ulan Ramadan tahun ini akan jatuh pada September 2008. Sebagaimana biasanya, tanggal jatuhnya awal Ramadan baru diumumkan secara resmi oleh pemerintah sehari sebelum Ramadan tiba. Tibanya bulan Ramadan, saat untuk menyucikan diri dan mendekatkan diri kepada Sang Ilahi.
Ramadan tiba, berarti masa puasa sebulan penuh telah tiba. Puasa dalam bulan Ramadan bukan hanya tidak makan dan tidak minum, tapi bagaimana kita bisa mengekang hawa nafsu yang selalu ingin membawa manusia melakukan perbuatan dosa. Godaan, cobaan yang ingin menjerumuskan manusia kepada dosa, tidak akan berkurang pada bulan Ramadan. Bahkan manusia dituntut untuk lebih kuat lagi mengendalikan diri menghadapi cobaan dan godaan yang intensitasnya makin kuat di bulan Ramadan.
Sebagai warga negara yang baik di negara yang penduduknya menganut berbagai agama ini, kita yang tidak ikut menjalankan ibadah puasa, harus bisa menunjukkan rasa hormat kita kepada saudara-saudara kita yang berpuasa. Kita harus bisa membuat suasana yang kondusif, agar saudara-saudara kita tidak terganggu ibadah puasanya.
Menghormati orang berpuasa bukan hanya dengan tidak makan dan minum di tempat terbuka. Lebih dari itu, kelakuan kita di jalan raya yang bisa membangkitkan emosi orang lain atau perbuatan-perbuatan tidak baik lainnya, yang secara sadar atau tidak kita lakukan, sehingga membuat orang lain menjadi emosi, sehingga puasa batal, harus kita hindari.
Begitu juga dengan partai politik yang saat ini sudah mulai memasuki masa kampanye. Hindari kampanye-kampanye yang bisa menimbulkan emosi, sehingga mengganggu mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa. Jika berkampanye dengan melaksanakan buka puasa bersama, tarawih bersama, atau sahur bersama, khususnya dengan rakyat yang tidak mampu, tentu akan menimbulkan rasa simpati.
Pemerintah juga harus menjaga suasana Ramadan ini dengan tidak melakukan pemadaman listrik yang tentunya akan sangat mengganggu. Begitu juga dengan suplai bahan pokok, jangan sampai rakyat mengalami kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok. Semua harus direncanakan dengan baik, sehingga masyarakat bisa menjalankan ibadah puasa dengan khusuk, tidak perlu antre.
Penggusuran para pedagang atau permukiman penduduk hendaknya dihentikan selama bulan puasa. Bisa kita bayangkan, bagaimana mungkin menjalankan ibadah puasa, sementara tempat mereka berjualan atau rumah mereka digusur. Keamanan juga harus dijaga dengan meningkatkan patroli di lingkungan perumahan atau di seluruh bagian kota, sehingga selama bulan puasa ini tingkat kriminalitas bisa ditekan ke tingkat serendah mungkin.
Kita semuanya berharap saat memasuki bulan puasa seperti sekarang ini ada rasa aman dalam setiap diri masyarakat Indonesia. Bukan hanya aman dari kejahatan, tetapi aman dalam segala hal, termasuk mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang stabil.
asa pembagian bantuan langsung tunai (BLT) tahap pertama akan berakhir Agustus 2008. Setelah itu, pemerintah menyalurkan BLT tahap kedua, mulai September mendatang. Data menunjukkan, penyaluran BLT tak bisa dilaksanakan sesuai target. Pemerintah berencana membagi BLT untuk 19,1 juta keluarga miskin yang disebut sebagai rumah tangga sasaran (RTS).
Data Departemen Sosial menunjukkan, hingga Senin (25/8/2008) daya serap BLT di 33 provinsi baru mencapai 79,97 persen. Dari 19,1 juta RTS, dengan BLT Rp 100.000 per bulan yang diberikan sekaligus untuk tiga bulan (Juni-Agustus), yang menerima baru 15.208.816 RTS dengan nilai Rp 4,562 rriliun. Berarti Rp 1 triliun lebih dana belum diserap.
Bagi kita, pencapaian di atas membuktikan pemerintah tidak memiliki rencana matang untuk mengurangi beban rakyat miskin melalui BLT. Program itu dirancang karena kepanikan pemerintah menghadapi demonstrasi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Tak heran bila sejumlah kalangan menentang BLT. Program populis dengan memberikan "ikan" dinilai hanya memanjakan dan membuat rakyat miskin hanya menjadi pengemis. Tetapi, pemerintah bergeming. BLT tetap dilanjutkan selama empat bulan ke depan, bahkan diusulkan untuk diperpanjang tiga bulan lagi, hingga Maret 2009.
Pemerintah seharusnya berlapang dada menerima kritik menyangkut BLT. Bagi kita, BLT wajar diterima para lanjut usia atau penyandang cacat. Tetapi, bagi penduduk usia produktif, BLT akan membuat mereka bermental pengemis dan lebih suka membiarkan tangannya berada di bawah daripada di atas.
Sebetulnya, pemerintah memiliki sejumlah program pemberdayaan masyarakat yang dikelola berbagai departemen. Misalnya, Program Pemberdayaan Kecamatan (PPK) dan Program Pembentukan Kelompok Usaha Produktif. Sayangnya, program-program itu relatif tak menyentuh 19,1 juta RTS. Sebagian besar penerima BLT masuk dalam kelompok usia produktif yang seharusnya diberdayakan.
Untuk itu, kita mendorong departemen-departemen yang memiliki program pemberdayaan masyarakat mengalihkan sasarannya kepada 19,1 juta penerima BLT. Kita khawatir dana yang disediakan di departemen hanya dinikmati segelintir orang yang dekat dengan pemerintah. Apalagi, sejauh ini tidak ada transparansi dan pertanggungjawaban yang jelas atas dana yang disalurkan lewat departemen. Selain itu, program-program tersebut tumpang-tindih, sehingga harus dievaluasi secepatnya. Menko Kesra harus membereskannya sebelum akhir tahun ini.
Dana BLT tahap kedua Rp 7,64 triliun memang sudah siap disalurkan. Meski banyak mendapat tentangan, rasanya sulit membatalkannya, sehingga pembagian BLT terpaksa dilanjutkan, sambil pemerintah menata berbagai program pemberdayaan masyarakat. Sedangkan untuk BLT tiga bulan pertama tahun depan, hendaknya diurungkan saja, apalagi berdekatan dengan pelaksanaan Pemilu 2009. Tudingan politik uang dari lawan-lawan politik pasti menjadi tak terkendali dan jelas menyudutkan incumbent.
Untuk itu, kita mendesak pemerintah membatasi program BLT hanya sampai 2008. Ke depan, seharusnya pemerintah lebih cerdas merancang program pengentasan orang miskin. "ikan" memang perlu, tetapi yang lebih penting adalah memberikan "kail".