SUARA PEMBARUAN DAILY

Integritas

Timur Citra Sari

Malam sudah lumayan larut. Jalanan yang lengang menggugah kita untuk memacu cepat kendaraan. Ah, betapa senangnya kalau pada siang hari jalanan bisa selapang ini. Kecepatan kendaraan kita meningkat dengan cepat. Tapi, eh, lampu lalu-lintas di perempatan depan sana sudah berwarna kuning. Spontan kaki kita menginjak rem. Kendaraan kita pun mulai melambat. Tapi (lagi), tunggu dulu, kelihatannya tidak ada kendaraan lain di sekitar perempatan tersebut. Jalanan betul-betul kosong. Kalau begitu, kenapa kita mesti berhenti hanya karena sebuah lampu yang menyala merah? Bukankah kita bisa saja terus melewatinya? Kaki kita beranjak mencari injakan gas. Apakah kita akan menginjaknya? Atau kita memilih berhenti dan mengikuti peraturan yang berlaku?

Pada kesempatan yang berbeda, karena lapar, kita asyik menikmati camilan yang sempat kita beli sepulang kantor. Lumayan, sekadar pengganjal lapar di tengah kemacetan parah yang selalu terjadi. Camilan itu tentu saja segera habis. Tinggal membuang bungkusnya. Sejenak kita melirik situasi sekitar. Ada tisu bekas di dekat mobil di depan kita. Kelihatannya dibuang oleh pengendara mobil itu. Serakan sampah lain juga terlihat di sana dan sini. Kalau begitu, menambah satu buah sampah lagi tidak akan berpengaruh banyak, bukan? Tangan kita menekan tuas pembuka jendela. Sungguhkah kita akan membuang sampah ke jalan seperti orang lain? Atau kita memilih untuk membuangnya ke tempat sampah di rumah nanti?

*

Integritas, demikian diungkapkan salah satu definisi, adalah seperti apa kita saat tidak ada orang lain di sekitar kita. Atau kata salah satu definisi lainnya, integritas adalah satunya kata dan perbuatan kita. Misalnya, saat diwawancarai media massa dengan lantang kita mengatakan betapa korupsi adalah perbuatan tercela yang merugikan negara dan rakyak banyak, dan karenanya para koruptor harus mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya. Namun, setelah media massa berlalu dari hadapan kita, tanpa sungkan kita menggelembungkan dana sekian persen daripada yang seharusnya!

Atau sebagai contoh lain: dalam rapat-rapat kita selalu tampil bijak dan berwibawa. Dengan gaya bicara terhormat dan terpelajar kita telah memukau banyak orang. Tapi, sebagaimana kemudian terungkap, di balik semua kesempurnaan tersebut, di belakang semua orang yang mengagumi dan menghargai kita, ternyata kita melakukan pelecehan seksual pada salah seorang bawahan kita! Astaga!

Diakui atau tidak, menjalani hidup dengan dua (atau lebih) wajah yang berbeda bukan hal yang mengejutkan kita. Bukankah kita terbengong-bengong saat mengikuti kasus Veri Idham Henyansah alias Ryan? Bayangkan, seorang pemuda yang terlihat lembut dan santun bisa mengakui telah menghilangkan sekian banyak nyawa! Bukankah pula kita tercengang- cengang saat menyaksikan betapa seorang atlet justru menjadi pengguna narkoba! Padahal mestinya para atlet adalah kelompok masyarakat yang relatif paling sehat, dan karenanya amat-sangat mengerti untuk tidak bersentuhan dengan narkoba!

Lalu, agar kita tidak hanya piawai menudingkan jari pada para koruptor, atau Ryan, atau para pengguna narkoba, mari lihat hidup kita sendiri. Bukankah saat di gereja kita kerap menampilkan diri sebagai pasutri (pasangan suami-isteri) paling romantis, sekaligus juga sebagai orangtua teladan? Padahal, begitu sampai di rumah, begitu yang tersisa hanya kita dan anak-anak, jangankan bersikap saling romantis, bahkan pertengkaran dengan bonus saling melempar barang menjadi bagian dari perjalanan bersuami- istri. Pula, jangankan menjadi teladan bagi anak, betapa memberi teladan buruk justru menjadi keseharian kita sebagai orangtua!

*

Tentu saja sejumlah pakar dan pengamat perilaku manusia bisa memberikan penjelasan dan argumen bagi kecenderungan kita untuk menjalani hidup - bahkan sudah menjadi gaya hidup lho! - sebagai pribadi yang bermuka-dua. Sebagai bentuk pertahanan diri, katanya, adalah salah satu alasan kita untuk menjadi orang yang berbeda ketika berada di rumah dan di kantor. Sebab, bukankah kalau kita tidak cerdik memainkan karakter dan kepribadian kita, bisa-bisa kita dikucilkan dari pergaulan kantor, plus tidak mendapatkan promosi yang berimbas pada kenaikan gaji? Wah, padahal, kalau ini sampai terjadi, bisa-bisa kelangsungan hidup kita sekeluarga jadi terancam. Alhasil, mau tidak mau, kita terjun dalam arena permainan bermuka-dua!

Namun, dalam perkembangan selanjutnya, tampil bermuka-dua tidak lagi semata sebagai upaya kita mempertahankan diri, melainkan telah berkembang menjadi sungguh-sungguh kepribadian kita yang sebenarnya. Maksudnya, kita akhirnya menjadi orang-orang yang di mana saja dan kapan saja bisa menjadi siapa saja serta berlaku apa saja demi tercapainya tujuan kita.

Dan, sekalipun hal ini terdengar positif (kedengarannya seperti seorang yang fleksibel dan supel dalam bergaul serta bersosialisasi), orang-orang seperti ini bisa membahayakan diri-sendiri dan juga lingkungan sekitar. Misalnya saja jika ia tampil sebagai seorang suami setia di rumah, tapi di luar rumah ia berselingkuh dengan perempuan lain. Demikian pula bisa saja ia terlihat sebagai seorang ibu yang menyanyangi anak-anaknya, tapi pada pihak lain ia tanpa ragu-ragu menyiram pembantu rumah tangganya dengan air panas, plus memukulinya hingga babak-belur.

Seorang pekerja dengan kepribadian seperti ini bisa saja pada satu sisi terlihat ramah dan penuh perhatian terhadap rekan-rekannya. Namun, pada sisi yang lain, semua informasi dan berita yang didapatnya karena keramah-tamahannya dipakai untuk menjatuhkan rekan-rekannya. Atau, warga jemaat yang terlibat dalam nyaris segala kegiatan di gereja, juga terlihat sangat saleh dan rajin, tapi keluarganya hidup dalam ketakutan terhadapnya karena ia kerap mengamuk jika keinginannya tidak dituruti. Ya ampun!

*

Tentu saja bukan kepribadian seperti ini yang Tuhan kehendaki ada pada kita. Menjadi satu tubuh dengan dua kepribadian yang berbeda sama-sekali bukan rencana Tuhan saat Ia menjadikan kita. Itu sebabnya Tuhan mengingatkan kita melalui Surat Rasul Paulus kepada Timotius. Firman-Nya, "Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu...." (1 Timotius 4:16) Bagi Tuhan, "diri" Timotius sama pentingnya dengan "ajaran" yang disampaikan Timotius. Tuhan tidak ingin Timotius menampilkan diri yang berbeda dengan yang diajarkannya. Sebab, menurut Tuhan, "... dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau."

Menyadari bahwa umat-Nya hidup dalam dunia yang akrab dengan menjadi pribadi bermuka-dua, Tuhan menegaskan tentang pentingnya mempertahankan gaya hidup berintegritas dengan mengatakan, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2)

Yuk, mengembangkan gaya hidup berintegritas!

Soli Deo Gloria!


Last modified: 30/8/08