SUARA PEMBARUAN DAILY

Harga Tidak Akan Naik Selama Puasa

Harga Elpiji 12 Kg Rp 140.000

[JAKARTA] Pemerintah menjamin harga gas LPG tidak akan naik selama bulan puasa. Untuk memenuhi permintaan yang meningkat selama bulan puasa, Pertamina akan mengontrol harga serta pasokan gas di pasar, termasuk melakukan impor sebagai langkah antisipasi.

Wakil Dirut Pertamina, Iin Arifin Takhyan dan Dirjen Minyak dan Gas Departemen ESDM, Evita Legowo, menyampaikan hal itu seusai rapat koordinasi persiapan Lebaran di kantor Kementerian Perekonomian di Jakarta, Jumat (29/8).

Namun, fakta di lapangan, harga elpiji di sejumlah daerah sudah melambung tinggi, dua hari menjelang puasa. Di Kalimantan Tengah (Kalteng), Sabtu (30/8), harga elpiji 12 kg meroket hingga Rp 140.000/ tabung.

Kenaikan ini, menurut para pengecer, dipicu oleh ke- bijakan Pertamina pusat yang menaikkan harga dari Rp 56.000 menjadi Rp 69.000/ tabung, ditambah kenaikan biaya angkut akibat pengaruh kenaikan bahan bakar minyak (BBM).

Di Muarateweh, Ibukota Kabupaten Barito Utara (Barut), harga elpiji 12 kg mencapai Rp 140.000/tabung. Udin (37), pengecer gas elpiji di Jalan Langsat, Muarateweh kepada SP melalui telepon, Sabtu mengatakan, harga sebelumnya Rp 110.000/tabung. Tetapi, setelah kenaikan harga di pusat, mereka juga menaikkan harga sampai Rp 30.000/tabung.

Wahyu Adiansyah (34), salah seorang pengecer gas elpiji di Jalan S Parman, Kota Sampit, Ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kepada SP, Sabtu mengatakan, dia menaikkan harga elpiji 12 kg dari Rp 70.000 menjadi Rp 112.000/tabung, setelah Pertamina pusat menaikkan harga.

Syukransyah (31), pedagang makanan di Jl HM Arsyad Sampit, mengatakan, mereka terpaksa menggunakan elpiji, akibat mahalnya minyak tanah yang saat ini mencapai Rp 6.000 per liter. Namun, selama dua bulan terakhir ini, harga gas justru makin meningkat, sementara harga jual makanan tetap tidak berubah.

"Tidak mungkin kami menaikkan harga jual makanan, bagaimanapun kebijakan itu sangat merugikan orang kecil seperti kami ini," katanya.

Bupati Barito Utara, Ir Achmad Yuliansyah kepada SP, Sabtu mengakui, kenaikan harga elpiji ukuran 12 kg dan 50 kg memberatkan masyarakat di daerah itu, karena harga sebelumnya sudah melambung. Pasokan elpiji sebagian besar berasal dari Balikpapan, Kalimantan Timur dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, kini masih terbatas.

"Meski harganya tinggi, namun tetap diburu masyarakat. Tidak ada pilihan lain. Kondisi ini berat, apalagi mendekati bulan puasa, yang akan diikuti kenaikan harga sembako," katanya.

Di Kota Medan, Sumatera Utara, harga eceran elpiji 12 kg minimlah Rp 75.000. "Harga Rp 75.000 tergolong standar. Di tempat lain jauh lebih tinggi," kata Anan (48), pengecer elpiji di Jl Jemadi, Kecamatan Medan Timur, kepada SP, Sabtu.

Dia yakin, kalau harga elpiji terus-menerus naik, konsumen akan kembali ke minyak tanah. "Sepertinya, pemerintah kurang merespon keluhan masyarakat, membiarkan kenaikan harga elpiji tersebut. Kami harap, pemerintah segera turun tangan agar dapat membatalkan kenaikan harga tersebut," ujar Julheri (40), salah seorang warga Sukaramai Medan.

Melonjak

Sementara itu, Wakil Dirut Pertamina, Iin Arifin Takhyan menjelaskan, harga elpiji 12 kg selama ini masih disubsidi oleh Pertamina. Dengan kenaikan harga minyak mentah dunia, harga gas juga ikut melonjak sehingga perlu dilakukan penyesuaian.

"Kita perlu melakukan penyesuaian. Tapi untuk bulan puasa dan Lebaran kali ini tidak akan ada lagi kenaikan," ujar Iin.

Pertamina juga berjanji akan mengontrol harga, baik di tingkat agen maupun pengecer. Iin menegaskan, sejauh ini stok elpiji sangat cukup.

Menurut Evita, stok elpiji per 29 agustus 2008 diperkirakan mencapai 114.662 metrik ton (MT). "Dengan pemenuhan kebutuhan 5.778 MT/hari, stok tersebut dapat bertahan hingga 20 hari," ujar Evita.

Pertamina akan menyediakan kebutuhan elpiji dengan kapasitas 3 kg, 12 kg, dan 50 kg. Oleh karena itu, akan dilakukan operasional dan domestik nonstop 24 jam, untuk bongkar-muat serta penambahan ketahanan stok, dengan melakukan impor 6 kargo yang masing-masing berisi 2.500 MT pada September 2008. [AHS/106/153/D-10]


Last modified: 30/8/08