
[JAKARTA] Tokoh muda sudah saatnya muncul ke panggung politik dalam persaingan menjadi pemimpin bangsa. Angkatan muda harus ikut berkompetisi secara sehat dengan cara masuk ke sistem, yakni dunia politik dan berupaya merebut kursi kepemimpinan karena singgasana itu bukan merupakan pemberian melainkan harus direbut.
Untuk itu, parpol yang ada saat ini sudah sepantasnya memunculkan calon pemimpin muda. Beberapa tokoh muda yang sekarang ini cukup dikenal dan punya kemampuan untuk menjadi pemimpin bangsa, antara lain Chairul Tandjung, Pramono Anung, Anis Baswedan, Roy Sembel, Yuddy Chrisnandi, dan Yenni Wahid.
Menurut Rektor Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Prof Dr Donald A Rumokoy SH MH, Kamis (31/7), secara konstitusional siapa pun berhak mencalonkan diri sebagai presiden selama memenuhi persyaratan yang ditetapkan konstitusi dan peraturan perundangan lainnya.
Mengenai layak-tidaknya para tokoh muda untuk memimpin bangsa ini, Donald lebih menekankan pentingnya pengalaman mereka. "Mereka setidaknya harus mempunyai pengalaman yang memadai, terutama dalam struktur kenegaraan, sehingga layak dipromosikan dan mampu bersaing dengan tokoh-tokoh yang terhitung tidak muda lagi," ujar dia.
Dia menyayangkan sistem politik saat ini yang masih terkesan memarginalkan para calon muda, khususnya yang berasal dari partai politik kecil. Untuk itu, para calon muda yang berasal dari partai-partai kecil maupun calon independen, harus bekerja keras dan berupaya menyesuaikan diri dengan sistem politik saat ini.
Ia menyarankan calon pemimpin muda harus tetap menjaga prestasi kerja mereka dan tidak mudah terjerumus dalam hal-hal yang kontraproduktif, yang mampu mempengaruhi masa depannya.

Belum Ikhlas
Partai-partai politik (parpol) di Indonesia masih belum ikhlas memberi kesempatan kepada kalangan muda untuk tampil menjadi pemimpin bangsa. Salah satu indikasinya terlihat dari kebijakan parpol dalam penetapan daftar calon anggota legislatif (caleg) yang masih didominasi nama-nama kaum tua. "Ini karena para pemimpin parpol masih haus kekuasaan, masih mau menikmatinya, dan merasa kekuasaan tak perlu dibagi. Padahal sikap itu berakibat buruk bagi masa depan kepemimpinan bangsa," ujar Yuddy Chrisnandy, anggota Fraksi Partai Golkar (FPG) DPR kepada SP Kamis (31/7).
Dia tak memerinci parpol-parpol mana saja yang enggan menampilkan kaum muda. Partai Golkar sendiri, diakui Yuddy, juga belum memiliki keikhlasan menampilkan pemimpin muda. "Di Golkar banyak sumber daya pemimpin muda tapi kelihatannya belum tampak keikhlasan menampilkan para pemimpin muda tersebut menjadi presiden ataupun wakil presiden," katanya.
Menurutnya, 70 persen pemilih di Indonesia berusia di bawah 50 tahun.
Artinya kalangan pemilih muda sudah pasti akan lebih mendukung pemimpin-pemimpin muda yang masih segar untuk memimpin bangsa ke depan. "Parpol yang tidak peka dengan aspirasi kaum muda akan ditinggalkan pendukungnya," kata Yuddy.
Menurutnya, jika kepemimpinan ke depan masih didominasi kaum tua, maka perubahan akan berjalan lambat di Indonesia. "Ketidakpercayaan rakyat juga semakin meningkat, juga mempertajam kecemburuan kalangan muda dan melahirkan tuntutan ketidakpuasan pada pemimpin tua yang dinilai telah gagal memimpin bangsa ini," ujarnya.
Sedangkan, Ketua DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, menyatakan se- orang presiden harus benar-benar dipersiapkan secara matang. Hal itu tidak bisa muncul tiba-tiba dan perlu ada masa transisi yang dijalankan.
Menurutnya, kaum muda memang banyak yang memadai serta berkualitas. Kalau mereka diberi kesempatan untuk "berlatih" terlebih dahulu pada 2009 sampai 2014, mereka akan siap berkompetisi, karena kualitasnya telah teruji. "Orang muda sekarang belum ada yang layak untuk menjadi pemimpin negara. Seorang pemimpin harus berkualitas dan layak secara pribadi maupun layak politik. Wilayah politik merupakan sisi realitas yang menjadi pertimbangan. Hal itu ditambah dengan dukungan penuh dari parpol," ujar Anas ketika dihubungi SP, di Jakarta, Kamis (31/7).
Anas menambahkan orang yang terbaiklah yang menjadi pemimpin nasional, yaitu presiden. Presiden sekarang membawa gerbong untuk kaum muda dalam jumlah yang cukup memadai, sekaligus mempersiapkan kader-kader untuk 2014. Dengan demikian, transisi kepemimpinan akan berjalan baik dan produktif.
"Saya bisa saja deklarasikan diri menjadi presiden, tetapi hal ini tidaklah realistis. Nanti ada waktunya. Aspirasi internal Partai Demokrat sudah jelas memilih yang terbaik, yaitu SBY," tegas Anas. [128/WWH/HDS/A-16]