26 Agustus 1988 menulis: tiga sinode masing-masing GKI Jabar, GKI Jateng, dan GKI Jatim resmi menyatukan diri menjadi Gereja Kristen Indonesia yang disingkat GKI.

Upaya penyatuan gereja sebenarnya telah dirintis jauh sebelumnya, sejak 27 Maret 1962, yang dipelopori oleh pemimpin gereja yang berpikir luas, terbuka dan sadar untuk menggalang kesatuan yang lebih luas. Bentuk penyatuan masih bersifat "federatif" yang tampak dengan adanya satu liturgi minggu dan buku nyanyian bersama. Buah kesatuan organisasi yang utuh dengan penggunaan satu Tata Gereja GKI, dimulai sejak 26 Agustus 2003, bertepatan dengan HUT ke-15 GKI.

GKI telah berusia 20 tahun, lalu sekarang apa yang harus dilakukan? Puas diri karena langkah perjalanan panjang telah selesai, buah kerja keras sudah dinikmati (kini Tata Gereja GKI sedang diamendemen, dengan memasukkan beberapa hal-hal baru yang ditata lebih sistematis, Red)? Atau mendorong menggapai puncak baru dengan tantangan baru yang lebih rumit lagi? Meminjam istilah Paul G Stoltz, Adversity Quotient, mengubah hambatan menjadi peluang ada 3 kelompok pemain: quitter, camper, dan climber. Quitter adalah mereka yang mempunyai semangat dan ambisi besar yang menyala-nyala untuk naik ke atas gunung, tetapi karena hambatan yang ada, mereka merasa tidak mampu mendaki gunung.

Mereka menyerah di perjalanan. Camper adalah lebih baik dari qiutter, semula mereka punya ambisi dan cita-cita yang tinggi, namun setelah berjalan separuh, dengan tenaga yang terkuras, mereka lalu berpuas diri, karena telah naik gunung. dan menemukan sebuah lembah yang nyaman di sana, mereka kemudian mendirikan kemah guna mencari keteduhan, dan lupa pada tujuan semula. Climber adalah mereka yang mempunyai hasrat besar menaklukkan gunung, meskipun ada hambatan dan kesulitan yang ada mereka tidak pernah menyerah, bahkan terus berhasrat memperbesar kemampuan untuk memberikan kontribusinya, dengan cara mengolah dan mengembangkan seluruh potensi yang ada, untuk mencapai puncak gunung. Sebagai climber, penyatuan GKI seharusnya mendorong terwujudnya Gereja Yang Esa di bumi Indonesia. Itu adalah tugas raksasa, seperti puncak gunung baru yang harus didaki.

Pengalaman dan sukses menyatukan 3 gereja GKI menjadi modal yang berharga untuk menggapai tujuan berikutnya. Penyatuan GKI jangan hanya berhenti menjadi tujuan pada diri sendiri. GKI sebagai salah satu elemen dari masyarakat yang ada, GKI mempunyai kekuatan dan peluang serta mempunyai kesempatan yang sangat luas untuk berperan serta menjadi mitra Allah yang menghadirkan damai sejahtera Allah di bumi Indonesia.

Seperti tertuang dalam misinya: mengembangkan spiritualitas yang berpusat pada hubungan yang hidup dengan Allah. Melaksanakan kesaksian dan pelayanan di tengah masyarakat dan memperjuangkan perwujudan keesaan gereja dan persaudaraan umat manusia.

Kekuatan GKI ada di bidang ekonomi, ada kesadaran memberi di antara anggotanya, akuntabilitas penatalayanan dalam bidang sarana dan prasarana, adanya nilai positif terhadap materi dan tersedianya berbagai sarana dalam bidang persekutuan dan kesaksian dan pelayanan.

Menurut data BPS, pengangguran terdidik mencapai 4.516.100 dari 9.427.600 orang, 50,3 persen masuk kategori pengangguran terbuka pada Februari 2008. Mereka adalah lulusan SMA, SMK, diploma dan universitas. Rendahnya daya adaptasi lulusan sekolah formal memenuhi tuntutan pasar kerja menjadi persoalan baru yang harus diatasi.

Dalam penyatuan GKI, saya masih bermimpi, kapan akan tercapai penyatuan yang lebih luas dalam wadah yang sama, misalnya dahulu GKI Jateng dibesarkan satu rahim dengan Gereja Kristen Jawa, atau GKI Jatim dengan Gereja Kristen Jawi Wetan, dan GKI Jabar dengan Gereja Pasundan. Tapi itu baru mimpi pribadi di tengah lelapnya tidur saya semalam...

Penulis adalah pendeta GKI Cinere.


Last modified: 29/8/08